The Hot Boss

The Hot Boss
Selanjutnya



Raya sunggingkan senyum miring penuh ledekan di wajahnya. Ia melihat Melisa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan mata yang merendahkan. "gue kira, lo cewek baik-baik. Tapi ternyata..," Raya menjeda ucapannya sembari tertawa muak.


"Ternyata apa ?" Tanya Riland sinis seraya menarik lengan Melisa agar berlindung di balik tubuhnya yang tinggi tegap.


"Kalau Lo ngeluarin kata-kata yang nyakitin Melisa, maka Lo berhadapan sama gue," lanjut Riland. Ia pun membalas pandangan mata Raya sama sinisnya.


Dada Raya yang sudah diliputi rasa panas kini semakin terasa sesak karena ucapan Rilan. "Jadi bener kan dugaan gue selama ini ? Kalian berdua main gila." tuduh Raya sembari menunjuk dada Riland. Raya mengatupkan rahangnya, menahan rasa marah yang siap untuk meledak.


"Kasihan banget sih Melisa dapetin cowok modelan Lo ! Asal nuduh tanpa berusaha nanya baik-baik dulu sama dia. Itu sama aja Lo cap Melisa cewek gak bener. Padahal asal Lo tahu, dia bukan cewek yang seperti ada dalam pikiran Lo," sahut Riland.


Raya menelan ludahnya susah payah saat ia sadar apa yang dikatakan oleh Riland benar adanya. Ia langsung menghakimi Melisa tanpa bertanya lebih dulu.


"Gue harap Melisa berpikir dua kali buat lanjutin hubungannya sama Lo," ucap Riland lagi membuat Raya semakin terbakar emosi.


Hampir saja Raya akan layangkan tinjunya tapi tiba-tiba seorang petugas keamanan menahannya.


"Suruh dia pergi !" Titah Riland.


Petugas keamanan yang berjumlah dua orang itu pun menarik tubuh Raya dengan paksa. "Mel, ayo kita bicara dulu," ucap Raya sembari berontak ingin dilepaskan tapi kedua petugas keamanan malah semakin mencengkram erat lengannya.


"Mel ! Aku mohon...," Ucap Raya lagi tapi Melisa hanya bisa melihatnya dengan mata yang memburam karena genangan air mata. Tubuhnya gemetar dan mulutnya terkatup rapat. Sungguh ia merasa takut karena baru kali ini dirinya melihat keributan antara dua lelaki dewasa dan itu karena dirinya.


"Dasar cewek murah*n !!" Teriak Raya karena ia merasa kecewa keinginannnya tak dihiraukan oleh Melisa.


"Cuma kerja jadi pelayan toko aja, sok banget Lo !" Teriak Raya membuat air mata Melisa menganak sungai di pipinya.


Mendengar ucapan Raya membuat Riland naik pitam. Ia berjalan sembari mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Riland layangkan bogem mentahnya saat kedua penjaga keamanan tadi telah melepaskan cekalannya pada Raya karena posisi mereka yang sudah berada di luar toko.


'bugh !'


"Jaga mulut Lo !" Hardik Riland penuh emosi.


Raya tersungkur di atas lantai dengan sudut bibirnya yang pecah dan mengeluarkan cairan segar berwarna merah.


"Jangan pernah hina Melisa ! Dan jangan pernah datang kesini lagi !! Pergi Lo, sebelum gue lapor polisi!" Riland berteriak dengan kerasnya hingga kini ia menjadi pusat perhatian.


"Kenapa Pak Riland ?" Tanya beberapa orang yang kini mulai berkerumun.


Raya yang berdiri dengan terhuyung pun sadar. Ia tak akan mungkin menang, sekeras apapun dirinya membela diri. Karena hampir semua yang berada di sana adalah kenalan Riland.


"Apa dia ganggu, Bapak ?" Tanya yang lainnya dengan nada meninggi karena ikut terbawa emosi.


" Pergi sebelum gue berubah pikiran !" Desis Riland pada Raya.


Masih dengan tatapan mata nyalang Raya meninggalkan tempat itu. Ia sempatkan diri untuk melihat pada Melisa yang membeku di tempatnya berdiri. Gadis itu masih belum juga menghentikan tangisnya.


Ada rasa penyesalan dalam diri Raya karena lebih mengandalkan emosinya. Raya menyesal karena tak meminta penjelasan dulu pada Melisa. Dan kata-kata yang ia lontarkan tadi memperburuk semuanya.


Malas-malas Raya masuk ke dalam mobilnya. Ia dudukan tubuhnya di balik kemudi dengan matanya yang masih saja menatap pada Melisa. kini gadisnya itu sudah berada dalam pelukan Leah, temannya.


Terlihat jelas oleh Raya jika Leah tengah menenangkan Melisa. Gadis itu memeluk dan menepuk-nepuk pundak Melisa pelan.


"Siall siaall siaalllll," teriak Raya sembari memukuli setir mobilnya. Ia menyesal dengan apa yang baru saja diperbuatnya.


Seorang petugas keamanan mengetuk kaca pintu mobilnya dan meminta Raya untuk segera pergi.


Tak ingin memperkeruh suasana, Raya pun putuskan untuk pergi.


"Kita akan bicara nanti, Mel," gumamnya pelan seraya mulai menyalakan mesin mobilnya. Tak lama, Raya pun pergi meninggalkan toko pakaian Riland.


***


"Kamu seharusnya melawan saat Raya menuduhmu yang tidak-tidak. Apalagi saat ia menghinamu, seharusnya kamu memberikan Raya sesuatu yang gak akan dia lupakan," ucap Leah.


"A- aku terlalu kaget dengan ini semua, baru kali ini aku melihat orang berkelahi. "sahut Melisa yang masih saja gemetaran. Padahal Raya sudah pergi meninggalkan dirinya.


Riland datang dengan segelas teh hangat di tangannya. "Minumlah dulu, agar kamu merasa lebih tenang," ucap Riland seraya memberikan teh hangat itu pada Melisa yang terduduk di kursi.


Melisa meraih gelas itu dan menyesap isinya perlahan. "Terimakasih," gumam Melisa pelan tapi Riland masih bisa mendengarnya.


"Melihat keadaanmu yang seperti ini, kita batalkan saja rencana makan siangnya," ucap Riland dan Melisa pun anggukan kepalanya menyetujui.


"Padahal sayan ingin ngenalin kamu sama seseorang," lanjut Riland.


"Hah ? Apa ?" Melisa berkerut alis tak paham.


"Gak apa-apa, kita bisa pergi besok siang aja," sahut Riland kemudian.


Bersambung...