
Aroma maskulin khas pria dewasa menguar dari tubuh tinggi tegap Riland. Otot bisepnya yang tak berlebihan itu menyembul seksii dari lengannya. Saat ini Riland mengenakan atasan kaos polos hitam, karena jaketnya ia gunakan sebagai pelindung Melisa dari air hujan.
Masih dengan merangkul erat pundak Melisa, Riland lebih dulu mengantarkan gadis itu ke pintu mobilnya. "Are you good ?" ( Udah nyaman ?) Tanya Riland memastikan pada Melisa yang sudah duduk manis di bangku penumpang.
"Hu'um," jawab Melisa sambil mengangguk pelan.
Lalu Riland menutup pintu itu dan berlari kecil menuju pintunya sendiri. Selama itu terjadi, mata Melisa terus memperhatikannya. Dada gadis itu berdebar kencang karena sikap Riland yang manis padanya.
'brak' Riland menutup pintu mobilnya dan melihat pada gadis yang duduk tepat di sebelahnya.
"Ya Tuhan," gumam Melisa terkejut. Sampai-sampai ia melonjakkan tubuhnya, karena tiba-tiba saja Riland mendekat, mengikis jarak. Pikiran Melisa sudah traveling ke mana-mana saat hal itu terjadi. Mengira jika Riland akan menciumnya.
Tapi ternyata lelaki itu hanya membantu menarik sabuk pengaman Melisa dan memasangkannya. "Sudah," ucap Riland sambil tersenyum manis. Membuat Melisa harus menelan ludahnya paksa dan debaran jantungnya semakin menggila.
"Ehem," Melisa berdehem. Menetralkan debaran di dadanya. Ia duduk tegak dengan kedua telapak tangan yang saling meremas satu sama lainnya. Sedangkan Riland mulai menyalakan mesin mobilnya, dan bergerak keluar dari pelataran parkir.
Teror manis yang Riland berikan tak berhenti sampai di sana. "Kamu gak kehujanan kan ?" Tanya Riland seraya menyentuh pelan puncak kepala Melisa dan mengacaknya gemas. Memastikan tak ada basah di rambutnya.
Puncak kepala Melisa yang Riland acak, tapi hati gadis itu yang menjadi berantakan. Susah payah Melisa mengatur nafasnya, menetralkan debaran jantungnya yang semakin kencang saja.
"A- aku gak kehujanan, tapi jaket Bapak yang jadi basah," jawab Melisa dengan gugupnya.
Riland tolehkan kepalanya ke arah belakang di mana jaket jeans nya tergeletak di bangku penumpang. "Gak pa-pa, masih ada jaket lainnya. Yang penting kamu gak kehujanan," kata Riland. Wajahnya terlihat biasa saja saat mengatakannya. Sedangkan Melisa membolakan matanya saat mendengar hal itu.
Waktu terus berlalu, di luar sana langit masih menurunkan airnya. Membuat jalanan menjadi lebih padat dari biasanya dan perjalanan pun menjadi lebih lama.
Jika biasanya Riland mendengarkan lagu-lagu rock kesukaannya, tapi kali ini ia memutar lagu romantis yang syarat akan kata-kata cinta. Membuat suasana di dalam mobil kian syahdu saja.
"Mau makan dulu ?" Tanya Riland tanpa menolehkan kepalanya.
"Nggak usah !" Jawab Melisa cepat. Di dalam mobil berduaan saja, sudah membuat Melisa tersiksa dengan hebatnya. Karena yang Riland lakukan padanya membuat Melisa menjadi terbawa perasaan.
"Kamu yakin ?" Tanya Riland lagi.
"Hu'um.. Saya yakin, Pak," jawab Melisa tegas. Berduaan dengan Riland tak baik untuk kesehatan jantung dan juga kewarasannya.
"Baiklah, kalau begitu aku langsung antar kamu pulang aja ya,"
"Aku ?" Tanya Melisa dalam hatinya. Cara bicara Riland pun jadi berubah. Padahal ia sering menyebut dirinya sendiri dengan kata 'saya'.
Melisa melirik Riland dengan ujung matanya. Memastikan jika lelaki yang duduk di belakang kemudi itu benar-benar Riland, bukan setan jadi-jadian.
Dari arah samping hidung mancung Riland terlihat sempurna. Bibirnya yang berisi juga terlihat sangat menggoda. " Tentu akan sangat menyenangkan jika dapat mengulum bibir itu," pikir Melisa dalam hati. Sampai-sampai ia menggigit bibir bawahnya sendiri karena membayangkannya. Padahal gadis itu belum pernah berciuman sama sekali.
"Kita udah sampai," ucap Riland seraya menepikan mobilnya dan memberhentikan lajunya. Membuat Melisa tersadar dari lamunannya.
"Eh.. oh, udah sampai ya ?" Tanya Melisa gugup.
Riland tersenyum tipis, "kamu ketiduran ?" Tanya Riland.
"Hmm ya," jawab Melisa bohong.
Riland berdecak kesal. "Ck ! Kalau tahu kamu ketiduran, aku culik ke apartemen deh," gerutu Riland.
"Nggak pa-pa," jawab Riland dengan tersenyum lebar. "Mau turun, atau mau aku culik ?" Tanya Riland lagi dengan matanya yang menyorot tajam.
"Aku mau turun saja !"jawab Melisa seraya cepat-cepat melepaskan sabuk pengamannya, dan segera membenahi diri untuk turun dari mobil bosnya itu.
"Sampai ketemu besok ya," ucap Riland seraya menurunkan kaca jendela mobilnya, agar bisa berbicara dengan Melisa.
Melisa anggukan kepalanya dan tersenyum pada Riland. Mengiyakan ucapan bosnya itu. Tak lama, Riland pun lajukan mobilnya kembali. Meninggalkan Melisa yang langsung berjongkok karena merasa lemas di kedua kakinya akibat perlakuan manis Riland.
"Meellll !!!" Pekik Agni si teman sekamar. Gadis itu mendekati Melisa dengan setengah berlari. "Kamu kenapa ?" Tanya Agni seraya mengulurkan tangannya untuk Melisa raih.
"Huaaaa," seru Melisa dengan wajah nelangsa.
"Aku benar-benar butuh pegangan !! Tak cuma lutut aku yang lemas, tapi juga hati !" Jawab Melisa seraya berusaha untuk berdiri.
***
"Huuuffft," Melisa menarik nafas dalam sebelum ia melangkahkan kakinya memasuki tempat kerjanya. Berharap dalam hati agar Riland tak lagi melakukan hal-hal manis seperti hari kemarin.
"Pagi, Mel," sapa Leah yang sudah berdiri di belakang kasir. Gadis itu tersenyum manis pada Melisa.
"Pagi," sahut Melisa.
"Mel ini, beberapa data yang baru datang," Leah menyerahkan sebuah kertas dan juga gambar beberapa barang yang baru saja mengisi stok gudangnya.
Melisa menerima itu dengan wajah sumringah, pasalnya Agni sang teman sekamar menginginkan sweater hoodie dari koleksi terbaru.
"Kapan datangnya ?" Tanya Melisa antusias.
"Tadi malem, dan gila dong udah banyak pesanan masuk lewat online. Padahal kita baru mau bikin iklannya,"
"Waaahhhh, aku harus cepat-cepat ambil satu buat temen aku," ucap Melisa lagi. Ia pun segera berjalan menuju tempat penyimpanan stok barang.
Melisa letakkan tas yang dibawanya di atas meja, lalu ia segera berjalan menuju rak yang didalamnya terdapat banyak sekali pakaian yang ditumpuk rapih.. Melisa menelitinya satu persatu, mencari yang Agni inginkan. Tapi sayangnya benda itu berada di bagian rak yang paling atas hingga Melisa harus berjinjit untuk meraihnya.
Susah payah Melisa berusaha untuk mengambilnya, bahkan ia harus meloncat-loncat. Melisa terlalu malas untuk mengambil tangga, dan berpikiran sudah kepalang bersusah-susah.
"Aaaww," Pekik Melisa saat ia akan terjatuh namun cepat-cepat sebuah tangan kekar menahan pinggangnya.
"Ya Tuhan...," Batin Melisa dalam hati saat ia rasakan remasan di pinggangnya karena tak sengaja.
"Kamu gak papa?" Tanya Riland seraya membantu Melisa untuk berdiri tegak.
Melisa yang terlalu syok hanya bisa mengangguk angguk kepalanya pelan sebagai jawaban.
Riland melangkah maju, mendekati Melisa yang berdiri tegak dihadapanny. Hingga wajah gadis itu berhadapan langsung dengan dada bidangnya dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan Melisa bisa merasakan kain kemeja yang Riland pakai, mengenai wajahnya. Wangi kayu-kayuan floral dan musk menguar dari tubuh tinggi tegap itu. Membuat Melisa terdiam membeku di tempatnya berdiri. Sepertinya Riland belum juga berhenti menyiksa perasaannya.
Sedangkan Riland, ia berusaha untuk membantu Melisa. Mengambilkan sweater hoodie yang Melisa inginkan. Dan berada dengan Melisa sedekat itu adalah sesuatu yang ia inginkan.
bersambung.