
Tak lama setelah mengirimkan sinyal tanda bahaya, sekitar lima orang anggota The Devil datang dengan pakaian serba hitamnya dan tak lupa sebuah lencana yang terdapat pada jas. Aku pikir seluruh orang di dalam gedung akan keluar, tapi nyatanya hanya muncul beberapa orang saja. Sayang sekali, padahal aku sudah membawa anggota The Devil.
"Darimana datangnya orang-orang ini?!" Aku tersenyum sinis sembari mencekik lehernya hingga Orang itu kesulitan untuk bernapas, bahkan wajahnya hampir memerah.
"Kau pikir anggota The Devil hanya berada di Perancis saja? mereka ada di seluruh dunia. Jika kau berani mengusikku lagi, jangan harap kehidupan para gangstermu tetap aman." Aku melepaskan cengkraman seraya tersenyum sinis.
"Bereskan mereka, biarkan orang-orang tahu apa konsekuensi dari mengusikku." Aku melihat sekilas ke arah jendela gedung di lantai dua. Aku yakin di dalam sana orang-orang sedang menyaksikan. Aku cukup berbaik hati karena tidak masuk ke dalam gedung dan menghabisi mereka semua.
Aku merapikan jas lebih dulu sebelum pergi dari tempat itu. Sekarang, aku harus pergi menemui Sasha. Jarak yang cukup jauh membuatku sedikit kesal karena pria setampan dan sekaya diriku harus berjalan di tepi jalan dengan pakaian rapi. Biarlah, setidaknya bisa menemui Sasha sudah membuatku bersemangat.
Aku membeli sekaleng minuman dan duduk di sebuah bangku memperhatikan Sasha yang baru saja memotong pita. Akupun pernah merasakan ini, dimana hari awal kerja kerasku di mulai ketika berhasil mendirikan sebuah hotel.
Ketika Sasha menatap ke arahku, aku langsung melambaikan tangan. Namun, Sasha memalingkan wajahnya, seolah-olah tidak melihatku. Hais, wanita ini benar-benar pintar bersandiwara.
"Bukankah itu Kenneth? seorang pengusaha nomor satu di Perancis?" kata seseorang entah siapa. Aku dapat melihat sebagian kerumunan acara itu langsung menghampiriku. Oh tidak, apa aku sudah mengacau? Aku melihat Sasha yang tampak menatapku dengan mata yang tajam. Aku tidak bisa pergi jika sudah seperti ini. Aku berjalan mendekati Sasha yang membuat orang-orang mengernyitkan dahi.
"Ada apa dengan mereka?"
"Aku pikir mereka sepasang kekasih."
"Tidak mungkin, Kenneth sudah bertunangan dengan wanita lain."
Desas-desus orang membuat telingaku panas dan ingin sekali meluapkan emosi yang belum mereda. Aku berdiri di samping Sasha yang kini matapku dengan tatapan mata yang tajam seperti sebelumnya.
"Aku juga hadir dalam acara milik Felison Group, karena kita sudah melakukan kerja sama dalam membangun hotel ini." Aku tahu bahwa yang aku katakan salah, tapi ini lebih baik daripada mengaku mengejar cinta.
"Oh jadi begitu, mereka hanya partner kerjasama."
"Aku kira akan ada berita hots."
"Syukurlah, ternyata Nona Alexandra masih singel."
Aku menoleh ke arah orang yang mengatakan kalimat terakhir. Ingin rasanya aku memukul wajahnya yang berani menunjukkan rasa sukanya pada Sasha. Tenang Ken, kau masih bersama Sasha, jangan membuatnya malu. Huh! dengan begini aku bisa bersama Sasha tanpa perlu lagi menatapnya dari kejauhan. Aku mempersilahkan Sasha yang akan mengakhiri acaranya.
"Baiklah. Acaranya cukup sampai disini, saya harap hotel ini mampu memuaskan para penginap dengan fasilitas yang tersedia. Jika ada suatu keluhan jangan sungkan untuk menghubungi kami. Sekian, terima kasih. "
Tak heran jika Sasha mampu menduduki perusahan urutan kedua. Ternyata benar-benar wanita yang penuh wibawa. Jangankan berwibawa, tampangnya yang datar saja sudah menunjukkan bahwa dia wanita yang penuh dengan kekuasaan.
Sasha's POV
"Apa yang kau lakukan disana? kau bilang menunggu di Pelataran Noordermarkt. Bukannya pergi menjauh, justru malah mengikuti acaraku tanpa ada hubungan kerjasama sama sekali!" Akhirnya aku bisa mengeluarkan emosi yang selama acara dipendam. Untungnya aku membawa Kenneth pergi dari tempat.
"Aku tidak tahu akan ada seseorang yang mengenaliku. Aku pikir, lebih baik menunggu karena aku juga ingin tahu seperti apa ketika kau bekerja."
"Waktunya istirahat, lukamu belum pulih total."
Kenneth menarik tanganku masuk ke mobil yang sudah tiba beberapa menit yang lalu. Aku yang masih kesal hanya menatap keluar kaca mobil, memperhatikan jalanan yang sedikit senggang. Kenneth membawaku masuk ke sebuah hotel yang tak jauh.
"Mengapa kau membawaku kemari?" tanyaku.
"Tentu saja beristirahat."
Aku mengikuti Kenneth yang menekan tombol lantai empat. Setelah keluar, kami berjalan di koridor. Beberapa orang tampak menunduk hormat ketika berpapasan dengan kami. Terbesit di benakku kalau hotel ini milik Kenneth. Kenneth membuka salah satu pintu.
"Apa yang kau—" Ucapanku terpotong ketika melihat Sean yang masih tertidur. Aku bernapas lega karena setidaknya tidak hanya kami berdua di dalam kamar. Sean menggeliat dan mulai menangis. Kenneth segera menghampirinya dan berusaha menenangkannya.
"Biar aku coba menenangkannya." Aku mengambil alih Sean dari Kenneth. Lagipula selama seharian ini aku belum menggendong Sean. Benar saja, setelah aku menimang-nimang Sean, perlahan tangisannya berhenti.
"Akhirnya aku bisa beristirahat." Kenneth merebahkan tubuhnya di atas kasur. Aku baru menyadari satu hal, aku berada di kamar yang sama dengan Kenneth, berarti aku akan tidur bersama dengannya.
"Ken?! kau tidak berencana membuatku tidur denganmu, kan?"
"Oh tentu saja. Kita perlu menghemat uang sewa." Apa-apaan ini, orang seperti dia tidak akan rugi jika hanya memesankan satu kamar yang kosong.
"Berikan aku satu kamar kosong atau aku akan pergi dari sini?!"
"Apa? aku tidak mendengarnya. Tidurlah jika kau lelah." Kenneth berpura-pura memejamkan matanya. Aku meletakkan Sean ketika dia sudah kembali terlelap. Aku bersiap untuk pergi dari kamar sebelum Kenneth tiba-tiba saja memelukku dari belakang.
"Jangan pergi, aku tidak akan melakukan apapun selain tidur. Aku berjanji, lagipula ada Sean disini."
"Kau bisa menepati kata-katamu sendiri?"
"Kali ini aku berjanji. Dengarkan aku, untuk kesalahan yang baru saja terjadi bukan karena disengaja. Kau bisa mengerti bagaimana reaksi orang-orang mengenalku sebagai pengusaha nomor satu di Perancis." Kenneth memegang kedua bahuku. Aku tahu apa yang Kenneth pikirkan. Tapi meninggalkan Sean sendiri hotel sangatlah berbahaya jika tidak ada urusan mendadak.
"Apa yang terjadi sampai-sampai kau meninggalkan Sean di hotel?" tanyaku.
"Ini yang menjadi masalah, beberapa orang menargetkan Sean, tapi untungnya aku segera bertindak dan menyuruh supir menjaga Sean."
"Kau tahu bagaimana resiko meninggalkan Sean di hotel yang besar seperti ini? Apa kau pikir dengan meninggalkan Sean di hotel bisa membuat dirinya aman?!" Kenneth mengernyitkan dahinya menatap ke arahku.
"Ada apa denganmu? tadi kau marah karena satu kamar denganku, kini kau marah karena aku meninggalkan Sean. Kau sama seperti Ibu yang selalu memarahi apapun untuk kebaikan."
Aku memalingkan wajah karena aku yakin kini di pipiku terdapat semburat merah. Aku memang kesal karena harus satu kamar dengan Kenneth, tapi bukan berarti aku peduli dengan Kenneth. Aku hanya khawatir dengan Sean yang masih kecil dan kami sudah diberi amanah untuk menjaganya.
"Ada satu hal yang perlu aku selesaikan, aku harus segera pergi." Aku melengos pergi meninggalkan Kenneth yang terkekeh. Ah! malunya, bagaimana bisa aku secerewet itu memarahi Kenneth? Aku perlu udara segara.