The Diamond

The Diamond
Gadis kecil



"Apa kau pernah merasakan kehilangan orang tersayang?"


Aku menoleh ke arah Caroline yang tampak murung. Walaupun bibirnya tersenyum, matanya menatap kosong ke depan. Akupun tidak tahu apa yang akan Caroline katakan.


"Pernah," jawabku.


"Aku mempunyai seorang teman, dia sangat cantik dan pintar. Setiap sore kami menghabiskan waktu di sini."


Ddrrtt ddrrtt


Caroline merogoh tas untuk mengambil ponsel. Aku tidak mengatakan apapun dan tidak berniat membalasnya.


"Hallo?"


"..."


"Iya aku sudah selesai, tunggu aku di sana."


"..."


"Bye."


Caroline berdiri seraya berkata, "Aku harus pergi. Semoga kita bisa bertemu lagi."


Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Terkadang aku merasa untuk akrab dengan orang sangatlah sulit. Hal itu pula yang membuatku selalu sendiri.


"Fiuhhh...." Aku menghembuskan napas dan memikirkan keadaan Nathe. Wajar saja dia membenciku, kejadian yang sudah lama berlalu dan sangat penting tidak aku beritahu.


Kini aku kembali sendirian. Hal yang aku inginkan dalam hidup adalah menjadi sesuatu yang berharga. Selama ini aku hanya pernah mengalaminya sesaat. Sewaktu ayah masih hidup dan ibu yang belum sakit.


Mungkin bagiku untuk menjadi sebuah berlian terasa sulit. Bahkan orang yang aku harapkan dan mengharapkan tidak ada. Terkadang aku merasa bahwa hidupku seperti sebatang pohon.


Tiba-tiba hujan turun yang semakin lama semakin deras. Tidak sedikitpun aku beranjak dari sana walaupun banyak orang yang berusaha menghindari hujan.


Mataku terpejam saat butiran air membasahi tubuhku. Namun aku tidak merasakan tetesan hujan lagi. Saat aku membuka mata, Kenneth memayungiku.


"Walaupun kau menyukai hujan, kau tidak akan bisa terhindar dari sakitnya...ambilah." Kenneth meraih tanganku untuk memegang payung dan setelah itu dia pergi meninggalkanku.


Aku terpaku dengan Kenneth yang menembus hujan, lalu masuk ke dalam mobil. Aku tidak mengerti maksud Kenneth. Anehnya lagi dia menemuiku hanya untuk menyerahkan payung, sedangkan dia sendiri memilih basah kuyup.


Tubuhku tidak bergerak sama sekali karena saking shocknya. Aku tidak menyukai hujan, hanya ingin merasakan.


Aku tersadar ketika ponselku berbunyi. Melihat nama si penelpon, aku langsung memasukkannya ke dalam saku dan segera kembali ke mobil.


Sebuah boneka yang masih di dalam plastik tergeletak di atas mobil. Aku menatap sekitar yang mungkin saja milik orang lain. Tapi tidak ada siapapun yang mengambilnya.


Aku membawa boneka itu ke dalam mobil. Boneka beruang dengan warna putih terlihat begitu cantik. Secarik kertas tampak menempel pada plastik itu. Sayangnya aku tidak bisa membacanya karena air hujan membuat kertas itu rusak.


Abaikan masalah beruang, aku perlu ke hotel untuk menginap. Ku pacu mobil ke sebuah hotel terdekat. Selama perjalanan, bayangan Kenneth terus saja mengganggu.


Ciitt! Brak!


Oh tidak, aku menabrak orang. Buru-buru aku keluar dari mobil untuk menghampiri orang itu. Seorang gadis kecil tergeletak di tengah-tengah jalan.


"Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan?" ucapku.


Aku membopong gadis itu dengan sesegera mungkin membawanya menuju rumah sakit. Hatiku benar-benar cemas jika terjadi sesuatu dengannya.


"Dokter, tolong tangani dia."


"Baiklah, kami akan berusaha."


Aku menunggu di depan ruangan. Tanganku memijit pelipis yang sedikit sakit. Sebenarnya apa yang terjadi denganku, hidupku hampir kacau.


"Bukankah dia wanita selingkuhan Tuan Kenneth?"


"Iya kau benar, apa yang dilakukannya di sini?"


"Apa kau tidak lihat dia membawa seorang gadis kecil? Mungkin saja itu anaknya juga."


"Ya ampun dia masih sangat muda, tapi sudah memiliki dua anak."


Padahal aku sudah menekan media agar berita itu tidak tersebar. Aku yakin dalang dibalik masalah ini merupakan keluarga yang kuat.


Ceklek!


"Dia sedikit geger otak ringan. Rasa traumanya bisa membuat keadaannya memburuk. Sebaiknya kau jangan terlalu mengganggunya."


"Terima kasih."


Dokter itu mengangguk sekilas. Aku langsung masuk ke ruangan. Gadis kecil yang menatap langit-langit ruangan itu terlihat sedih. Aku mendekatinya dengan langkah ringan.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku.


"Siapa kau?!" Gadis itu bertanya dengan nada sarkas. Aku pikir dia gadis yang manis dan lembut. Aku harus tetap memasang senyuman.


"Sebelumnya maafkan aku. Tidak sengaja menabrakmu saat kau sedang menyebrang."


"Aku tertabrak? Kapan? Apa yang aku lakukan?" Gadis itu tidak mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.


"Kau tidak ingat sama sekali?"


Gadis itu menggeleng lemah dengan kerutan di dahinya. Dokter bilang hanya geger otak ringan, mengapa tidak mengingat hal yang dialami?


"Siapa namamu?" tanyaku.


"Vinka."


Alisku terangkat mendengar jawaban yang begitu singkat. Dia sangat mirip sepertiku ketika ditanya.


"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu setelah diperbolehkan dokter."


"Panti asuhan kasih ibu. Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Terima kasih sudah menolongku."


Aku mengangguk samar dan duduk di kursi samping bangsal. Kejadian ini sedikit aneh karena aku yakin bahwa Vinka tidak hilang ingatan.


"Kenapa kau di sini?" tanya Vinka.


"Aku akan menunggumu. Jangan katakan apapun lagi, cepatlah tidur." Aku menaikkan selimutnya hingga diatas dada.


"Baiklah." Vinka memejamkan matanya perlahan dengan tangan yang memegang tanganku. Tangannya sedikit kasar dan kecil. Seusia sekarang, seharusnya dia tidak memiliki sifat seperti orang dewasa.


"Kakak, aku mengkhawatirkan bibi Zainun." Vinka tampak kembali membuka matanya.


"Kau tahu nomor yang bisa dihubungi?" Setelah dia mengangguk, aku menyerahkan ponselku.


"Biar aku yang berbicara. Kau tidurlah dengan nyenyak."


Aku langsung menghubungi nomor yang sudah tertera. Panggilan pertama tidak ada yang menjawabnya. Aku berusaha kembali menelponnya.


"Hallo? Siapa ini?"


"Hallo, Bibi. Aku Sasha, Vinka berada di rumah sakit setelah tertabrak mobil."


"Apa?! Bagaimana kondisinya? Di rumah sakit mana?"


"Bibit tenanglah. Sebelumnya aku minta maaf karena sudah menabraknya. Dia baik-baik saja, aku yang akan menunggunya."


"Baiklah, aku harap kau akan menjaganya dengan baik."


Aku memasukkan ponsel ke dalam saku. Bajuku basah kuyup, seharusnya aku pergi ke butik lebih dulu. Jika aku pergi, tidak ada orang yang menjaganya. Tapi aku tidak ingin sakit.


Aku akan membeli baju lebih dulu dan menitipkan Vinka pada seorang suster. Begitu aku keluar dari rumah sakit, banyak wartawan yang sudah berkumpul di sekitar mobilku.


Keadaan ini tidaklah beres, aku harus pergi mmenaiki taksi. Sayangnya ada salah satu wartawan yang berhasil melihatku.


"Nona Alexandra, apa kau menabrak seorang bocah?"


"Apa kau menabraknya dengan sengaja?"


"Bagaimana kondisi anak itu?"


"Nona Alexandra, apa yang akan kau lakukan setelah ini?"


"Apakah benar bahwa kau direktur Felison Group yang misterius?"


"Bagaimana perkembangan asmaramu dengan direktur Anderson?"


Masih banyak pertanyaan lain yang tidak ingin aku jawab. Bagaiman bisa wartawan mengetahui kejadian itu? Padahal tidak ada siapapun di sana saat aku melewatinya.