The Hot Boss

The Hot Boss
Hancur



"Aku cinta kamu, Mel. Kalau kamu mau, aku bisa ninggalin mereka demi kamu,"


"Hah ?" Melisa terperanjat. Ia sangat terkejut dengan apa yang Raya ucapkan padanya.


Semuanya terjadi dengan tiba-tiba. Kedatangan tunangan Rilland dan kini Raya menyatakan cinta padanya ? Sungguh tak pernah terbersit sedikit pun tentang Raya. Dalam pikiran Melisa hanya dipenuhi oleh Rilland seorang.


Bahkan dengan lancangnya Melisa seringkali membayangkan bagaimana jika ciuman pertamanya itu akan diambil Rilland.


Ya...


Karena konten 'The Hot Boss' itu membuat Melisa benar-benar terbawa perasaan kepada bosnya itu. Pikiran Melisa akan travelling ke mana-mana Jika ia melihat Rilland.


Melisa adalah seorang gadis yang beranjak dewasa. Sebagai wanita normal ia seringkali mengkhayalkan bagaimana manisnya berbagi kasih dengan Rilland. Dari cara yang mesra hingga cara yang paling mesoom tapi tentunya itu hanya berada dalam khayalannya saja tak ada seorangpun yang tahu tentang rahasianya.


Oleh karena itu Melisa merasakan patah hati dengan hebatnya saat seorang gadis bernama Mona datang ke toko dan mengaku sebagai tunangan Rilland. Tak ada yang tahu jika di dalam sana hati Melisa hancur berkeping-keping.


Belum juga Melisa pulih dari sakit hatinya kini datang Raya yang tanpa angin dan tanpa sebab menyatakan cinta kepada dirinya. Sungguh Melisa belum siap dengan ini semua.


"Mel, ngomong dong bilang sesuatu sama aku," desak Raya karena Melisa hanya terdiam membisu.


"Aku harus ngomong apa?" Tanya Melisa seperti orang linglung.


"Katakan padaku bahwa kamu pun memiliki perasaan yang sama," pinta Raya.


Melisa tolehkan kepala dan menatap lelaki itu dengan tatapan mata memelas karena ia tidak memiliki perasaan cinta pada Raya.


"Aku udah suka Kamu sejak dulu, sejak kita sama-sama di bangku sekolah. Aku selalu perhatiin kamu dari jauh. Jadi please tolong kasih aku kesempatan buat cintai kamu," ucap Raya sedikit memaksa.


"Tapi...,"


"Please beri aku kesempatan,Mel... Aku benar-benar suka sama kamu," potong Raya.


Bukannya Melisa tak ingin memberikan kesempatan kepada lelaki itu tapi Melisa sadar jika dirinya hanya mencintai Rilland seorang. Hati dan kepala Melisa sudah dipenuhi Rilland Hingga ia tak menginginkan lelaki lainnya.


"Tuh kan Rilland, aku masih cinta sama kamu walaupun kamu udah punya tunangan," batin Melisa dalam hatinya. Ia menggigit bibir bawahnya ketika memikirkan itu semua.


Yang Melisa lakukan malah membuat Raya semakin gemas pada gadis yang berada di sampingnya itu.


"Jangan lakukan itu, Mel. jangan goda aku," ucap Raya saat ia melihat Melisa menggigit bibir bawahnya.


"Hah ?" Melisa berkerut alis tak paham.


"Jangan gigit bibir bawah kamu seperti itu," cicit Raya dengan pandangan matanya yang mulai meredup.


"Aku tidak sedang menggodamu, Aku sedang memikirkan sesuatu,"


"Mikirin aku ?" tanya Raya sambil mengulum senyumnya. Ia akan sangat senang sekali Jika memang itu yang terjadi.


Melisa menjadi salah tingkah,  tidak mungkin ia mengatakan pada lelaki itu bahwa saat ini yang ada dalam kepalanya adalah Rilland sang bos.


"Aku nggak tahu apa yang kamu pikirin tapi... please... tolong pikirkan tentang perasaan aku ini," ucap Raya kembali memohon pada Melisa.


"Raya... Aku...."


"Jangan jawab sekarang, tapi aku akan menunggunya," potong Raya.


"Dan kalau kamu tidak menyukai teman-temanku itu, Aku akan berusaha untuk menjauh dari mereka," lanjutnya lagi.


"Tapi mereka sahabatmu, aku nggak berhak melakukan itu," sahut Melisa.


"Kalau kamu menerima perasaan cintaku, akan aku lakukan apapun untukmu, Mel "


Melisa begitu frustrasi saat ini, tak tahu apa yang seharusnya ia katakan pada Raya. Ingin menolak pun rasanya percuma karena Raya terus mendesaknya.


"Baik akan aku pikirkan," jawab Melisa pada akhirnya.


***


Raya mengantarkan Melisa ke tokonya dan terlambat 10 menit dari waktu yang seharusnya.


Malas-malas Melisa melangkahkan kakinya itu memasuki toko dan ia menemui Leah yang tengah berdiri di belakang meja kasir.


"Its oke, tadi Rilland pesankan makan siang untuk kita berdua jadi aku tak usah beli makan siang lagi," jawab Leah.


Dapat Melisa lihat di atas meja yang tak jauh dari tempat Leah berdiri terdapat dua bungkusan kantong plastik yang bertuliskan nama restoran yang cukup terkenal di kota Bandung.


"Apa yang terjadi di hari ini sungguh mengejutkan, " ucap Lea menyinggung tentang kedatangan tunangan bosnya itu.


"Aku benar-benar enggak nyangka ternyata Rilland sudah punya tunangan. Padahal aku tak pernah mendengar dia mempunyai seorang kekasih," lanjut Leah kemudian.


Sebenarnya Melisa tidak ingin membahas masalah itu lagi. Hatinya belum siap untuk menerima kenyataan bahwa sang bos ternyata sudah punya gandengan.


"Pantas saja selama ini Rilland tidak pernah tergoda olehmu, Mel,"


Ucapan Leah semakin membuat perasaan Melissa tak karuan. Apa yang Leah katakan semakin meremukkan hati Melisa yang telah patah.


Melisa tak menanggapi, yang ia lakukan hanya memaksakan senyum di bibirnya lalu ia berpura-pura memeriksa makanan yang ada di dalam kantong untuk mengalihkan perhatian Leah.


Melisa melongok ke dalam ruangan lainnya guna mencari keberadaan Rilland tapi ternyata bosnya itu tak ada di sana.


"Rilland ke mana ?" Tanya Melisa.


" Tadi dia keluar dengan membawa mobil tapi nggak bilang mau ke mana," ucap Leah dengan mengerdikkan bahunya tanda tak tahu.


"Mungkin keluar untuk ketemu dengan tunangannya yang cantik itu," lanjut Leah.


"Ya Tuhan..." Gumam Melisa hampir tak terdengar. Ia begitu tersiksa dengan apa yang terus Leah ucapkan padanya.


"Tadi gimana makan siang sama Raya ?" tanya Leah.


"hah ? Raya? Ya begitu saja, nothing spesial," jawab Melisa malas seolah-olah tak bernafsu untuk membicarakan hal tentang Raya.


"Kamu sebaiknya makan siang dulu, biar aku yang giliran jaga toko," Melisa berusaha mengalihkan perhatian Lea dari Rilland juga Raya.


Leah pun menurutinya, karena dirinya pun memang sudah merasa sangat lapar. "Oke, aku makan dulu ya. Kamu mau gak ?"


"Aku masih kenyang "jawab Melisa Padahal tadi siang pun dia menghabiskan makan siangnya hanya sedikit saja karena Ia merasa tidak bernafsu untuk melakukan apapun termasuk makan. Kejadian tadi tentang Rilland benar-benar mempengaruhi moodnya.


***


Hingga hampir petang Rilland tak juga menunjukkan batang hidungnya lelaki itu pergi entah ke mana. Melisa yang masih dirundung rasa galau terus-menerus memikirkan laki-laki itu.


Leah sadar jika temannya itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja tapi ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Melisa. "Mel beli es kopi di cafe depan toko gih, biar segeran," titah Leah pada Melisa yang terus bermuram durja.


"Aku traktir deh," lanjut Leah.


Melisa mengangguk pelan menyetujui. Benar apa yang dikatakan Leah mungkin segelas es kopi dapat membantu untuk mengembalikan moodnya.


Ia pun berjalan menuju sebuah coffee shop yang letaknya tak jauh dari toko pakaian milik Rilland. Tak butuh waktu lama Melissa pun sudah sampai di tempat tujuan. "Selamat datang, "ucap salah seorang pelayan di sana.


Melisa langsung berjalan menuju meja kasir dan memesan dua es kopi yang akan dibawa pulang. "1 es es kopi tiramisu, dan satu lagi macchiato," pesannya pada pelayan itu.


"Ok, tunggu sebentar ya Kak,"


Sambil menunggu pesanannya selesai Melisa berdiri sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan ia melihat ada beberapa orang yang duduk-duduk di dalam coffee shop itu.


Mata Melisa berhenti saat ia melihat dua orang yang dikenalnya. Salah satunya amat sangat Melisa kenal yaitu Rilland sang boss yang ternyata sedang duduk bersebelahan dengan seorang perempuan bernama Mona yang  tadi mengaku sebagai tunangannya.


Deg !!


Tiba-tiba Melisa terdiam mematung di tempatnya berdiri. .


Merasa diperhatikan Mona pun menolehkan kepalanya dan melihat ke arah Melisa hingga pandangan mata mereka bertemu.


Mona melengkungkan senyum miring  di bibirnya, lalu tanpa aba-aba ia mendekati Rilland dan membelai pipi lelaki itu dengan telapak tangannya hingga wajah lelaki itu tertoleh padanya. Mona meraih wajah Rilland dan menyatukan bibir mereka dengan sempurna.


Melisa hanya bisa melihat itu dari kejauhan. Hatinya yang patah kini semakin hancur saja.


To be continued