
Melisa berjalan penuh semangat saat menuruni tangga. Berjauhan dengan sang bos yang hot membuatnya bisa bernafas dengan lega walaupun hanya sebentar saja. Karena setelah ia mendapatkan makanannya, Melisa harus kembali ke mejanya yang berseberangan dengan meja Riland.
"Mmmhhhh... Haaahhhhh," begitu sampai di luar toko, Melisa rentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Lalu ia menghirup udara malam dalam-dalam dan rakus. Menghembuskannya dengan perlahan melalui mulut seolah melepaskan beban berat yang tengah dipikulnya. Tak hanya sekali Melisa melakukan itu, tapi dua kali hingga membuat lelaki yang bertugas mengantarkan makanan itu melihatnya dengan terheran.
"Lagi banyak beban pekerjaan ya, Teh ?" Tanya nya pada Melisa. Mungkin terdengar sok tahu, tapi lelaki berjaket hijau itu bisa melihat dengan jelas bagaimana Melisa berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Hahaha. iya Kang. Lagi banyak banget kerjaan. Maaf ya, jadi bikin Akang nunggu karena saya harus begini dulu," jawab Melisa dengan tersenyum canggung. Bukannya langsung mengambil pesanan makanannya. Ia malah merentangkan tubuhnya lebih dulu.
"Beban pekerjaannya sih gak seberapa... Beban mental yang sebenarnya lebih menyiksaku," batin Melisa dalam hatinya. Ia pun membayangkan bagaimana tersiksa dirinya saat kehadiran Riland sangat mengganggu konsentrasinya. "Apa Riland tak sadar jika apa yang dilakukannya sangtlah menyiksaku ?" Masih Melisa bertanya dalam hati.
Melisa menarik nafas dalam.
Tentu saja Riland tak akan merasa jika dirinya menganggu Melisa. Melihat Riland bertelanjang dada bukanlah yang pertama bagi Melisa.
Lelaki itu pernah melakukannya beberapa kali saat mereka tengah membuat iklan bersama. Jika hanya sekedar mengganti kemeja atau kaos, Riland tak pernah pergi ke ruang ganti. Lelaki itu akan melakukannya di tempat pengambilan video.
Tapi tadi jaraknya terlalu dekat, hingga membuat pipi Melisa menjadi panas dan darahnya berdesir hangat. "Pikiran kamu aja yang terlalu traveling!!" Batin Melisa menyalahkan dirinya sendiri.
"Teh, ini gimana makanannya ?" Tanya Lelaki berjaket hijau itu lagi. Sedari tadi Melisa hanya berdiri dengan tatapan kosong ke sembarang arah. Gadis itu benar-benar terlihat linglung.
Melisa tersentak, "ah... Maaf kang... Semuanya jadi berapa ?" Tanya Melisa sembari meraih dua kantung plastik berwarna putih yang di dalamnya berisikan banyak jenis makanan.
"Sudah di bayar dengan gopey atas nama Pak Riland, Teh. Jadi Teteh gak usah bayar lagi," jawabnya dengan logat bahasa Sunda yang kental.
"Oh gitu, nuhun ( terimakasih) atuh ya Kang," sahut Melisa.
"Sami-sami (sama-sama), saya permisi ya, Teh,"
Sadar karena telah bersikap aneh pada lelaki yang bekerja sebagai kurir itu dan juga telah membuatnya menunggu lama membuat Melisa menjadi tak enak hati. Melisa segera merogoh saku celana jeans nya untuk mencari uang yang akan diberikannya pada pengantar makanan itu.
Beruntung bagi Melisa karena ia menemukan uang kertas berwarna hijau pecahan dua puluh ribu rupiah. "Kang, ini buat Akang. anggap aja sebagai uang tips ya,"
Lelaki yang hendak naik ke atas motornya itu menerima uang yang Melisa berikan dan melihatnya. "Alhamdulillah... Teh, terimakasih banyak. Tapi ini mah kebanyakan," ucapnya dengan mata berkaca-kaca karena rasa haru.
"Nggak apa-apa, Kang," sahut Melisa.
"Sekali lagi nuhun ( terimakasih) ya Teh, semoga rezeki teteh makin banyak," ucapnya tulus.
"Aamiin... Akang juga ya," sahut Melisa lagi sambil tersenyum. Kemudian ia pun kembali ke dalam toko tempatnya bekerja dengan dua kantung plastik putih di tangannya.
Melisa menyimpan dua kantung plastik itu di atas meja dan membukanya dengan perlahan. Di dalamnya terdapat makanan berupa nasi, ayam goreng, kentang goreng, minuman dingin dan juga sup panas dalam sebuah cup. masing-masing makanan itu berjumlah 2 dan pasti itu untuk dirinya juga Riland.
Melisa mengangkat sup hangat yang dikemas dalam mangkuk plastik instan itu dengan tatapan mata kesal. "Beg* banget sih, Mel ! Ngapain ke dapur ! Pastinya semua makanan ini sudah disajikan dengan alat-alat makannya !" Melisa merutuki kebodohannya sendiri. Efek berdekatan dengan Riland masih saja mempengaruhinya.
"Ngapain di bawa ke dapur ?" Tanya Riland dengan suara beratnya. Tanpa Melisa sadari lelaki itu telah berdiri di sebelahnya hingga membuat gadis itu terkejut dengan hebatnya hingga mangkuk plastik yang berisikan sop ayam hangat itu terbuka dan airnya mengenai jemari tangannya.
"Sshhhh... Aaahhhh," desah Melisa sembari menarik nafasnya dalam-dalam, lalu ia meletakkan mangkuk itu di atas meja.
Melihat itu membuat Riland menatapnya lekat-lekat dengan dahi berkerut terheran.
Bagaimana tidak ? Bukannya sebuah tariakan yang keluar dari mulut Melisa, tapi gadis itu malah mengeluarkan sebuah des*han terkutuk yang terdengar menggoda.
"Siaaalllll !!!!" Rutuk Melisa dalam hatinya. "Beg* beg* beg* banget sih, Mel !! Pasti Riland jijik dengernya !" Batin Melisa dalam hatinya. Ia tundukkan kepala tak berani melihat pada Riland.
"Kamu Kenapa ?" Tanya Riland.
"Panas ? Kepanasan?" Tanya Riland lagi dan terdengar ambigu.
Melisa tak menjawabnya, yang ia lakukan terus tundukkan kepala karena merasa malu pada bosnya itu.
Riland awasi gadis yang tertunduk di sebelahnya itu. Karena Melisa tak kunjung menjawabnya, ia pun berinisiatif untuk meraih tangan Melisa untuk melihatnya.
Deg !!!
Hampir saja jantung Melisa melompat dari tempatnya saat Riland dengan tiba-tiba meraih tangannya. "Gak apa-apa kok, gak ada luka bakar," ucap Riland sembari mengamati tangan Melisa dengan menyeluruh.
Mendengar itu, membuat Melisa segera menarik tangannya. "I-iya gak apa-apa kok," ucapnya dengan suara kecil dan terdengar aneh. Sungguh Melisa merasakan gugup yang luar biasa dan ini adalah yang pertama kali baginya.
"Kamu yakin gak apa-apa ? Gak sakit kan ? Malam ini kamu kelihatan aneh, Mel," ucap Riland.
"Iya gak apa-apa, sa-saya sedang memikirkan laporan jadinya kurang bisa berkonsentrasi, Pak," jawab Melisa terdengar formal.
Riland tak berkata-kata lagi, ia hanya menatap lurus pada gadis yang bekerja sebagai bawahannya itu. Cukup lama mereka bersitatap dalam diam hingga bunyi bel pintu toko terdengar, menandakan seseorang datang.
To be continue