The Diamond

The Diamond
Seorang pengintai



Keheningan mendominasi ruangan. Hanya ada Kenneth dan aku. Beberapa menit yang lalu, Kenneth menyuruh babysitter Sean untuk membawa Sean pulang. Terlalu lama di rumah sakit tidaklah baik untuk Sean.


Aku berusaha bangun dari bangsal. Di sini sangatlah membosankan. Ponselku berada di rumah, aku takut keluarga paman tua akan khawatir.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Kenneth.


"Boleh aku meminjam ponselmu?" Aku menatapnya dengan tatapan puppy eyes. Kennetn terkekeh dan menyerahkan ponselnya. Aku yakin dengan ekspresi seperti ini tidak ada yang mau menolak.


Orang pertama yang aku hubungi adalah paman tua. Biasanya aku akan menghubungi Thian, tapi mungkin saja Thian masih dalam perjalanan.


"Hallo, siapa ini?"


"Paman, ini Sasha. Aku minta maaf jika membuat kalian khawatir."


"Apa kau baik-baik saja?Dimana kau? Biar paman menjemputmu."


"Aku baik-baik saja. Jangan mencemaskanku, aku ada di rumah teman. Aku akan tutup telponnya, sampai jumpa."


Aku mengembalikan ponsel Kenneth seraya mengucapkan terimakasih. Aku berdiri dan akan melepas infus. Dengan cepat Kenneth menahan pergerakanku.


"Apa kau gila?" tanya Kenneth memegang kedua bahuku.


"Iya, aku gila karena bosan. Kau mengerti?" Kenneth menyuruhku untuk menunggu sebentar. Kenneth pergi keluar, entah apa yang akan dia lakukan, aku hanya menurut.


Tak berselang lama, Kenneth datang membawa kursi roda. Apa Kenneth memiliki gangguan penglihatan? Aku masih bisa berjalan, tidak perlu menggunakan kursi roda. Kenneth terus membujuk ku untuk duduk di kursi roda.


Dengan terpaksa aku duduk, jangan ditanya bagaimana ekspresiku. Kalian sudah bisa menebaknya, raut tidak ramah. Kenneth dengan santainya mendorongku menuju taman.


Menurutku, di sini terlalu ramai. Bukan hanya dirinya saja yang berada di sini, tetapi pasien lain juga. Baiklah, setidaknya ada pemandangan yang dapat menyegarkan mata.


"Apakah di sana lebih indah dari yang di sini?" tanya Kenneth. Aku menoleh dengan alis terangkat karena tidak mengerti apa yang Kenneth maksud.


"Bukankah wajahku lebih indah daripada pemandangan di sana?" Aku menahan senyum mendengar penuturannya. Darimana datangnya orang narsis ini.


"Oh, ya? Kau berfikir apa saat aku memilih keluar dari ruangan? Karena aku bosan melihat wajahmu." Ponsel Kenneth berbunyi, aku melihat tatapan tidak suka dari wajah Kenneth. Aku jadi penasaran, siapa orang yang mengirim pesan? Kenneth langsung mematikan ponselnya dan menatap sekitar sebelum dia mendorong kursi roda.


"Hey! Aku belum puas melihat." Kenneth menyuruhku untuk diam. Sepertinya ada yang mencurigakan. Sampai di ruangan, dia mengetikan sesuatu pada ponselnya.


"Apa yang terjadi?" Kenneth menatapku serius. Dia memintaku untuk tetap di dalam. Kenneth keluar ruangan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, melihat Kenneth yang seperti itu, rasanya ada sesuatu yang akan terjadi.


Aku harus menunggu, duduk di bangsal memainkan jari. Sangat membosankan. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Aku langsung terkejut saat seseorang dengan topeng menodongkan pisau padaku.


"Siapa kau?" tanyaku perlahan mundur. Tidak, jangan tembok, aku tidak bisa mundur lagi. Aku berharap Kenneth akan segera kembali. Daripada bergantung pada Kenneth, sebaiknya aku melawan.


Saat aku mulai beraksi, orang itu berhasil mendapatkan tanganku. Dia menariknya dan menaruh pisau tepat di leherku ketika pintu ruangan terbuka, Kenneth datang dengan nafas tersenggal.


"Argh!" Seketika aku meringis saat pisau itu sedikit menggores leherku. Kenneth menghampiriku. Tapi, sebelum itu aku menyuruhnya untuk menangani orang itu.


Bodyguard Kenneth datang, langsung menyeret orang itu keluar. Kenneth memanggil dokter saat melihat darah mengalir dari tangan yang menutupi luka.


"Bodoh! Kau tidak perlu bertindak seperti tadi! Jika kau ingin mati setidaknya pikirkan orang-orang lebih dulu!" bentak Kenneth membuatku sedikit takut. Kenneth lebih mengerikan saat marah. Kenneth memelukku erat, mencium puncak kepalaku.


"Maaf, aku hanya tidak ingin kau terluka." Aku mengangguk. Dokter langsung mengobati lukaku, sedangkan Kenneth membersihkan darah yang ada di tangan. Sebenarnya aku bisa membersihkannya nanti. Namun, Kenneth sangat keras kepala.


"Ini benar-benar bahaya, sedikit saja lebih dalam pasti akan mengenai nadi. Sebaiknya, lain kali hati-hati."


"Terimakasih...," ucapku.


Kenneth menatap ke arah luka di leherku dan mengecupnya singkat. Aku terpaku melihat kelakuannya. Kenneth tersenyum ke arahku sebelum akhirnya kembali mendekapku.


Aku mengangkat tangan membalas pelukan Kenneth. Di sini aku merasa nyaman, seolah-olah ada sepasang sayap malaikat yang akan melindungiku. Siapa tahu, Kenneth mengukir senyuman ketika aku membalasnya.


Kenneth menyuruhku untuk beristirahat dan sudah memerintahkan dua bodyguard untuk menjaganya dari luar. Kenneth harus pergi, entah apa yang akan dilakukan. Aku berdoa dalam hati supaya Tuhan selalu melindunginya.


Berjam-jam dalam ruangan sunyi membuatku bingung harus melakukan apa. Sudah waktunya makan malam. Aku memegangi perut yang lapar, Kenneth ini bodoh atau kejam. Tidak meninggalkan makanan untukku.


Aku tahu sibuknya Kenneth seperti apa. Mengurusi perusahaan besar dan organisasinya. Sebenarnya identitas asli seorang mafia tidak pernah di ketahui. Tapi, karena suatu hal aku bisa mengetahui identitas Kenneth.


Pintu ruangan terbuka, Kenneth datang dengan tampang lesunya. Kenneth duduk di sebelah bangsal, menggenggam tanganku kemudian mengecupnya. Aku terkejut melihat tangannya yang terlihat memar.


"Apa begitu sadis saat kau memukul?" Kenneth menatap lengannya yang memar. Dia terkekeh, mengusap lenganku.


"Tidak apa-apa." Pengurus Rose datang membawa makanan. Bahkan Sean pun datang bersama babysitternya. Aku merindukannya, padahal tadi siang baru saja bertemu.


Aku menyuruh pengurus Rose untuk membawa sebungkus es batu. Ku raih tangan Kenneth, mengobati lengannya yang memar.


Selesai mengobati, Kenneth menyuapiku. Aku sudah menolaknya, lagipula tanganku masih berfungsi. Karena memaksa, akhirnya aku menurut dan memangku Sean. Beberapa minggu lagi, mereka akan berpisah.


Aku langsung menyerahkan Sean ketika Kenneth selesai menyuapiku. Kini giliran aku yang menyuapinya, lagi-lagi karena Kenneth yang memaksa. Aku bisa melakukannya dengan leluasa karena babysitter dan pengurus Rose menunggu di luar.


"Lebih baik kau pulang bersama Sean," kataku.


"Baiklah aku akan menjemputmu besok pagi." Aku mengangguk. Sebelum pergi, Kenneth mengusap kepalaku.


Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Apa yang sudah aku lakukan? Mengapa rasanya sangat nyaman berada di dekat Kenneth. Akupun tidak menyadari bahwa sikapku perlahan berubah. Apa aku memiliki perasaan terhadapnya?


"Tidak tidak tidak, aku tidak boleh memiliki perasaan pada Kenneth." Aku terus menggelengkan kepala.


Daripada terus memikirkannya, lebih baik aku tidur dan mulai kembali beraktivitas seperti biasanya. Ngomong-ngomong aku jadi teringat dengan Zean. Zean selalu menungguku jika aku di rawat. Sifatnya sangat keras seperti Kenneth. Akh! Lagi-lagi aku teringat dengannya.