
"Mungkin ya, kita berbohong sebagai pasangan. Tapi.. perasaan sayang aku sama kamu itu benar adanya," jawab Riland seraya menatap mata Melisa dalam-dalam.
Mata Melisa membola dan kedua bibirnya terbuka. Ia melihat tak percaya pada Riland dengan tatapan mata kosong, seolah jiwanya melayang meninggalkan raganya.
"Mel ?" Tanya Riland. Bahkan ia harus menjentikkan jarinya agar Melisa kembali ke alam sadarnya.
Melisa pun mengerjapkan matanya dan kembali pada kenyataan. "Hahahaha," Melisa tertawa hambar karena terpaksa.
"Kok ketawa ?" Riland berkerut alis tak paham.
"Ba- Bapak bercanda kan ?" Tanya Melisa.
"Hahahaha," Melisa kembali tertawa, dan ia hanya terpaksa melakukannya.
Riland yang melihat itu berpangku tangan sambil terheran.
"Lu- lucu kok,. Pak. Walaupun sebenarnya aku gak ngerti bercandaannya Bapak," sahut Melisa serba salah.
"Terus tadi ketawa-ketawa cuma biar gak dipecat gitu ? Biar kesannya menghargai saya, gitu ?" Tanya Riland beruntun.
Melisa menganggukkan kepalanya membenarkan. "Iya," ucapnya polos.
Riland menghela nafasnya, lalu melangkahkan kakinya mendekati Melisa. Ia angkat dagu gadis itu agar melihat padanya.
Melisa terkejut dengan apa yang Riland lakukan, tapi ia juga tak mampu untuk menolaknya. Hingga kini pandangan mata mereka saling bertemu dan terkunci.
"Aku gak bercanda," kata Riland dengan mimik wajahnya yang serius.
"Hah ?" Melisa bergumam pelan, dan bibirnya menjadi sedikit terbuka karena itu.
Mata Riland tertuju pada bibir itu, ia hampir saja lupa dengan kalimat berikutnya yang akan diucapkan.
"Aku gak bercanda," ulang Riland.
"Aku tahu, kamu pasti gak akan percaya kalau aku bilang sayang sama kamu. Baiklah kita mulai pelan-pelan... Aku suka kamu," kata Riland lagi dan ia mengatakannya dengan perlahan hingga Melisa bisa mendengarnya dengan jelas.
"A- apa ?" Tanya Melisa tak percaya, bahkan ia harus menelan ludahnya sendiri dengan susah payah karena saking terkejutnya.
"Aku suka sama kamu, Mel. Suka layaknya laki-laki dewasa pada wanita. Bukan suka karena kamu karyawan yang baik," jelas Riland.
Melisa merasa jika dirinya berada di alam mimpi. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Melisa ingin menyangkal tentang semua ini, tapi sayangnya Riland mengatakan itu semua sembari menatap matanya dalam hingga Melisa tak melihat kebohongan di sana.
"Pasti itu membuatmu terkejut, tapi apa yang aku rasakan adalah sebenarnya. Im falling in love with you.. aku jatuh cinta sama kamu,"
Melisa masih terdiam membisu. Kata-kata yang ingin ia ucapkan tercekat di tenggorokan.
"Melihatmu bersama Raya, membuatku tersiksa karena rasa cemburu. Aku tahu yang akan aku katakan ini sangatlah jahat, tapi aku senang kamu berpisah dengannya. Karena dengan begitu, aku bisa mendekatimu dan menjadikan kamu milikku. Apa kamu mau kasih kesempatan itu ?"
"Hah ?" Melisa masih tak bisa mengontrol dirinya.
"Berikan aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku," pinta Riland.
Seandainya Riland tahu, dia tak perlu meminta karena Melisa pun sudah memiliki rasa yang sama. Bahkan gadis itu telah lebih dulu jatuh cinta. Ia menyukai Riland dari pertama kali bertemu. Rasa itu tumbuh semakin besar setiap harinya dan tak pernah sekalipun pergi dari hatinya. Walaupun Melisa pernah berhubungan dengan Raya, tapi nyatanya hanya Riland yang menjadi pemilik hati gadis itu.
"Mel ? Kamu mau nerima aku ?" Tanya Riland, matanya menatap kian dalam dan menuntut sebuah jawaban.
"Ta-tapi bagaimana dengan Mona?" Tanya Melisa takut-takut.
Riland pun tersenyum, "kamu lihat kan, tadi dia ada ? Dan keluargaku gak heboh karena aku bawa kamu sebagai calon istri. Jika Mona memang benar-benar tunanganku, seharusnya kedua orangtuaku menolak kehadiranmu. Tapi nyatanya tidak kan ?"
"Tentu saja mereka tak marah, karena aku dan Mona tak pernah bertunangan. Itu hanya...,"
"Loh kalian di sini ?" Tanya mama Riland yang tiba-tiba datang. Membuat lelaki itu melepaskan jempolnya dari dagu Melisa dan ia juga tak sempat menyelesaikan kalimatnya.
" Pacarannya nanti saja ! sekarang udah waktunya makan siang. Semua orang nunggu kalian berdua," jelas mama Riland dan ia tak mau dibantah.
"Yuk, Mel," wanita paruh baya itu menggandeng tangan Melisa dan membawanya pergi. Meninggalkan Riland seorang diri dalam keadaan tanpa kepastian, karena Melisa belum Juga menjawab pernyataan cintanya. Tak ada yang bisa Riland lakukan selain mengikuti langkah kedua wanita tersebut.
Di taman belakang, setiap orang telah duduk di kursinya masing-masing. Termasuk Mona yang duduk bersama ibunya. Gadis itu menatap sinis dan dingin pada Melisa yang tangannya digandeng oleh mama Riland.
"Ternyata mereka lagi mojok berduaan di dalam," ucap mama Riland pada setiap orang yang tengah menunggu kedatangannya.
Mendengar itu, wajah Melisa terasa panas. semburat merah menghiasi kedua pipinya. "Ngh.. nggak begitu," Sahut Melisa malu.
"Ish gak apa-apa, namanya juga anak muda," potong sang mama.
"Tapi jangan keseringan ! Karena jika kalian berduaan, yang ketiga itu adalah setan. Kamu jangan mau kalau Riland merayu," lanjut sang Mama dengan logat bahasa Sunda yang sangat kental.
"Jangan mau kalau Riland minta nananinu, tunggu sampai kalian nikah dulu," bisiknya pada Melisa hingga mata gadis itu membola.
"A- aku- " Melisa gelagapan, sedangkan Riland terlihat biasa saja karena ia tak mendengarnya.
"Udah jangan dipikirkan, ayo duduk dan makan,"
Melisa pun mendudukkan tubuhnya di atas sebuah kursi kosong yang telah disediakan untuknya. Lalu, Riland menyusul di sebelahnya. "Mama aku ngomong apa sampai kamu kaget begitu ?" Bisik Riland.
Melisa menggelengkan kepalanya pelan. "Gak ada apa-apa kok," jawabnya bohong. Tak mungkin bukan jika ia mengatakan yang sebenarnya pada Riland.
"Kak Mel, celananya cukup ?" Tanya adik perempuan Riland yang ternyata duduk tepat di hadapannya..
"Ah ya, cukup. Terimakasih," sahut Melisa sambil tersenyum lembut padanya.
"Syukurlah kalau begitu," ucapnya lagi. Tapi, setelah itu sang adik tak lagi mengajak Melisa berbicara karena ia mulai sibuk menyendok makanan ke atas piring seorang pria.
Pria itu masih muda, mungkin seusia dengannya. Ia terlihat rapi dalam balutan kemeja kotak-kotak dan potongan rambut cepak. Dari bahasa tubuh keduanya, Melisa yakin jika pria itu adalah kekasih adik perempuannya Riland.
"Anggap rumah sendiri, Mel. Jangan malu-malu," mama Riland kembali berbicara karena ia melihat Melisa masih berdiam diri, belum juga menyendok makanan ke atas piringnya.
Melisa pun tersenyum dan segera memilih apa saja yang diinginkannya untuk makan siang. Suasananya begitu hangat, semuanya saling melemparkan canda juga tawa saat makan siang itu berlangsung. Hingga Melisa tak merasa canggung.
***
Melisa tengah menikmati aneka buah potong saat seorang gadis yang dikenalnya datang menghampiri. Kebetulan Melisa sedang berdiri seorang diri sambil memperhatikan banyak tanaman bunga milik mama Riland.
Sedangkan bosnya yang hot itu tengah bercengkrama dengan kerabatnya yang lain. Sesekali ia mencuri pandang pada Melisa untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Karena sedari tadi Melisa banyak dikerubuni oleh saudaranya yang bertanya soal konten iklan mereka.
Kata mereka, iklan yang dibintangi Riland dan Melisa bikin baper. Dan mereka juga merasa senang karena ternyata keduanya benar-benar berhubungan. Melisa yang mendengar itu hanya bisa tersenyum pasrah. Ia tak bisa menyangkal dan juga tak berani membenarkan.
"Jangan senang dulu," ucap seorang gadis yang tiba-tiba berdiri di sebelah Melisa. Siapa lagi jika bukan Mona.
Melissa pun tolehkan kepalanya, melihat ke arah suara.
"Asal kamu tahu, Riland gak benar-benar suka kamu. Dia cuma gak mau nikah buru-buru makanya bawa kamu ke sini seolah-olah pacarnya," lanjut Mona, padahal Melisa tak mengajaknya berbicara.
"Kamu lihat gadis itu? Dia adiknya Riland yang sebentar lagi akan menikah. Mama Riland yang cerewet tak mau anaknya dilangkahi, oleh karena itu Riland tadinya mau dijodohkan denganku. Tapi, ternyata laki-laki itu tak mau dijodohkan, Riland masih mau main-main. Pada akhirnya Mama Riland setuju membatalkan perjodohan kami, dengan syarat Riland harus mempunyai calon sendiri. Jadi dia membawamu sebagai kedok saja. Hanya untuk mengelabuhi ibunya," jelas Mona.
"Jadi... Kamu jangan baper sama Riland, dia cuma manfaatin kebodohan kamu saja. Wanita kaya aku aja dia gak mau, apalagi yang seperti kamu. Lihat sendiri kan Riland tuh kaya ? Gak mungkin suka sama kamu yang biasa-biasa saja. Percaya deh sama omonganku...," Mona menepuk pundak Melisa sebelum ia pergi. meninggalkan Melisa yang langsung terdiam.