The Diamond

The Diamond
Bermalam



Aku terbangun saat hawa dingin menusuk tubuhku. Aku tidak tahu berada dimana, yang jelas pukulan itu masih terasa. Ada yang datang, aku menatap nyalang ke arah orang itu.


Kedua orang dihadapanku ini menatapku seperti santapan mereka. Aku harus pergi dari sini, siapapun tolong aku! Kedua orang ini semakin mendekat. Aku menyembunyikan rasa khawatirku.


"Lihat! Bahkan dia tidak berbicara apapun dan malah menatap kita dengan pandangan seperti itu. Aku yakin kau adalah wanita keparat Kenneth," kata salah satu dari mereka. Cih! Bahkan mereka salah paham. Siapa yang menjadi wanita Kenneth. Tapi aku suka cara mereka mengucap nama 'keparat Kenneth'.


"Bagaimana kalian bermain denganku dengan keadaan terikat begini?" kataku membuat kedua orang itu saling melirik. Datang seorang lain yang membawa pistol. Aku tersenyum dalam diam saat salah satu dari mereka melepaskan tali yang mengikatku.


"Apa yang aku lakukan pastinya akan membuat Kenneth hancur." Orang itu yang mengarahkan pistolnya ke kepalaku. Aku masih diam tanpa bergerak. Aku menjawab, "kau salah orang, justru Ken akan lebih senang jika kalian membunuhku."


Ketiga orang itu tidak mengerti dengan apa yang aku katakan. Ini saat yang tepat untuk beraksi. Kutendang kaki orang yang memegang pistol, mengambil alih pistol itu.


Dor dor dor


Itu bukanlah bunyi tembakanku, aku baru akan menembaknya. Tapi, seseorang di belakangku sepertinya sudah lebih dulu. Aku membalikkan badan sembari mengarahkan pistol jika orang itu bermacam-macam.


Kenneth mengangkat kedua tangannya, aku langsung menurunkan pistol. Fiuh! Ternyata bodyguard Kenneth yang menembak. Tapi, darimana Kenneth tahu bahwa aku ada disini? Mungkinkah ada alat penyadap padaku?


"Kau akan diam disitu? cepatlah kemari, biar mereka yang membereskannya," kata Kenneth menarik tanganku hingga pistol yang aku genggam jatuh begitu saja. "Darimana kau tahu aku ada disini?" tanyaku. Kenneth tidak menjawab, malah mendorongku masuk ke mobil.


Kenneth membawaku ke villa, aku tidak boleh bermalam disana. Aku harus menunggu ibu di rumah sakit. "Hentikan mobilnya, aku harus kembali ke rumah sekarang juga!" kataku dengan nada memerintah. Kenneth tidak mendengarkan perkataanku dan terus memacu mobilnya menuju villa. "Jika kau tidak mau berhenti... Aku akan melompat," kataku siap-siap membuka pintu yang ternyata sudah dikunci otomatis.


Akh! Aku kesal dan bergerak tidak jelas, Kenneth terkekeh melihat diriku yang tidak bisa duduk diam. Sampai di villa, aku tidak keluar dari mobil. Kenneth membuka pintu disebelahku. Aku selalu menghindar dari setiap pergerakan Kenneth yang akan menarikku keluar.


"Tidak, Ken. Aku ingin pulang!"


"Kau memberiku kode untuk di gendong?"


"Aku ingin pulang! Ken, hentikan! turunkan aku sekarang juga!" ujarku berontak saat Kenneth memaksa menggendongku. Aku terus memberontak, tiba-tiba Kenneth melepaskan pegangannya yang membuatku terjatuh. Aish, pria ini memang tidak punya perasaan sama sekali.


"Sialan!"


Aku berdiri dan segera pergi dari sana. Tapi, Kenneth menutup pintu, meletakkan tangannya di kedua sisiku, wajah kami berdekatan. Aku memalingkan wajah, Kenneth memegang daguku seraya berkata, "Kau tidak akan pernah bisa pergi dariku."


Apa-apaan ini maksudnya? Kenneth ini memang sudah gila. Terdengar suara Sean yang menangis, Kenneth dan aku menoleh ke arah lantai dua. Tanpa berkata lebih dulu, Kenneth menarik tanganku secara paksa menuju kamar Sean.


"Hey! Lepaskan aku. Kau kira aku ini seekor kambing?" Aku berusaha melepaskan cengkraman Kenneth. Oh ibu maafkan anakmu ini. Jika kau masih peduli denganku, kau pasti akan memarahiku.


Setelah memasuki kamar Sean, babysitter itu terlihat putus asa. Aku tidak tahu apa yang membuat Sean tidak berhenti menangis.


"Akupun tidak tahu, Nona. Padahal aku sudah mengganti popoknya dan membuatkan susu."


"Kau ini babysitter atau pelayan? Mengurus anak kecil saja tidak bisa!" bentak Kenneth.


"Ken! Kau tidak boleh berbicara seperti itu!" kataku, "kau bisa kembali ke kamarmu." Setelah babysitter itu pergi, Aku dan Kenneth berusaha menghentikan tangisan Sean. Tak lama setelah Sean berhenti menangis, mataku perlahan menutup.


Aku merasakan kehangatan dalam tubuhku. Tidak pernah terbayangkan bagaimana aku memiliki keluarga suatu saat.


Buru-buru aku langsung menenangkan Sean. Saat babysitter mengetuk pintu, aku langsung menyerahkan Sean. Kenneth secara tiba-tiba menarik tanganku hingga terjatuh ke kasur. Kenneth langsung memeluk pinggangku.


"Hey! Lepaskan, aku harus pergi." Aku terus  berusaha melepaskan tangan Kenneth. Aku langsung menggigit tangan Kenneth hingga terlepas.


"Serigala betina! Kau menggigitku, aku tidak akan melepasmu!" Aku tidak peduli dengan perkataan Kenneth. Aku tidak membawa mobil, untungnya aku berhasil mendapatkan kunci mobil Kenneth saat berada di kamar.


Aku belum menjenguk ibu, yang harus aku lakukan sekarang adalah menjenguknya. Di rumah sakit, aku melihat bibi Zoe yang duduk di samping bangsal.


"Bagaimana keadaannya?" tanyaku. Bibi Zoe langsung menyapaku, dia memberitahu keadaan ibu yang masih sama seperti sebelumnya. Sebenarnya apa tujuan paman kedua melakukan ini? Aku pamit untuk pulang lebih dulu.


Aku memikirkan kejadian semalam. Bagaimana bisa aku tidur dengan seorang lelaki dan juga anak kecil? Aku langsung bersiap untuk pergi ke kantor. Baru saja mengambil kunci, ponselku bergetar.


"Hallo, Shasa. Ada sesuatu yang terjadi, aku tidak bisa mengatakannya. Tapi, kau bisa langsung ke kantor untuk melihatnya."


"Okay"


Aku mengerutkan kening ketika mendengar perkataan Vava. Mungkin bukan masalah serius, mendengar Vava yang sedikit kebingungan. Kali ini akupun bingung, bagaimana aku mengembalikan mobil Kenneth? Mungkin aku akan menyuruh orang untuk mengantarnya.


Aku memakan sereal untuk sarapan. Sejak kemarin aku belum memakan apapun, bahkan kepalaku terasa pusing. Obat yang biasa aku minum pun sudah habis. Sepertinya aku harus mampir untuk membelinya.


Sampai di kantor, Vava tergesa-gesa menemuiku. Vava terlihat bingung, aku menyuruhnya untuk segera berbicara.


"Berkas ada di Anderson."


"Apa maksudmu?"


"Beberapa menit yang lalu, tuan Kenneth menelpon kantor. Dia menyuruhku untuk mengantar berkas yang perlu kau tanda tangani. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi, mungkin  kau akan tahu setelah pergi ke sana."


"Persiapkan semua, nanti siang adakan meeting!"


Vava mengangguk lalu pergi begitu saja. Aku langsung berbalik arah menuju Anderson group. Apa mau orang itu sebenarnya? Dia terus saja menyusahkanku. Sampai di Anderson group, beberapa karyawan menatap aneh ke arahku. Hey! Seharusnya kalian yang menatap aneh pada bos kalian. Asisten Kenneth langsung menghampiriku, menunjukkan jalan kemana aku harus bertemu Kenneth.


Saat Hayden membuka pintu, dia meringis karena ada seorang wanita yang sedang manja pada Kenneth. Aku menatapnya dengan sebelah alis terangkat, memangnya apa urusannya denganku? Ku lihat,  Kenneth menyuruh wanita itu pergi.


"Siapa wanita itu?" tanya wanita yang bersama Kenneth.


"Jess, lebih baik kau pergi!"


"Ken! Aku ini tunanganmu, apa salahnya aku bertanya?"


"Hentikan! Aku tidak tertarik denganmu."


Aku melipat tanganku di depan dada, menyaksikan perdebatan sepasang kekasih yang berbeda perasaan. Hayden keluar saat melihatku yang menatapnya tajam. Entahlah, padahal aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya sekadar menatapnya saja.