
Aku mendongakkan kepala menatap orang yang kini memandangku dingin. Kenneth? bagaimana dia bisa disini? apa yang dia lakukan disini? aku mengerjapkan mata dua kali.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.
"Ken? sejak kapan kau disini?" tanyaku. Mataku beralih menatap Thian yang terkejut melihat kedatangan Kenneth. Aku baru saja membicarakan Sean, semoga saja Kenneth tidak mendengar apapun.
"Kau Cristhian, kan? ketua dari The Angel Mirachel, mengapa kalian bisa bersama?" tanya Kenneth.
"Kami—""Teman, aku dan Thian adalah teman sewaktu berada di SHS." Aku menendang kaki Thian dari bawah meja agar tidak memberitahu yang sebenarnya.
"Teman? Sasha, sepertinya mulai saat ini kau tidak perlu bertemu denganku lagi." Kenneth meletakkan kotak merah di meja dan berlalu pergi.
Aku membelalakan mata mendengar perkataan Kenneth. Bagaimana bisa dia mengatakan hal ini? Aku meraih kotak merah dan membukanya. Gelang yang selama ini di simpan oleh Kenneth dan juga sebuah kalung liontin batu safir yang indah.
"Ken?! Thian, kau tetap disini dan jaga barang milikku." Aku segera berlari keluar tanpa membawa payung walaupun hujan turun dengan deras. Mataku menatap sekitar mencari keberadaan Kenneth.
"Kennn! berhenti disana!" Aku berteriak kencang, membuat pergerakan Kenneth yang akan membuka pintu mobil terhenti. Aku berlari menembus hujan untuk mengikis jarak.
"Kau belum menjelaskan maksud dari perkataanmu." Kenneth sama sekali tidak merespon perkataanku, bahkan membalikkan badanpun tidak.
"Satu kalimat sudah menjelaskan semuanya. Kau tidak perlu bertemu denganku lagi selain untuk pekerjaan, itu yang kau inginkan sejak dulu...menjauh dariku." Kenneth langsung masuk ke dalam mobil. Aku menatap sendu kepergian Kenneth yang seperti membenciku. Apa-apaan ini? tadi pagi dia masih mengantarku ke Amsterdam dan sekarang dia membenciku?
Memang benar yang Kenneth katakan bahwa aku ingin menjauh darinya, tapi itu dulu. Seharusnya aku merasa senang, tapi tidak. Mungkinkah aku memiliki perasaan padanya?
"Sasha, apa yang kau lakukan dengan membiarkan dirimu basah kuyup?"
Aku menoleh ke arah Thian yang memayungiku dan membawa kotak. Aku mengambil kotak itu dan payung, lalu pergi begitu saja tanpa peduli dengannya.
"Sasha, apa maksudnya ini?! kau meninggalkanku, bahkan membiarkan aku menggantikanmu di bawah hujan?! padahal aku baik-baik memayungimu dan menjaga barangmu. Benar-benar wanita kejam! Aku tidak ingin bertemu denganmu! tidak-tidak, aku akan memberikan pelajaran kepadamu bagaimana seseorang berbuat kebaikan!" seru Thian.
Aku berjalan dengan pandangan kosong, pura-pura tidak mendengar perkataan Thian yang begitu jelas. Aku menghentikan langkah dan membuka kotak itu, memandangi batu safir biru yang sangat indah, lagi-lagi aku mengangguminya.
Mengapa hatiku sakit mendapat perlakuan seperti ini? Aku kembali menutup kotak itu dan menyimpannya ke dalam saku baju.
"Nona, bagaimana bisa kau basah kuyup seperti ini?" kata Bibi Zoe setelah aku sampai di rumah.
"Tidak apa-apa, biarkan aku masuk."
"Tentu, silakan."
Aku berjalan menuju kamar dan pergerakanku terhenti saat melihat setangkai bunga mawar yang menempel pada balik pintu. Disana juga terdapat secarik kertas yang membuatku langsung mengambilnya.
'Yang datang memang pergi.Tapi bukan berarti menghilang.'
Aku mengernyitkan dahi membaca sederet kalimat itu. Aku sendiri tidak tahu sejak kapan bunga ini berada di balik pintu. Aku menghirup aroma bunga yang masih wangi dan segar. Aku meletakkan bunga dan kotak di atas nakas. Sebaiknya aku mandi lebih dulu agar tidak demam.
"Siapa yang meletakkan bunga mawar di kamarku? orang-orang di dalam tentu saja tidak mungkin...," gumamku.
Selesai mandi, aku duduk di bibir ranjang sembari memandangi kedua barang itu. Kejadian ini memang terjadi dalam waktu yang bersamaan, tapi bukan berarti dengan orang yang sama. Aku segera keluar dari kamar mancari bibi Zoe, mungkin saja dia mengetahui kejadian ini.
"Nona, makanan sudah siap." Baru saja aku akan memanggilnya, dia lebih dulu memanggilku. Aku mengangguk, lalu menarik kursi yang akan aku tempati.
"Bibi, apa ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku?" tanyaku.
"A-apa? tidak Nona, aku tidak berani melakukan itu." Aku melihat raut wajah bibi Zoe yang khawatir. Aku juga tahu bukan bibi Zoe pelakunya karena dia memang tidak pernah berani masuk ke kamarku tanpa izin.
"Tidak ada, Nona. Kami semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing," jawab Bibi Zoe.
"Baiklah, aku akan makan sekarang."
Malam ini aku makan sendirian, biasanya aku akan meminta bibi Zoe untuk menemani, tapi dia harus mengerjakan sesuatu bersama pelayan yang lain. Entahlah sesuatu apapun itu aku tidak ingin ikut campur.
Suara telpon rumah berbunyi, namun tidak ada yang mengangkatnya. Aku menatap sekitar yang ternyata memang sepi, tidak ada siapapun seolah-olah hanya aku di ruangan ini. Aku segera beranjak untuk mengangkatnya.
"Hallo?" ucapku
"..."
"Hallo?"
tut tut tut
Kedua alisku terangkat karena penasaran dengan siapa penelpon ini. Tidak ada suara apapun selain detik jam. Aku kembali menuju meja makan, tapi lagi-lagi suara telpon menghentikan langkahku. Aku langsung mengangkatnya dan terdengar suara yang sangat familiar.
"Hallo, bibi Zoe? apa hari ini kakak ku ada di rumah?" Aku kira penelpon sebelumnya, ternyata Nathe.
"Ini aku, ada apa? bagaimana kabarmu disana?"
"Ini kau? aku tidak tahu, biasanya selalu bibi Zoe yang mengangkat. Aku baik-baik saja, tunggu dulu...Apa ini benar-benar kakak ku? rasanya sedikit asing." Aku tidak merespon perkataan Nathe yang aneh.
"Kakak?"
"Ya?"
"Kalau sekarang aku percaya ini kau. Aku menelponmu, tapi tidak aktif. Bibi Zoe bilang kemarin kau tidak ada di rumah beberapa hari karena ada urusan kantor. Apa sudah selesai?"
"Ponselku low bat. Tentu saja."
"Aku lebih suka mendengar suaramu seperti tadi yang menanyakan kabarku. Kau bahkan bisa dibilang tidak pernah menanyakan, hanya mengucapkan. Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu, begitupun dengan ibu. Apa dia baik-baik saja?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ini yang selalu membuat hatiku dipenuhi rasa bersalah setiap harinya. Menyembunyikan fakta yang seharusnya tidak disembunyikan. Sudah lama Nathe tidak bertemu dengan ibu. Bahkan hanya bertemu dua kali semenjak dia pindah ke Amerika.
"Ada apa kau mencariku?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja untuk mengetahui kabarmu. Lusa aku pulang, jadi jangan sampai kau telat menjemput."
"Baikah, jika tidak ada aku akan tutup telponnya."
"Au revoir!" (selamat tinggal)
Aku meletakkan kembali telpon itu dan melihat Bibi Zoe yang baru saja keluar dari kamarnya. Aku pikir ada sesuatu yang disembunyikan.
"Apa ada sesuatu yang disembunyikan?" tanyaku.
"Tidak ada, Nona. Maaf aku tidak mengangkat telpon karena berada di kamar mandi." Aku hanya mengangguk dan kembali menuju ruang makan. Aku hanya menengguk segelas susu hangat dan pergi ke kamar. Rasanya tidak enak jika kembali makan, aku paling tidak suka jika waktu makan terpotong-potong.
Aku membuka laci nakas untuk mengambil map yang Thian berikan. Aku menepuk jidat karena map itu tidak aku bawa saat berada di cafetaria. Terpaksa aku harus ke rumah Thian untuk mengambilnya sendiri.