The Diamond

The Diamond
Lambang misterius



Sampai di rumah Thian, seorang pembantu membuka pintu untukku. Zean langsung berlari menghampiriku. Sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Zean. Aku memeluknya dengan erat lalu mengusap kepalanya sebelum menemui Thian.


Thian menyuruhku segera ke ruang kerjanya, menutup pintu setelah masuk. Aku menghampiri Thian yang duduk dikursi kerjanya.


"Ada apa?" tanyaku. Thian masih mengutak-atik laptopnya. Dia menatapku cemas seraya berkata, "gawat! Chip tugas-tugas mirachel hampir ketahuan, Ben yang memberitahuku siang tadi."


Aku terkejut, Chip itu berisi tugas-tugas mirachel selama ini. Siapa yang berani mencurinya dari The Angel? Mungkin tidak begitu penting. Tapi, sedikit mencurigakan. Chip itu hanya berisi tugas-tugas yang sudah diselesaikan para mirachel. "Apa kau tahu siapa yang berusaha mencuri?" tanyaku mengambil alih leptop untuk melihat. Thian tidak tahu. Aku melihat sebuah lambang yang terpampang di layar monitor. Lambang itu seperti liontin kalung milik ibu Sean.


Apa karena ini ibu Sean menelantarkan Sean sementara? Aku harus mencari tahu dengan detailnya. Ku kembalikan laptopnya saat terdapat panggilan video masuk. Thian mengangkatnya dan terpampang wajah Ben.


"Thian! Bagaimana ini? Dia tidak mau mengaku. Kami sudah menyiksanya.Tapi, dia tetap diam."


"Apa kau tidak tahu caranya bertindak? Siapapun yang mengganggu The Angel pasti akan mati."


Aku rasa ada sesuatu yang aku lewatkan, aku ingin bertanya gender orang yang berusaha mencuri. Tapi, Ben langsung berkata bahwa itu seorang wanita. Mungkin saja baru menikah jika melihat adanya sebuah cincin dan wajahnya yang sedikit muda.


"Thian, suruh kau kurung orang itu lebih dulu. Tapi, aku minta padamu untuk menjaganya selama satu bulan lalu kalian lepaskan dia, " kataku membuat Thian menatap heran ke arahku. Aku harus mencari info lebih dulu, jangan sampai aku gegabah.


"Apa kau yakin akan melepaskan dia?" tanya Thian ragu. Aku hanya mengangguk, Thian langsung memberi perintah pada Ben. Tidak semudah itu aku melepaskannya. Aku hanya ingin memastikannya saja.


Pintu ruangan terbuka, Zean datang membawa mobil mainan miliknya. Thian langsung memangku Zean, aku memijit pelipis saat rasa sakit menyerang. Thian bertanya padaku mengenai tangan yang diperban. Aku hanya menjawab, "bukan apa-apa hanya terkena pisau."


Aku jadi ingat dengan Sean, apakah mereka baik-baik saja? Aku berharap tidak terjadi sesuatu. Huh! Aku yakin pasti tidak terjadi apapun. Toh, Kenneth pandai bertarung. Baru saja memejamkan mata, ponsel berdering.


"Jika kau ingin istirahat, pergilah ke kamarmu," ujar Thian membopong Zean yang tertidur. Aku mengangguk lalu mengangkat panggilan dari Kenneth.


"Sekarang cepat ke villa! Terjadi sesuatu dengan Sean. Aku tidak tahu harus melakukan apa!"


"Tidak bisakah kau berhenti menggangguku!"


"Tidak datang, jangan harap gelangmu kembali."


Aku berdecak kesal dan mencari keberadaan Thian. Saat menuruni tangga, paman dan bibi memanggilku untuk makan malam. Sebaiknya aku makan malam lebih dulu, kejadian beberapa hari yang lalu tidak ingin terulang lagi.


Aku berpamitan pulang pada keluarga paman. Mengendarai mobil menuju villa, keadaan jalan sedikit sepi. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, aku menurunkan kecepatan mobil. Bajuku sedikit basah karena terciprat air saat keluar mobil.


"Apa yang terjadi?" tanyaku sembari bersandar pada tembok. Kenneth memang seorang pembohong, tidak seharusnya aku mempercayai perkataannya. "Tidak ada apapun, aku hanya ingin kau disini," kata Kenneth. Aku mendekati nakas dan membuka laci, mengambil kalung milik Sean. Aku kembali mengamati, memang liontin dan lambang itu sangatlah sama. Kenneth mengambil kalung itu, melihatnya sekilas lalu menyerahkannya padaku.


"Sepertinya ibunya tahu akan ada bahaya yang menimpa Sean. Dan memilih orang tepat sepertiku," kata Kenneth. Aku yakin Kenneth mengetahui sesuatu. Aku ingat bahwa identitas mafia selalu disembunyikan. Maka dari itu, Kenneth tidak ingin mengatakan apapun padaku. Tapi, aku harus tahu siapa orang ini sebenarnya.


"Kau tahu tentang kalung ini?" tanyaku menggoyangkan kalung ditanganku. Kenneth menjawab, "itu hanya kalung biasa." Tidak salah, Kenneth memang mengetahui sesuatu. Apa aku harus memberitahu identitas lebih dulu?


"Apa kau yakin? Aku merasa sedikit aneh. Jangan menipuku lagi," kataku dengan mata memicing. Kenneth meletakkan Sean di atas kasur dan menatapku dengan jarak yang bisa dibilang dekat. Aku menahan napas saat wajahnya semakin dekat. Dia berbisik di telingaku, "kau penasaran?" Aku langsung mendorongnya, memalingkan wajah yang sedikit merona. Kenneth terkekeh karena mengira aku menantikan ciumannya.


"Aku seorang mafia, sudah tahu maksud kalung milik Sean. Lebih baik kau tidak mengenal dunia itu, jadilah wanita penurut karena aku menyukainya." Kenneth menepuk kepalaku. Aku ingat dengan ibuku, bahkan aku seharusnya mencari tahu siapa orang yang mengirim foto ayah. "Aku harus pergi," kataku bergegas. Kenneth sempat menarikku dan mencium pipiku. Seketika aku langsung menamparnya.


"Jangan pernah menyentuhku!"


Aku tidak percaya Kenneth akan melakukan hal itu padaku. Sepeninggalku, Kenneth memegang pipinya yang memerah. Tamparan ku tidak begitu kuat tapi cukup menyakitkan. Untungnya Sean tidak melihat tindakan kami. Jikapun melihat, pastinya tidak mengetahui apapun.


"Kau tidak akan pernah bisa pergi begitu saja."


Kenneth menatap kepergianku dari balik jendela. Sebelum sampai di rumah, aku melihat sebuah mobil baru saja keluar dari rumahku. Aku tidak memiliki tamu siapapun, bahkan ibuku juga tidak pernah menerima tamu.


Aku segera masuk ke dalam rumah, tidak ada yang aneh. Suasana rumah seperti biasanya, lalu siapa orang tadi? Aku mencari bibi Zoe untuk bertanya lebih lanjut. Dan dia berkata bahwa paman keduaku yang datang. Tidak tahu apa yang dia lakukan tapi seperti membicarakan sesuatu dengan ibuku. Sebelumnya ibuku sempat berteriak tapi setelah itu keadaan normal kembali. Bibi Zoe tidak mempermasalahkan paman kedua yang berkunjung ke rumah. Tapi aku merasa ada yang aneh, segera aku pergi menemui ibuku.


Tidak ada suara apapun di dalam, aku membuka pintu. Ibu sudah tertidur. Tapi mengapa bisa seperti ini? Aku mendekatinya dan tanpa sengaja melihat setetes cairan berwarna hijau di dekat gelas. Aku menyentuh cairan itu dan mengamatinya.


Amatoksin! Aku langsung berteriak memanggil bibi Zoe sembari berusaha membopong ibu yang tidak sadarkan diri. Jika telat sedikit maka nyawa ibu akan melayang. Aku segera membawa ibu ke rumah sakit. Siapa yang tidak tahu racun amatoksin? Racun mematikan yang menyerang hati dan ginjal. Inikah perbuatan paman kedua? Aku akan membalasnya suatu saat.


Dokter segera menangani ibuku. Bibi Zoe terus meminta maaf kepadaku. Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa, aku begitu percaya pada bibi Zoe. Tapi, kali ini akupun tidak bisa menyalahkannya. Beberapa menit kemudian dokter keluar.


"Kami sudah berusaha. Tapi racun itu begitu berbahaya. Saat ini pasien mengalami koma." Dokter itu pergi setelah aku menganggukkan kepala.


Koma....


Aku tidak pernah membayangkan hidup tanpa ibuku. Aku tidak tahu harus berkata apa pada Nathe jika ibu benar-benar pergi.