The Diamond

The Diamond
Selamat tinggal Alvin



Aku berusaha membuka pintu yang nyatanya terkunci. Perasaanku menjadi gelisah karena sepertinya tidak ada orang sama sekali. Jam yang melingkar di tangan menunjukkan pukul 12 malam yang hampir dini hari. Sebuah amplop terselip pada pengesat kaki. Aku mengambil amplop itu dan membaca surat yang ada di dalamnya.


To: Sasha


Aku harap kau yang menemukan surat ini, Sasha. Beberapa hari yang lalu Thian memberi kami kabar bahwa Samuel mengirim mata-mata. Aku tahu bahwa terget mereka bukanlah aku, tapi kau. Mereka memanfaatkan kami untuk mengelabuimu. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk pergi setelah mengalihkan perhatian mereka. Untukmu aku peringatkan, tidak terjadi apapun dengan Nathe. Sam sangat menyayanginya, hati-hati dengan tipu muslihatnya.


^^^Your family^^^


Suratnya begitu singkat hingga aku tidak begitu mengerti. Jika paman membuat surat untukku, mengapa tidak langsung mengabariku? Bahkan Thian tidak memberi kabar apapun padaku. Aku kembali melipat surat itu dan segera pergi dari sana setelah melihat sekitar yang cukup sepi.


_____________


Aku tiba di kantor sedikit siang karena harus mengoptimalkan energi setelah malam yang panjang. Begitu masuk ke ruangan, sebuah undangan cantik tergeletak di atas meja kerja. Perlahan tanganku mengambilnya seraya membaca nama dua mempelai.


'Kenapa? Kau hanyalah orang asing dan akan tetap seperti itu.' aku berkata dalam hati sambil mengusap nama Kenneth. Pria yang selalu bersama kita bukan berarti jodoh kita, Tuhan telah mengatur skenario yang indah.


"Sasha?"


Aku menoleh saat seseorang tiba-tiba memanggilku. Napasku lega saat mengetahui kalau orang itu adalah Vava. Dahiku berkerut melihat Vava yang datang tanpa membawa berkas apapun.


"Ada apa?" tanyaku.


Raut wajahnya tampak memelas seolah-olah ingin meminta pertolongan. Aku yang mengerti itu lantas membawanya menuju sofa. Tiba-tiba Vava menggenggam tanganku sembari memohon.


"Izinkan aku bertemu dengan Thian, aku ingin berbicara dengannya."


Mulutku terkunci rapat mendengar permohonannya. Andaikan jika aku bertemu dengan Thian, bahkan untuk berkomunikasi pun aku tidak. Bagaimana bisa aku memberitahu pada Vava?


"Maaf, aku tidak bisa menolongmu."


Aku menarik tanganku agar Vava tidak terus memegangnya. Matanya terbelalak menatapku tidak percaya.


"Ada banyak hal yang tidak boleh kau ketahui dan ada banyak hal yang tidak bisa aku mengerti. Ketahuilah bahwa kita berada di posisi yang sama. Aku yakin Thian baik-baik saja."


Aku merengkuh tubuh Vava yang bergetar akibat menangis. Sembari menenangkan Vava, mataku melihat pada koran yang menunjukkan sebuah artikel pembunuhan. Terkejutnya lagi adalah berita kematian Alvin dan Liolyn.


"Tunggu, bagaimana bisa?" Aku mengambil koran itu dan membacanya dengan detail. Ini kejadian semalam dan beritanya sudah tercetak hari ini. Bukankah tidak ada siapapun di tempat kejadian? Vava mengambil alih koran itu dan terbelalak.


"I–ini, ba–bagaimana bisa terjadi? Sasha, Alvin-" "Aku tahu. Kejadian ini memang benar adanya."


"Lalu, kau tidak menemuinya?" ujar Vava.


Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Kejadian menegangkan itu terus terngiang di otakku seperti kaset. Pernyataan Alvin membuatku tidak bisa melupakannya, apalagi keberaniannya yang tidak terduga. Tapi,didetik terakhirnya ini aku harus mengantarnya.


Aku tidak tahu keadaan Liolyn. Semoga saja dia bisa tenang di sana. Aku memang membencinya, tapi aku masih memiliki hati untuk mendoakannya. Jika Liolyn tiada, masih ada Jessy yang mungkin saja bisa membalaskan dendamnya padaku. Musuh gugur satu, tumbuh musuh yang lain.


"Kau ikut bersamaku?" ajakku.


Melihat Vava yang mengangguk membuatku segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah Alvin. Satu kebaikan seharusnya tidak tertutupi dua kejahatan. Kebaikan yang dimiliki orang bukan berarti hilang setelah melakukan kesalahan. Kehidupanku bersama Alvin menyisakan sebuah kebahagiaan hingga sekarang.


Sebuah kata yang terucap melalui mulut bukan berarti sama dengan hati. Hati dan lisan sudah pasti berbeda. Walaupun mulut berkata kejam, maka hati bisa berkata lembut. Tak pernah terbayangkan jika hidupku akan melalui ini semua.


Pada akhirnya aku akan tetap mengantar Alvin sampai di tempat peristirahatan terakhirnya. Banyak teman dan sanak saudaranya yang datang. 


Aku berdiri sedikit jauh dari mereka karena tidak ingin terlalu dekat. Ditambah lagi orang-orang mengetahui bahwa dulu dia pernah memiliki hubungan dengan Alvin.


Disaat satu per satu orang pergi, barulah aku mendekat ke arah tempat akhir peristirahatan Alvin. Hanya ada satu orang wanita yang masih setia berdiri sambil menangis.


Wanita itu menoleh ke arahku dan kami sama-sama terkejut. Wanita itu adalah Caroline, dia menangis tersedu-sedu di tepi makam Alvin. Seketika sorot mata itu menatapku sendu, seolah-olah ada hal yang tidak terelakan.


"Caroline?" gumamku.


"Sasha? Mmm maaf, aku terlalu sedih."


Caroline menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya dengan telapak tangan. Senyuman terukir di wajahnya dan menarikku menjauh dari pemakaman.


"Sasha?!" panggil Vava.


"Kau tunggu di mobil saja. Aku akan segera kembali," balasku.


Caroline membawaku pada sebuah bangku panjang. Dia menyuruhku untuk duduk di sebelahnya. Aku tidak mengerti, sikap Caroline yang sekarang tampak berbeda dari biasanya.


"Ada yang ingin kau bicarakan?" tanyaku.


"...Kenapa? Kenapa harus Alvin yang pergi?" Caroline menoleh ke arahku. Sirat dari matanya mengatakan bahwa dia terlihat kecewa.


"Kau...maksudmu?" Jika bukan Alvin yang pergi, maka secara langsung dia ingin aku yang pergi. Mataku terpejam sesaat membuang pikiran negatif yang tiba-tiba bermunculan.


"Kenapa tidak Liolyn saja? Kenapa Alvin juga harus pergi? Atau kenapa harus ada kejadian seperti itu?"


Aku tercengang ketika Caroline menyebut nama Liolyn. Aku pikir orang semacam Caroline tidak akan pernah mengenal wanita semacam Liolyn.


"Kau kenal Liolyn?" tanyaku.


"Aku tidak mengenalnya, hanya mengetahuinya."


"Kau menyukai Alvin?"


Tepat setelah aku mengatakan itu, Caroline menatapku dengan mata terbelalak. Aku tersenyum tipis dan memaklumi hal itu. Seperkian detik kemudian Caroline memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Apa yang kau bicarakan?" ujarnya.


"Aku tahu kau menyukainya. Sebenarnya Alvin sangat beruntung mendapatkanmu."


"Aku akui bahwa aku menyukainya, tapi belum tentu Alvin menyukaiku. Ada orang yang selalu di hatinya. Kau menyadari hal itu, kan?"


Aku tertegun mendengar penuturannya. Jadi dia tahu bahwa Alvin menyukaiku? Bagaimana bisa Alvin setega itu pada Caroline? Sedikit perasaan bersalah hinggap di hatiku.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."


"Aku mengerti. Kau tidak bertanya padaku kenapa aku bisa mengetahui Alvin dan Liolyn?"


Itu juga yang ada dalam benakku. Mengapa bisa tahu? Rasa penasaran sudah meronta sejak tadi, tapi aku tidak ingin membuat Caroline merasa risih dengan pertanyaan ku.


"Bagaimana kau mengetahui Liolyn dan mengenal Alvin?" tanyaku.


Caroline tertawa renyah, mungkin karena pertanyaanku.


"Baiklah, sebenarnya aku adalah...."


_______________________________________________________


Aelah napa digantung sih? kan penasaran sama lanjutan kalimatnya. ini nih yang bisa menjadikan pembaca merasa penasaran sehingga akan menunggu kelanjutan kalimat di episode berikutnya. hehe, maka dari itu jangan lupa tekan tombol like dan komen, oke😉👍biar aku jadi semangat untuk update.