
Siang hari yang cerah dengan ditemani segelas Chocolate membuatku tenang. Uap yang keluar dari gelas chocolate memenuhi indra penciuman. Menyesapnya secara perlahan, menikmati harumnya. Sudah 6 jam berada di kantor, kini waktunya istirahat. Aku membereskan dokumen yang berada di meja dan berjalan mendekati jendela. Gelas digenggam sembari menatap keluar yang menunjukkan jalanan padat.
Tak lepas dari tatapan yang melihat ke arah taman. Banyak orang yang berada di sana, bunga-bunga yang mekar membuat taman semakin enak dipandang. Musim semi telah tiba, dan biasanya akan semakin banyak pekerjaan untukku.
Aku bukanlah tipe orang yang suka bermain-main diluar bersama teman. Justru aku merupakan orang yang selalu menikmati kesendirian. Yeah kalian bisa mengatakan bahwa aku ini seorang introvert. Menghabiskan waktu luang dengan menyendiri dan melakukan hobi-ku.
Mungkin kalian belum mengetahui apa hobi-ku. Biarku beritahu, aku sangat suka membaca. Sebagian orang selalu berpikir bahwa membaca merupakan hal yang membosankan. Tapi hanya dengan membaca aku memperoleh ilmu. Tak salah jika aku pandai dalam berbisnis karena membaca dari buku-buku yang aku baca selama ini. Bukan hanya buku bisnis saja yang aku baca, bahkan novel dan ensiklopedia lainnya juga aku baca.
Orang-orang menganggapku sebagai wanita sempurna. Tubuhku yang tinggi dan pandai dalam berbagai bidang akademik serta paras wanita cantikku. Aku akui memang aku cantik, karena aku seorang wanita sudah seharusnya dikatakan seperti itu. Mana mungkin aku dikatakan tampan dengan wajah wanita. Hanya saja kita semua tahu bahwa tidak ada makhluk yang sempurna. Kelebihan yang aku miliki menjadi penutup kekuranganku. Sehingga orang-orang tidak bisa melihat kekuranganku selain diriku sendiri.
Pintu ruangan terbuka menampakkan seorang wanita dengan pakaian kantornya yang rapi. Dia mendekati meja kerjaku dan meletakkan dokumen disana. Aku hanya menghembuskan napas lelah, sepertinya harus lembur lagi.
"Nona Felister, besok di hotel Caruso terdapat pesta resmi. Acara ini sudah di tentukan sejak bulan lalu. Mereka ingin kau sendiri yang menjadi perwakilan perusahaan,"ujar Vava.
Dia merupakan asistenku, yang selalu menggantikanku jika ada acara pesta perorangan. Tapi kali ini pastinya bukanlah pesta perorangan biasa. Aku tahu pesta ini diselenggarakan dalam rangka pembangunan proyek untuk 5 perusahaan terbesar.
"Kau datang seperti biasa. Nantinya aku akan datang tapi dengan berpura-pura sebagai tamu undangan saja. Berikan alasan pada mereka, kau harus bisa meyakinkan mereka walaupun tanpa diriku,"kataku.
"Baik, aku mengerti,"ujar Vava.
Tidak tahu harus bagaimana lagi. Banyak orang yang penasaran dengan diriku. Memang aku selalu menutupi identitasku dengan baik. Semua yang berurusan dengan perusahaan selalu dengan wakil Vava.
Aku tidak begitu suka menghadiri acara ramai seperti itu. Tapi aku juga tidak bisa diam dengan tenang. Biarpun aku tidak menghadiri pesta, aku selalu mengawasi Vava dalam acaraku. Jika ada masalah maka aku akan mengatasinya sendiri, tentunya tanpa identitas.
Aku kembali berkutat dengan dokumen yang perlu aku periksa dan tanda tangan. Saat memeriksa beberapa dokumen, pintu ruangan terbuka. Aku ingat tidak memerintahkan siapapun untuk ke ruangan saat ini. Aku tidak suka diganggu jika sedang bekerja. Tapi melihat seorang anak kecil berlari mendekatiku, aku langsung mengubah ekspresi.
"Ma-maaf direktur, tuan muda memaksa ingin bertemu denganmu. Kami tidak bisa menghentikannya,"ujar penjaga yang sepertinya mengejar sepupu kecilku.
"Tak apa,"ujarku.
Aku menatap Zean yang menepuk diriku dengan senyuman diwajahnya. Aku memangkunya dan bertanya mengenai kehadirannya. Aku pastikan ada sesuatu yang diinginkan Zean.
"Sasha, temani aku makan siang direstauran seafood. Aku yakin kau juga belum makan," kata Zean.
"Aku masih banyak kerjaan, aku akan meminta Vava menemanimu,"kataku.
Selesai mengganti pakaian, aku langsung menuntun Zean ke bawah. Para karyawan langsung menyapa begitu melihatku yang dibalas dengan anggukan. Mereka sudah mengetahui bagaimana sifatku, sangat jarang tersenyum bahkan bisa dibilang tidak pernah. Hanya beberapa orang saja yang pastinya pernah melihat senyumku.
"Vava, kosongkan jadwalku untuk waktu dua jam kedepan,"kataku saat melihat Vava yang berada di meja resepsionis.
"Baik...Direktur,"kata Vava.
Melangkahkan kaki menuju tempat parkir VIP dengan sebuah kunci mobil di genggamanku. Zean bersorak senang saat memasuki mobil Lexus milikku. Sedikit tentang Zean, dia merupakan putra bungsu dari pamanku. Usianya baru 5 tahun dan kini sedang belajar ditaman kanak-kanak.
Aku mengendarai mobil menuju restauran seafood terdekat. Aku harus kembali bekerja supaya besok bisa menghadiri pesta tanpa melembur. Melihat Zean yang memakan makanannya dengan lahap membuatku senang.
Suasana disini tidaklah buruk, hanya restauran ini terlihat tidak banyak pengunjung. Selesai makan, aku langsung mengajak Zean pulang. Zean merupakan tanggung jawabku. Jika ada sesuatu terjadi pada Zean, maka aku yang paling bersalah.
Sampai di rumah paman, aku langsung menelpon bibi untuk membawa Zean masuk ke dalam. Dia harus cepat kembali ke kantor. Tak lama bibi keluar rumah dan langsung membawa Zean yang tertidur.
"Maaf merepotkanmu,"ujar bibi
"Tidak juga. Aku harus kembali ke kantor,"kataku yang diangguki bibi.
Aku mengerjakan dokumen lagi, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku merenggangkan tubuhku karena rasa nyeri. Di kantor hanya diriku dan beberapa karyawan yang masih memiliki pekerjaan menumpuk. Aku menuju ruangan badan pemasaran.
"Nona Felister!"seru salah satu dari mereka.
"Semuanya pulang sekarang! Pekerjaan bisa dilanjutkan besok!"perintahku yang langsung dilakukan oleh mereka. Dirasa tidak ada siapapun, aku langsung bergegas menuju parkiran.
Saat di perjalanan, aku merasa sedikit pusing. Kepalaku berdenyut nyeri, aku melirik jam dan ingat telah melewatkan waktu makan malam. Pantas saja kepalaku sakit, aku memiliki anemia.
Sampai di rumah, aku langsung bergegas menuju kamar mencari obat. Aku mandi lebih dulu sebelum tidur. Aku mencari Bibi Zoe yang mengurus ibuku selama aku tidak ada. Aku hanya ingin menanyakan tentang ibuku yang ternyata sudah tidur. Aku duduk di samping kasur ibuku, memandangnya rindu. Aku ingat saat sebelum tidur, ibuku sering membacakan cerita untukku.
Hanya ini yang bisa aku lakukan, menemani ibuku sampai aku merasa ngantuk. Menjaganya melalui bibi Zoe, dan menatapnya dari jauh. Sakit kepalaku tidak bisa ditahan. Lebih baik aku segera kembali ke kamar untuk istirahat.
"Nona, apa kau baik-baik saja?"tanya bibi Zoe saat aku keluar dari kamar ibu. Aku hanya mengangguk dan menyuruh bibi Zoe untuk beristirahat karena sudah malam. Aku tidak ingin membuat orang mencemaskan diriku.