The Diamond

The Diamond
Hilangnya Thian



Hal pertama yang aku lakukan adalah membawa Sasha pergi dari sini. Pandanganku sempat terkunci pada wajah pria yang berada di bawah Sasha, sepertinya kami pernah bertemu sebelumnya.


Selama perjalanan menuju rumahnya, Sasha tidak mengatakan apapun. Bahkan untuk menolehpun tidak, dia hanya menatap kosong pada apa yang ada di hadapannya. Kegiatannya itu membuatku gelisah dan sedih.


"Sasha?"


Sasha menoleh ke arahku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku menariknya ke dalam pelukanku memberinya celah untuk menangis. Ini pertama kalinya bagiku melihat Sasha menangis histeris.


"Aku akan melindungimu, tenanglah."


Aku tidak bisa menjauhkan diri dari Sasha. Setelah bertahun-tahun, inilah waktunya aku untuk bersama Sasha. Penantian yang sudah berakhir untuk dilalui, Sasha akan menjadi milikku. Aku jadi teringat dengan seorang gadis itu. Apa hubungan mereka? setauku, Sasha hanya memiliki satu adik laki-laki yang sedang menunjang pendidikannya di Amerika.


Aku mengantar Sasha sampai di kamarnya. Ruangan yang terlihat rapi dan elegan, namun terasa hampa. Sebuket bunga mawar dan boneka beruang yang berada di meja membuatku terpaku. Boneka itu, aku pikir ada seseorang yang memberikannya.


"Istirahatlah, aku akan pulang."


Ketika aku akan melangkah pergi, Sasha menahan lenganku. Sebelah alisku terangkat saat melihat Sasha yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


"Dimana Vinka?" tanyanya.


Vinka, aku tidak tahu siapa dia. Tunggu mungkinkah gadis yang meminta bantuan itu? Aku mendekat ke arahnya dan mengusap puncak kepalanya.


"Aku menyuruh Hayden untuk mengantar ke rumahnya."


"Rumah?!"


Melihat matanya yang terbelalak membuatku yakin ada sesuatu hal yang tidak aku ketahui. Aku hanya mengangguk untuk meresponnya. Dia beranjak pergi, buru-buru aku mencekal tangannya.


"Kau mau kemana? istirahatlah."


"Tidak! bawa aku menemuinya."


Aku tidak ingin membuatnya sedih, mungkin dengan membawanya menemui gadis itu membuat suasana hatinya tenang. Sasha menghentikan langkahnya saat melihat bibi Zoe yang keluar dari kamar.


"Nona Sasha, Tuan Kenneth."Bibi Zoe membungkuk hormat pada kami. Sasha langsung berlari memeluknya dengan erat. Melihat Sasha yang harus memikul tanggung jawab di keluarga Felister membuatku sedikit iba sekaligus bangga.


"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Sasha.


"Sepertinya begitu, Tuan Nathe begitu senang menceritakan kegiatannya saat di sana."


"Aku mengerti itu, aku akan pergi. Jika ada sesuatu kabari aku," kata Sasha.


Aku tersenyum saat Bibi Zoe menatapku. Di mata Sasha, Bibi Zoe sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri. Aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi Sasha yang menghadapi berbagai masalah.


Sampai di panti asuhan, Sasha langsung keluar dari mobil meninggalkanku. Seharusnya aku tidak melakukan hal ini. Aku langsung pergi dari sana dengan memacu mobil menuju villa. 


Sasha's POV


Aku tidak tahu dimana keberadaan Vinka. Mungkin bagus baginya setelah kembali ke panti. Tapi, aku merasa tidak rela membiarkannya pergi.


"Permisi, Nona. Kau mencari seseorang?" Seorang wanita tua bertanya padaku. Mungkinkah wanita ini adalah Bibi Zainun yang dibicarakan Vinka? Aku mengangguk dan bertanya mengenai Vinka.


"Aku adalah pengurus panti ini, namaku Zainun. Kau ingin menemuinya?"


"Aku Sasha, iya aku ingin bertemu dengannya."


Bibi Zainun membawaku menemui Vinka. Panti yang terlihat sederhana ini bisa menampung kurang lebih 7 orang. Namun suasana yang begitu sejuk dan indah membuat siapa saja akan merasa nyaman.


"Vinka tidak seperti teman-temannya. Dia tidak pernah ceria ketika bermain, hanya tersenyum saja. Mungkin kau bisa membuatnya ceria." Bibi Zainun menceritakan mengenai sikap Vinka ketika berada di panti. Aku kira Vinka sama seperti anak yang lain karena saat kami bersama, dia terlihat lebih bahagia.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?" tanyaku.


Bibi Zainun menghentikan langkahnya dan menunjuk ke arah dimana Vinka berada. Di jam sekarang, seharusnya dia sudah tidur di kamarnya bersama anak-anak yang lain.


"Terima kasih," kataku.


Setelah Bibi Zainun pergi, aku mendekati Vinka yang tengah duduk di bangku taman seorang diri.


"Apa kau tidak takut akan ada orang yang menculikmu?" kataku.


Vinka hanya menggeleng tanpa menoleh. Aku yakin kalau dia belum mengetahui bahwa aku sudah kembali. Satu detik kemudian dia menoleh.


"Kakak?! Kau baik-baik saja?" Vinka memelukku dengan erat. Terdengar Isak tangis berasal dari Vinka. Air matanya yang mengalir begitu deras membuatku tidak tega dan terpaku. Dia menangisiku, apa aku begitu berharga baginya?.


"Aku baik-baik saja, kenapa kau menangis?" Aku mengusap pipinya menghapus jejak air matanya. Dia tampak iba dengan matanya yang sembab.


"Aku mengkhawatirkan mu, aku benar-benar takut jika tidak bisa bertemu denganmu."


Bibirku tertarik ke atas mendengar penuturannya. Disaat semua orang ingin aku pergi dari dunia ini, ada beberapa orang yang terus menarikku untuk bangkit.


Waktu yang sudah malam membuatku segera berpamitan. Sebenarnya aku ingin mengadopsi Vinka, tapi aku tidak ingin ada bahaya lain yang akan menimpanya.


Bibi Zainun dan juga Vinka mengantarku sampai ke depan. Tidak ada mobil yang sudah dipastikan Kenneth pergi meninggalkanku. Seharusnya aku sadar bahwa tidak ada yang akan terjadi lagi diantara kami.


Kata-katanya yang berusaha menenangkanku hanyalah sebuah kata-kata, bukan kenyataan. Terpaksa aku harus menelpon seseorang untuk menjemputku.


"Kau ke sini dengan siapa?" tanya Bibi Zainun.


"Temanku, tapi mendadak ada acara sehingga dia pulang lebih dulu."


"Lalu siapa yang akan mengantarmu pulang? Kenapa kau tidak tinggal disini untuk sementara waktu?" kata Vinka.


"Vinka, tidak apa-apa. Akan ada orang yang menjemputku sebentar lagi. Lain kali aku akan kembali ke sini."


Tak lama setelah itu seseorang datang dengan mobilku. Aku melambaikan tangan tanda perpisahan dengan mereka.


Ddrrtt ddrrtt


"Hallo?"


"Iya, ada undangan untukmu dari perusahaan Anderson. Lebih tepatnya Kenneth, dalam acara pernikahannya."


"Besok letakkan saja di mejaku."


"Mmm...Sasha?"


"Katakan saja."


"A–apa Thian baik-baik saja? Sudah lama dia tidak memberiku kabar."


Thian, dia bahkan tidak mengabariku. Tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, aku berharap dia baik-baik saja. Thian dan Vava akan menikah dalam waktu yang dekat ini. Tapi tidak ada kabar dari Thian sampai sekarang, bahkan pada Vava.


"Sasha, hallo? Apa kau masih di sana?"


"Ya, aku rasa begitu. Dia baik-baik saja, aku harus istirahat sekarang. Sampai jumpa."


Aku harus menyelidiki keberadaan Thian. Tujuanku untuk sekarang adalah pergi ke kediaman paman tua. Mungkin saja dia mengetahui sesuatu, namun aku melihat rumah paman tua yang begitu sepi.


____________________________∆∆∆_______________________________


Author butuh like dan komennya😇