The Diamond

The Diamond
Kesedihan Vinka



"Hallo, ada apa?"


"Seluruh perusahaan 5 besar sepakat untuk melakukan pertemuan kembali di hotel Caruso."


"Aku mengerti, aku sendiri yang akan hadir. Kau tidak perlu menggantikan ku lagi."


"Kau serius? Aku akan sangat senang jika kau muncul dipublik."


"Hmm."


Cepat atau lambat identitasku akan terungkap di publik. Saat itu juga aku harus menunjukkan pada publik bahwa aku dan Kenneth baik-baik saja.


Vinka, aku harus kembali ke rumah sakit. Beritaku yang menabrak seseorang sudah menyebar. Mungkin ada dalang lain dibaliknya. Ya Tuhan masalah hidup tidak akan ada habisnya.


Sampai di ruangan tempat Vinka dirawat, aku meletakkan bingkisan yang sempat beli dalam perjalanan. Raut wajahnya yang tidak pernah ceria membuatku bertanya-tanya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku.


"Tentu!"


Jawaban yang ketus keluar dari mulutnya. Melihatnya bertingkah seperti aku menatap pantulan cermin. Dari apa yang selama ini aku alami sepertinya sama dengan Vinka.


"Kau mungkin bisa berkata kasar, tapi di dalam hatimu...pasti ada suatu hal yang ingin kau lakukan namun tidak bisa melakukannya."


Vinka menatapku dengan sorot mata yang sendu. Inilah sosok aslinya, sangat rapuh. Aku duduk di sampingnya dan memeluknya erat seraya berkata, "Kau bisa berbagi cerita denganku."


"Untuk apa aku bercerita denganmu? Memangnya kau siapa?!"


"Untuk mengeluarkan masalah di hatimu yang sudah menumpuk. Aku penanggung jawabmu."


Aku merasakan tubuh Vinka bergetar. Dia memegang tanganku dengan erat. Suara ksak tangis keluar dari bibir kecilnya.


"Kau benar, aku ingin melakukan sesuatu yang tidak bisa aku lakukan. Hanya satu yang aku inginkan. Melihat kedua orang tuaku untuk terakhir kalinya. Mereka pergi tanpa aku ketahui dan tidak akan pernah kembali lagi."


Tes


Air mataku lolos begitu saja saat mendengar perkataannya. Ternyata yang dia alami jauh lebih buruk daripada aku. Aku masih bisa melihat jasad kedua orang tuaku, sedangkan dia tidak bisa.


"Apa yang terjadi dengan kedua orang tuamu?" tanyaku.


"Entahlah, bibi Zainun tidak menceritakannya padaku. Dia berkata bahwa aku mengalami kecelakaan."


"Lalu siapa yang membawamu ke panti?"


"Aku tidak ingat apapun."


Nasibnya begitu buruk. Aku tidak menyangka kehidupan masa kecil yang seharusnya diiringi tawa bahagia malah berubah menjadi tangisan kesedihan. Aku sangat beruntung karena masih ada kerabat yang selalu di sisiku.


Warna-warni kehidupan memanglah sempurna. Ada kesedihan, pasti ada kebahagiaan. Ada kejahatan, pasti ada kebaikan. Ada kebohongan, pasti ada kejujuran. Hanya saja semua itu akan kita lalui dengan jalan yang berbeda.


"Kakak? Boleh aku memanggilmu Kakak?" ujar Vinka.


Nathe, hanya Nathe yang memanggilku kakak. Aku tidak ingin ada orang lain yang menyebutku seperti itu.


"Kau tidak menyukainya?"


"Ah? Iya tentu saja aku suka."


Aku tersadar bahwa Vinka masih menunggu persetujuanku. Lagipula hanya panggilan, tidak akan merugikan ku.


"Tidak, jam segini aku biasa duduk di dekat jendela dan berdoa supaya aku bisa memimpikan kedua orang tuaku saat tidur."


Aku tersenyum sembari mengusap kepalanya. Gadis polos bisa berpikir hingga sejauh itu, benar-benar menakjubkan.


Kenneth's POV


"Keinginanmu dikabulkan Tuhan. Kau akan terus melihat Sean bersamaku."


Langit malam dengan taburan bintang begitu menangkan mata. Hanya perlu menghitung beberapa hari saja, maka aku bisa kembali ke jalanku.


Kondisi ayah semakin baik. Tapi aku tidak memberitahu soal Sean. Jika aku memberitahunya, kondisinya pasti akan kembali buruk.


"Aku pikir kau menghilang."


Hayden berdiri di sampingku. Dia sering sekali masuk tanpa permisi. Entah bagaimana paman dan bibi bisa memiliki anak sepertinya.


"Untuk besok, kau akan menghadiri pertemuan 5 perusahaan besar. Menurutmu, Sasha akan menunjukkan dirinya?"


"Mungkin saja iya. Berita mengenai dirinya sudah hampir menyebar, dia tidak akan bersembunyi lagi." Aku tersenyum mengingat Sasha yang pastinya sedang kacau. Ingin rasanya aku melihat wajah yang murung itu.


"Beberapa hari lagi acara pernikahanmu. Kau yakin akan melakukan hal itu padanya?" tanya Hayden.


"Kau sangat mengerti aku. Apapun yang sudah aku katakan, kau hanya perlu menjalankannya. Aaron juga sudah menyiapkan timnya," kataku menatapnya, "dan kau sudah tahu apa yang terjadi dengan Sasha sore ini?"


"Maksudmu mengenai dia yang menabrak anak kecil?" Hayden berkata sambil mengerutkan keningnya. Aku mengangguk singkat untuk menjawabnya.


"Waktu itu hujan, para pengikutmu tidak bisa melihat dengan jelas. Kejadian itu bisa sampai pada wartawan, padahal tidak ada orang lagi selain dia dan pengikutmu."


"Kau tahu siapa orang dibalik ini?" tanyaku.


"Kau pikir aku ini siapa bisa mengetahui segala hal?"


Aku terkekeh mendengarnya. Walaupun aku tidak melihat kejadiannya, aku tahu siapa orangnya. Sayangnya aku tidak akan memberinya hukuman.


"Kenapa kau masih di sini? Pulanglah, aku ingin beristirahat." Aku beranjak dari balkon memasuki kamar.


"Kau tidak punya perasaan. Pria yang menyebalkan!" Brak!


Hayden langsung menutup pintu dengan kencang. Jika suasana hatiku sedang buruk dia tidak akan berani melakukannya.


"Sasha, apa kau bisa melalui ini sendirian? Kau seperti bunga mawar. Indah, namun berduri. Aku tidak tahu dirimu sepenuhnya dan mengapa banyak orang-orang yang ingin mencelakaimu?"


Hanya aku seorang diri di kamar dan seolah-olah sedang mengobrol dengan Sasha. Pertama kalinya aku begitu menginginkan seseorang.


Sean yang malang. Aku pikir kau akan kembali bersama keluargamu, tapi keluargamu tidak menginginkanmu. Aku berjanji akan melindungimu, dan akan terus hidup untuk menemanimu.


Tidak ada jejak pembunuh. Hal itu membuatku sulit untuk menyelidiki kasusnya. Namun saat itu aku melihat Sasha mengambil sesuatu. Mungkinkah dia mengetahui tentang ibu Sean? Aku sengaja mengabaikannya waktu itu demi kelancaran misiku.


Aku keluar dari kamar ketika mendengar tangisan Sean. Aku menggendongnya dan menimang-nimang agar tangisannya berhenti.


"Tuan?" Flona masuk untuk mengambil Sean, tapi aku menghentikannya. Dia yang mengerti maksudku langsung pergi. Biasanya aku akan menelpon Sasha dan menyurihnya untuk segera kemari. Kini aku tidak memerlukannya lagi.


"Kenapa kau menangis? Apa ada masalah?"


Mata itu menatapku dengan berkaca-kaca. Bola mata yang besar membuatnya semakin imut. Malaikat kecil ini akan mengubah hidupku.