
Pagi hari disaat sarapan, aku tidak melihat ibuku. Keadaan seperti ini sudah biasa bagiku, Thian sudah duduk dengan roti di tangannya. Aku hanya mengambil satu lembar roti tawar dengan olesan selai cokelat. Saat aku beranjak, Thian memanggilku dan menanyakan gelang yang biasa aku pakai. Aku melihat ke arah pergelangan tangan. Seketika mataku terbelalak melihat gelang yang tidak ada ditanganku.
"Bukankah gelang itu milik pewaris keluarga Felister?" tanya Thian. Aku baru menyadarinya, mungkinkah jatuh saat pesta semalam? Aku tahu jawabannya. Aku berkata pada Thian, "aku tahu dimana gelang itu." Berjalan cepat meninggalkan ruang makan.
Thian menatapku dengan alis terangkat. Mungkin sebelumnya aku tidak pernah secemas ini. Tapi, ini barang berharga bagiku. Langsung saja aku menelpon Vava, menyuruhnya pergi ke Anderson Group mengambil gelangku. Sepertinya Kenneth mengetahui keberadaanku saat menemukan gelang milikku. Aku berharap gelang itu akan kembali. Pintu ruangan terbuka, Vava kembali dengan tampang lesunya. Apakah dia tidak berhasil mengambil gelang itu? Aku langsung bertanya, "apa yang terjadi?" Vava menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ia tidak bisa mengambilnya jika bukan direktur Felister yang menemuinya langsung.
Akh! Aku bingung kali ini, aku harus menyuruh manajer Maggie untuk mengambilnya. Masuk ke dalam lift dan menekan tombol 28. Kebetulan sekali, Maggie baru saja keluar dari ruangannya dengan menyapaku.
"Maggie, aku memberimu tugas. Pergilah ke Anderson Group, menemui Tuan Ken untuk mengembalikan gelang luxury milikku. Berpura-puralah menjadi direktur,"ujarku menatap Maggie yang sepertinya terkejut. Aku tahu pergi ke Anderson Group tanpa identitas yang jelas sangatlah sulit. Tapi mudah bagi orang-orang Felison Group. Maggie langsung mengangguk dan segera pergi.
Vava mendekat ke arahku dengan tergesa-gesa. Dia memberitahuku bahwa ada seseorang yang berusaha masuk ke dalam kantor. Aku segera turun ke lantai bawah untuk melihat siapa yang dicegah oleh bodyguard.
"Ada apa ini?!" seruku pada beberapa bodyguard yang sedang menangani seorang pria. Pria yang berada ditangan bodyguard berkata, "nona Felister, aku tidak diizinkan masuk ke dalam kantor. Padahal, Aku ingin memberitahumu informasi." Aku menghembuskan napas dengan kasar, menyuruh bodyguard untuk segera melepaskan Thian.
"Dimana wajah setan milikmu? Jika seperti ini lagi, lebih baik kau menjadi orang idiot," sindirku menatap Thian yang hanya tertawa. Thian mengikutiku keruangan. Ini yang pertama kali bagi Thian ke Felison Group, bahkan bermain-main.
Thian menjatuhkan dirinya ke sofa seraya berkata, "apa kau sudah menemukan gelang luxury itu? Bukankah itu gelang yang sangat berharga?" Aku hanya diam menatap layar monitor dihadapanku. Thian yang merasa diabaikan langsung berdecak kesal dan mendekat ke arahku.
Thian berbisik ditelinga kiriku dengan berkata, "The Demon mencarimu. Aku rasa ketua mereka ingin bertemu denganmu." Aku terdiam dengan kepalan tangan diatas meja. The Demon adalah salah satu organisasi mafia di Italia. Mereka selalu mencariku dengan alasan palsu. Tujuan mereka adalah melenyapkanku.
"Apa yang mereka katakan?" tanyaku dengan suara datar. Thian terkekeh menatapku, diraihnya sebuah pena yang ada disampingku. Memainkannya dengan berkata, "seharusnya kau bertanya, apa yang mereka lakukan? Mereka tidak percaya bahwa aku yang menggantikan posisi ketua di Angel. Kau tahu apa yang terjadi? Liolyn mengirim beberapa anak buahnya untuk menyerang The Angel."
Sudah kuduga, wanita itu tidak akan pernah berhenti mengganggu kekuasaanku sebelum berhasil dia raih. Selama bertahun-tahun, The Demon tidak berhenti untuk menghancurkan The Angel. Kita ditakdirkan untuk berhadapan sebagai lawan. Aku terkekeh seraya bertanya, "apa rencanamu selanjutnya?"
Thian yang penasaran langsung mendekat agar bisa membaca isi kertas itu. Tulisan rapi dengan tinta hitam membuat kertas itu enak dipandang.
'Hello, direktur. Aku sudah memberikan gelang luxury untukmu. Aku harap untuk kedepannya, kita bisa bertemu kembali.'
Aku merasa ada yang janggal dengan makna tulisan itu. Dengan segera aku melihat gelang dan mengamati bagian bawahnya. Tidak ada ukiran marga Felister di sana. Aku mengumpat kesal karena gelang itu bukanlah milik keluarga Felister.
Thian cekikikan melihat diriku yang kesal. Dia mengambil gelang itu untuk diamati. Memang gelang itu bukanlah milik keluarga Felister. Ternyata Kenneth menipuku, biarpun gelang ini memang asli berlian. Tapi, itu tidaklah berguna ketimbang ukiran marga Felister.
"Aku tidak menyangka ada orang yang bermain-main denganmu." Aku melirik ke arah Thian yang berbicara seolah-olah mengejekku. Aku terpaksa harus bertemu dengannya. Aku langsung mengambil tas dan mengenakan kacamata hitam. Thian yang tidak ingin berada di kantor sendirian memilih untuk pulang ke rumah. Sebelumnya, kami sempat bertukar mobil. Aku mengendarai buggati veyron milikku.
Anderson Group tidak jauh berbeda dengan Felison Group. Saat aku keluar mobil, ada banyak pasang mata yang menatap kearahku. Tidak jarang juga ada beberapa yang tersenyum ramah. Aku berpikir bahwa karyawan di sini tidak begitu buruk. Aku langsung menuju meja resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu?" ujar resepsionis itu dengan ramah. Aku menjawab, "aku mencari direktur Kenneth." Resepsionis itu mengangguk dan coba bertanya pada asisten Kenneth. Aku menghembuskan napas dengan kasar saat mengetahui harus menunggu karena ada beberapa urusan yang harus Kenneth kerjakan.
Satu jam kemudian
Aku sudah lama menunggu, bahkan sekarang diriku harus menghadiri meeting. Ponselku berdering, panggilan masuk dari rumah. Aku segera mengangkatnya. Terbelalak mataku saat mendengar bahwa ibu masuk ke rumah sakit karena terkena pecahan gelas. Aku langsung pergi begitu saja, masalah gelang biarkan urusan nanti.
Saat aku pergi, Kenneth yang baru saja keluar dari lift berusaha mengejarku. Tapi, aku sudah keluar lebih dulu dan masuk ke dalam mobil. Kenneth bertanya pada resepsionis, "apa yang terjadi?" Resepsionis itupun menjawab, "beberapa menit yang lalu, dia menerima telpon lalu pergi begitu saja."
Kenneth mengumpat kesal, tapi setelah itu dia tersenyum karena berpikir aku akan kembali untuk mencarinya lagi. Hayden yang merupakan asisten direktur menatap curiga ke arah Kenneth sejak kemarin. "Siapa sebenarnya orang itu?" tanya Hayden dengan tatapan memicing. Kenneth mengabaikan pertanyaan Hayden, lebih memilih untuk pergi keluar. Hayden mencibir lalu kembali ke ruangannya. Kenneth mengendarai mobilnya tidak tahu tujuan, dia hanya ingin pergi setelah melihat aku yang keluar dari kantornya.