
Setelah melewati malam yang panjang, akhirnya aku baru bisa tertidur nyenyak. Apa yang ada dipikiran kalian ketika membaca kalimatku? Sebenarnya Sean terus menangis yang membuat aku dan Kenneth terpaksa menahan kantuk. Sebelumnya aku tidak mengerti apa yang Sean inginkan, tapi aku berusaha menenangkannya dan baru berhenti menangis ketika aku memberikannya sebotol susu.
Ada sesuatu yang memegang pipiku, lalu sesuatu yang basah menempel membuatku membuka mata. Aku kira Kenneth yang menggangguku, ternyata Sean yang sepertinya berusaha membangunkanku. Aku menoleh ke arah Kenneth yang masih tertidur dengan pulas.
"Sean? kau baik-baik saja, kan? aku masih mengantuk, jadi jangan ganggu aku." Aku kembali merebahkan tubuh di kasur. Sean terus saja membangunkanku dengan tingkahnya yang tidak bisa diam. Aku yang kesal terpaksa bangun dan beranjak untuk mencuci muka.
Aku melirik ke arah jam tangan yang menunjukkan pukul 9 pagi. Berjalan-jalan sebentar mungkin saja membuat pikiranku kembali fresh.
"Kau mau berjalan-jalan denganku?" Sean tersenyum ketika aku menggendongnya. Aku menatap ke arah Kenneth, biarkan saja dia tidur lebih dulu. Aku langsung keluar membawa Sean.
Ternyata tidak seperti bayanganku yang memiliki pikiran fresh, justru malah mebuatku semakin mengantuk. Sepoi angin menerpa wajahku dengan lembut. Aku singgah di sebuah bangku, menatap sekitar yang cukup ramai dengan orang-orang.
Sean asik memakan biskuitnya, sedangkan aku hanya melihat sekitar taman. Tiba-tiba ponsel bergetar, aku segera membukanya dan menerima sebuah pesan dari seseorang yang sudah tidak berarti dalam hidupku.
'Justru kepulanganmu membuatku semakin ingin membunuhmu.' Aku memasukkan ponsel ke dalam saku. Tepat saat itu seseorang membuatku terkejut.
"Kalian membuatku khawatir. Mengapa tidak membangunkanku?" kata Kenneth.
"Apa masalahnya denganmu? aku bisa melindunginya."'
"Kau bisa melindunginya bukan berarti kau bisa melindungi diri sendiri."
Sakit kepala membuatku pening, aku memijit pelipis untuk mengurangi rasa nyeri. Aku belum sarapan bahkan tidak membawa obat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kenneth cemas. Aku hanya mengangguk sebagai respon. Kenneth mengambil alih Sean dan menggenggam tanganku pergi dari sana. Kenneth membawaku ke sebuah restoran.
"Buka mulutmu."
"Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tidak ada bantahan, jangan membuatku berubah pikiran hingga melakukan berbagai cara agar kau mau makan."
Aku terpaksa membuka mulut. Tidak tahu bagaimana perasaan Kenneth ketika menyuapiku dan Sean, pasti merepotkan. Aku mengambil sebuah piring yang berisikan appeltaart dan menyodorkannya pada Kenneth. Terjadilah aksi saling suap-menyuap.
"Lihat! keluarga yang sangat harmonis."
"Mereka sangat serasi."
"Ingin rasanya seperti mereka."
"Semoga mereka selalu hidup dalam kebahagiaan."
Jika bukan karena Kenneth yang keras kepala, mana mungkin aku akan menyuapinya. Tunggu, kalian jangan mengira yang tidak-tidak. Aku menyuapi Kenneth karena aku yakin Kenneth belum sarapan sehingga aku sangat kasihan melihatnya.
"Mereka semua membicarakan hal baik tentang kita. Apa kau tidak senang dengan hal itu?" tannya Kenneth.
"Tidak senang? untuk apa aku senang dengan suatu hal yang tidak pasti?"
Kenneth mengangkat bahunya acuh. Aku menghembuskan napas setelah selesai sarapan. Aku meminta Kenneth untuk segera kembali ke Perancis dan untungnya Kenneth langsung menyetujui. Mungkinkah karena kejadian semalam yang membuat Kenneth merasa bagaikan kerja lembur?
Kami pada akhirnya kembali ke Perancis dengan mobil. Selama perjalanan, aku bergantian memangku Sean. Mataku yang terasa berat perlahan menutup. Sebuah tangan menyentuh kepalaku dan membawanya ke sebuah bahu yang terasa nyaman. Kenneth, aku tahu kau pasti yang melakukannya. Biarlah seperti ini sementara waktu, aku benar-benar membutuhkan istirahat.
Sepertinya aku tertidur lama, aku tidak melihat kenneth maupun supir. Hanya ada diriku seorang di dalam mobil.
"Alexa? kebetulan sekali kita bertemu disini, aku baru saja tiba di Perancis dan ingin bertemu denganmu."
"Lepaskan!" Aku menghempaskan lengan Alvin yang memegang tanganku. Suatu hal yang buruk karena aku bertemu dengan Alvin.
"Alexa, aku ingin menjelaskan kejadian beberapa tahun lalu—" "Aku tidak butuh penjelasanmu! lebih baik kau pergi dari sini."
"Aku masih menyukaimu, aku ingin kembali padamu. Kita masih bisa bersama seperti dulu." Kembali seperti dulu? aku yakin bahwa pria ini sangat gila. Justru satu-satunya hal yang tidak ingin aku lakukan adalah kembali ke masa lalu. Di masalalu, aku hidup dikelilingi kabut gelap dan setiap saat selalu menghadapi keheningan.
"Waktu berputar ke masa depan ,jadi jangan harap kau bisa kembali ke masa lalu."
Aku melihat Kenneth, Sean, dan supir yang baru saja keluar dari toko kue. Aku menatap Alvin yang terlihat kebingunan melihat Kenneth yang mendekatiku. Namun, seketika ekspresi terkejut mendominasi wajahnya.
"A—Alexa...ka—kau sudah menikah?"
Aku memalingkan wajah tidak ingin melihat Alvin yang begitu kecewa. Aku tidak ingin menjelaskan apapun dan tidak ingin dia mengetahui apapun. Kenneth mengernyitkan dahi ke arahku.
"Kau benar-benar wanita murahan seperti yang Liolyn katakan!" plak. Tanpa berpikir panjang tangan ini melayang ke wajahnya.
"Jangan pernah mengatakan omong kosong!" Aku mengambil Sean dan langsung masuk ke dalam mobil. Aku memperhatikan Kenneth yang masih memandangi Alvin.
"Siapa kau? berani mengganggu wanitaku?" ujar Kenneth.
"Apanya yang wanitamu? dulunya adalah wanitaku!" Aku langsung menutup mata Sean ketika Alvin melayangkan pukulannya pada Kenneth. Kejadian ini sungguh tidak patut dilihat. Kenneth yang berhasil menghindar langsung membalaskan satu pukulan dan masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan menuju villa, aku dan Kenneth saling diam. Aku merasa bersalah entah karena apa melihat Kenneth yang tidak menoleh ke arahku. Bahkan sampai di villa, Kenneth langsung keluar dari mobil tanpa mau menungguku.
'Apa aku berbuat salah?' batinku. Sudahlah biarkan saja dulu, aku perlu membawa Sean pada Flona.
"Nona, ada suatu hal yang ingin aku sampaikan." Pengurus Rose menghentikan langkahku dan Kenneth karena aku yakin dia mendengar apa yang Pengurus Rose katakan.
"Aku akan menemuimu setelah mengantar Sean ke kamar." Pengurus Rose mengangguk sebelum pergi. Aku melihat Kenneth yang tidak mengatakan apapun dan langsung memasuki kamarnya.
Aku mencari keberadaan pengurus Rose seperti yang aku katakan. Melihat pengurus Rose yang berada di dapur, aku segera menghampirinya.
"Ada apa, Bibi?"
"Selama kalian pergi, ada seorang wanita yang menitipkan ini padaku." Pengurus Rose menyerahkan sebuah map cokelat.
"Hanya menyerahkan ini saja?"
"Aku tidak begitu jelas ketika dia berbicara karena harus mengangkat telpon. Kalau tidak salah, dia menyebutkan Magi."
"Baiklah terima kasih."
Mungkin saja yang dimaksud pengurus Rose adalah Maggie. Aku pergi ke kamar untuk melihat isi dari map tersebut. Hanya berisi beberapa foto yang menampakkan paman kedua bersama Liolyn ketika berada di perusahaan. Selama ini berarti paman kedua berulah lagi. Aku mengambil ponsel dan menelpon Thian untuk bertemu.
"Hola, marindukanku?"
"Sore ini cafetaria." Aku langsung mematikan sambungan.