The Diamond

The Diamond
Konferensi pers



Aku mulai bersiap saat matahari tenggelam. Tidak ingin membiarkan Vinka seorang diri, maka aku akan mengajaknya ke pesta. Sudah dua hari ini aku tidak mendapatkan kabar dari Nathe, bahkan tidak melihatnya.


"Hallo, Nona. Apa kau baik-baik saja?"


"Tentu, bagaimana dengan Nathe?"


"Tuan Samuel membawanya pergi ke New York untuk bersenang-senang. Kemungkinan beberapa hari lagi baru pulang."


"Baiklah, terima kasih."


New York? aku pikir paman kedua ingin memanfaatkan Nathe. Hal ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak ingin Nathe menjadi kaki tangannya untuk menghancurkanku. Terlalu lama memikirkan Nathe, aku tidak sadar bahwa Vinka sudah menungguku.


"Ayo berangkat," ajakku.


Kami berjalan beriringan setelah sampai di lobby. Hati seketika cemas ketika tidak mendapat kabar apapun dari Thian. Sebuah tangan menyentuh telapak tanganku, ternyata Vinka yang mengaitkan tangannya.


"Apa kakak baik-baik saja? sedari tadi kau tampaknya tidak fokus."


"Aku baik-baik saja."


Vinka tidak ingin masuk ke pesta karena begitu banyak orang dewasa dan dia tidak ingin terlihat seperti anak kecil. Karena dia memilih untuk menetap di mobil, aku menelpon Vava untuk membawa beberapa pengawal.


"Aku akan segera kembali."


"Tidak apa-apa, selesaikan dulu acaramu."


Aku mengusap pipinya sebelum meninggalkannya. Dia tampak tersenyum sembari melambaikan tangannya. Pancaran mata yang terlihat begitu kesepian membuatku seditik tak tega. 


Setelah menunjukkan kartu, para penjaga pintu langsung memberiku jalan. Tepat ketika aku melangkah masuk, semua orang menolehkan kepalanya melihatku. Ini pertama kali bagiku menunjukkan wajah di muka umum.


"Siapa wanita itu? Cantik sekali."


"Bukankah dia wanita yang pernah menabrak bocah?"


"Dia direkur Felister yang terkenal misterius."


"Benarkah? Dia adalah wanita yang menjadi trending topic antara Tuan Kenneth dan Nona Jessy. Berani sekali dia menunjukkan wajahnya di sini."


Hujatan yang diucapkan orang-orang membuatku menganggapnya seperti kicauan burung di malam hari.


Langkah kaki membawaku pada tempat para direktur berkumpul. Di sana aku melihat Kenneth dan juga Jessy yang berada di sampingnya. Aku memejamkan mata sejenak menghirup napas dalam-dalam.


"Selamat malam?" sapaku.


"Apa kau Direktur Felister?"Seorang pria mengenakan jas hitam yang tampak lebih tua dari Kenneth itu bertanya padaku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Wow! kau terlihat begitu menawan."


"Yeah, karena dia wanita." Aku menoleh pada wanita yang baru saja bergabung. Wanita itu tersenyum seraya merangkul bahuku. Caroline, aku tidak tahu bahwa dia merupakan salah satu direktur di sini.


"Kau siapa?" tanya Direktur Martin.


"Oh sebelumnya aku minta maaf. Namaku Caroline Dozz, aku menggantikan ayahku yang memiliki urusan di luar kota." Caroline terlihat mudah akrab dengan siapa saja, termasuk aku sendiri. Ternyata dia perwakilan dari Perusahaan Dozzion.


"Direktur Kenneth, siapa wanita di sampingmu?" tanya Direktur Zefran yang sebelumnya bertanya padaku. Dia adalah direktur dari perusahaan Adison yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaanku.


"Aku adalah tunangannya...Jessy, lusa adalah hari pernikahan kami. Aku mengundang kalian semua untuk hadir." Jessy menjawab dengan penuh percaya diri, padahal yang ditanya adalah Kenneth. Aku melihat Kenneth yang tidak menunjukkan reaksi apapun.


"Acara konferensi pers sebelumnya kita sudah mendiskusikan tempat yang akan menjadi wilayah pembangunan gedung, yaitu wilayah barat Perancis. Kali ini kita akan mulai membicarakan dana yang akan diberikan oleh masing-masing perusahaan."


Aku menahan senyum saat melihat Kenneth yang tidak mengindahkan Jessy. Di sampingku ada Caroline yang masih setia dengan tangan di pundakku. Rasanya seperti sudah akrab degannya, perlakuannya padaku seperti seorang teman.


"Aku mungkin hanya bisa €125 juta," kata Direktur Martin.


"Kalau kau?" Caroline bertanya padaku.


"Aku akan memberikan €155 juta," jawabku.


"Aku sendiri tidak bisa menyaingi Felison group. Hanya €130 juta," kata Zefran.


"€1 milyar. Kenneth pasti bisa mengeluarkan dana sebesar itu." Perkataan itu membuat kami semua langsung menatap Jessy, tidak percaya dengan apa yang dia lakukan. Seharusnya yang menentukan adalah Kenneth yang merupakan direktur sesungguhnya.


"Tapi, untuk jumlah yang begitu besar... bagaimana perusahaanku yang masih berada di bawah?" kata Direktur Martin.


"Banyak dana yang masuk, maka pembangunan akan semakin cepat dan mendapatkan hasil yang sempurna," jelas Jessy.


"Oh ya? bagaimana dengan kami yang tidak bisa menyanggupinya?" kata Caroline.


"Kalian termasuk perusahaan 5 terbesar di Perancis. Apa begitu sulit mengeluarkan uang demi kepentingan bersama?" 


Kenneth tidak memberikan respon apapun, begitupun denganku. Aku hanya ingin tahu seberapa jauh dia mendalami dunia bisnis. Tapi, Kenneth sudah menunjukkan wajah tak ramah dengan tangan terkepal di bawah meja. 


Caroline terlihat begitu sengit saat Jessy terus saja ikut campur dalam dunia yang tidak dia ketahui. Para direktur lain juga tampak berbisik-bisik.


"Untuk orang yang mengetahui dunia bisnis, bagaimana bisa mengatakan hal seperti itu?" ujarku.


"Kita di sini untuk berdiskusi, yang berarti menetapkan keputusan sesuai kesepakatan. Kau tidak tahu apapun mengenai bisnis, jadi lebih baik diam dan dengarkan keputusan kami." Kenneth menatap tajam ke arah Jessy. Puas rasanya membuatnya merasa terpojok. Kami melanjutkan diskusi dan selama itu Jessy tidak mengatakan apapun, hanya menatapku dengan pandangan penuh kebencian.


"Terima kasih." Aku mengucapkan itu saat Caroline menaruh segelas minuman.


"Sama-sama, kau tahu...sebenarnya aku tidak ingin pergi ke acara ini. Tapi ayahku terus saja memaksaku...." Caroline berbisik tepat di telingaku. Mataku melirik ke arah Kenneth yang masih menjelaskan jalannya acara dan ketentuan.


"Tapi kau tidak bisa menolaknya...," balasku dengan lirih.


"Bagian direktur keuangan yang akan mengurus biaya dan setelah itu dana akan dikumpulkan pada perusahaanku, apa ada yang keberatan?" Kenneth mengakhiri penjelasannya.


Tidak ada yang berkomentar, maka keputusan sudah di tetapkan. Harga €135 juta yang akan diberikan oleh masing-masing perusahaan. Acara selanjutnya adalah Kenneth yang akan mengumumkan hasil diskusi pada tamu yang diundang.


Aku sudah lama meninggalkan Vinka sendirian. Oleh karena itu, aku akan pergi lebih dulu dan menyuruh Vava untuk melanjutkan acaranya.


"Vava, kau tetap di sini. Aku harus segera kembali ke mobil."


"Tapi acaranya belum selesai."


"Kau sudah biasa menangani ini. Tidaklah sulit bagimu, kan?"


Aku menepuk bahunya beberapa kali sebelum pergi. Aku segera berjalan cepat meninggalkan hotel menuju mobil. Sudah setengah jam aku di dalam, semoga saja Vinka tidak bosan menungguku.


"Kakak?! Kau sudah kembali?"


"Tentu saja, aku berjanji akan segera kembali."


Aku menyuruh Vinka untuk masuk. Tapi, pergerakan ku terhenti saat merasa ada orang di belakangku.


Bugh!


"Kakak?!"


Tengku leherku sangat sakit dan sebelum kesadaran ku menghilang, aku mendengar suara Vinka yang berteriak memanggilku.