
Malamnya aku pergi ke rumah Thian untuk mengambil map. Tidak ada hal lain yang aku pikirkan, namun mengingat Zean membuatku ingin sedikit lebih lama berada disana.
"Sasha? Sudah lama kau tidak menemuiku, bahkan ketika aku pergi ke kantormu, kau tidak ada disana." Zean berlari memelukku ketika aku masuk ke rumahnya.
"Maafkan aku, banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Apa kau baik-baik saja selama ini?" tanyaku.
"He'em, ya tentu saja. Ada Kak Thian yang menemaniku. Apa kau mau bermain denganku? Sudah lama kita tidak makan bersama lagi."
Permintaan malaikat kecil ini membuatku tergiur. Tapi, aku harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat.
"Aku akan bermain denganmu, tapi tidak sekarang. Aku harus bertemu dengan kakakmu untuk membahas pekerjaan. Jadi, bisa kau mengantarku?"
Zean mengangguk, lalu menarik lenganku menaiki tangga menuju lantai dua. Tangan imutnya membuka knop pintu kamar Thian.
"Kakakku ada di dalam. Kau bisa langsung menemuinya. Aku akan kembali ke kamar."
"Terima kasih." Aku tersenyum seraya mengusap kepalanya.
Aku melihat Thian yang duduk di depan laptopnya. Terlihat raut wajahnya yang serius dan tidak menyadari kedatangan ku.
"Dimana map yang akan kau berikan padaku?" Thian terlonjak kaget dan langsung menoleh ke arahku. Terlihat jelas raut wajah itu seketika berubah menjadi masam.
"Kau masih ingat denganku?" Aku menaikan sebelah alis mendengar perkataan. Ternyata dia masih mengingat kejadian sore. Lagipula, saat itu aku berada dalam suasana hati yang buruk.
"Kau tidak akan menyerahkannya?" tanyaku.
Thian mengacak rambutnya kasar dan beranjak membuka laci nakas. Aku menatap layar laptop yang menunjukkan statistik. Aku yang penasaran langsung mendekat agar lebih jelas.
"Kau melakukan ini?" tanyaku.
"Yeah, kemampuan anggota Mirachel semakin menurun. Aku tidak tahu apa masalahnya, Ben tidak memberiku kabar selama beberapa hari ini."
Ada yang aneh dari informasi ini. Aku memang tidak pernah memantau langsung anggota Mirachel. Tapi, statistik menunjukkan penurunan sejak minggu lalu.
"Kau tidak menghubunginya?" tanyaku.
"Aku pernah sekali, tapi hanya untuk mengobrol. Lalu aku menelponnya lagi dan nomornya tidak aktif."
"Aku perlu melihat langsung."
"Tidak, kau tidak pernah menunjukkan wajah disana. Bagaimana bisa kau datang tiba-tiba sebagai ketua? Hanya anggota the Angel pusat yang mengetahui identitasmu."
Yang Thian katakan memang benar. Aku terlalu gegabah jika menujukkan jati diri yang sebenarnya pada anggota Mirachel. Mungkinkah ini salah satu rencana dari paman kedua? Terlalu banyak masalah yang tidak diketahui sebab sebenarnya. Hanya ada dua orang yang aku pikirkan ketika terjadi masalah, Paman kedua atau Liolyn.
"Kau tenang saja, aku akan berusaha menghubungi rekan yang lain. Setelah menjemput Nathe, aku akan langsung pergi ke New York," kata Thian.
"Baguslah, aku akan langsung pulang."
***
Pagi harinya, Aku bergegas pergi ke kantor. Sarapan yang sudah tertata di meja makan tak membuatku singgah.
"Nona?! Kau tidak sarapan lebih dulu?" tanya Bibi Zoe.
"Maaf, Bibi. Kalian bisa memakannya, aku harus segera sampai di kantor."
Sebenarnya aku tidak nafsu untuk makan. Jika perasaan hati tidak enak, untuk makan pun terasa hambar.
Di kantor, beberapa karyawan yang sudah datang tampak terkejut melihatku yang masuk ke kantor lebih awal.
"Apa direktur akan melakukan pendisiplinan karyawan lagi?"
"Entahlah, jika seperti itu direktur akan memberitahu sebelumnya."
"Bagaimana ini? Jika memang benar-benar direktur melakukannya, aku pikir saatnya kita menyiapkan mental."
Bisik-bisik para karyawan terdengar jelas di telingaku. Aku sudah melakukan pendisiplinan karyawan diawal tahun, hanya karena aku berangkat pagi bukan berarti aku melakukannya lagi.
"Entahlah," jawabku.
Ketika aku memasuki lift tak sengaja melihat Maggie yang baru saja tiba dan terlihat tergesa-gesa. Ternyata bukan aku saja yang melihatnya, Vava juga mengamati Maggie yang memilih menaiki tangga daripada lift.
"Ada apa?" tanya Sasha.
"Entahlah, aku juga tidak tahu...aku akan menanyakannya nanti." Vava keluar lebih dulu dari lift, sedangkan aku masih harus menaiki satu lantai lagi.
Aku memandangi foto-foto Liolyn. Aku lupa tidak bertanya soal hubungan Liolyn dengan Jessy. Sudahlah, aku akan bertanya nanti. Pintu ruangan terbuka yang menampakkan Maggie dengan mata yang sedikit bengkak.
"Direktur, ini adalah kontrak dengan perusahaan Oxon." Maggie meletakkan dokumen dengan wajah menunduk. Aku ingin tahu apa yang terjadi, tapi tidak bisa juga memaksanya untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Kau bisa kembali," ucapku.
"Gawat!" Aku dan Maggie terkejut mendengar seseorang tiba-tiba saja masuk dan berteriak.
"Maaf, aku akan kembali bekerja." Maggie mengambil dokumen itu dan langsung pergi setelah Vava membuat kami terkejut. Vava pun terkejut ketika melihat Maggie yang ada di ruangan.
"Hei! kau sudah tahu apa masalah Maggie?" bisik Vava. Aku menggelengkan kepala tanpa mengatakan apapun. Vava duduk di depan meja, lalu menatapku serius.
"Kontrak dengan Oxon, itulah masalahnya. Tuan Jack selalu meminta Maggie untuk menemaninya di bar dan melakukan kegiatan tak senonoh padanya. Ya walaupun bukan hal yang intim, tapi tetap saja harga dirinya menurun."
Brak! Aku langsung berdiri dengan memukul meja. Bahkan Vava yang melihatku terkejut.
"Temani aku ke kantor manajer." Vava segera mengangguk dan mengikutiku menuju kantor para manajer.
"Direktur."
"Direktur Sasha?"
"Apa salah satu manajer membuatnya marah?"
"Entahlah, Direktur tidak pernah ke kantor manajer."
"Dia menuju ketua manajer."
Aku mengabaikan perkataan-perkataan yang terlontar dari mulut para manajer. Menatap Maggie yang begitu lesu dengan pekerjaannya.
"Maggie, apa yang terjadi?" tanyaku.
"Direktur? Tidak ada yang terjadi," jawabnya yang terlihat ragu.
"Aku sangat mengenalmu. Berikan kontrak yang baru saja aku tanda tangani."
"Untuk apa? Bukankah tidak ada masalah?" ujarnya.
"Memang tidak ada masalah dengan dokumennya, tapi ada masalah denganmu. Berikan dokumen itu."
Setelah Maggie menyerahkan dokumen kerjasama dengan perusahaan Oxon, aku langsung menyobeknya tanpa berpikir panjang. Hal itu membuat orang-orang diruangan itu mengaga terkejut.
"Di-Direktur, apa ada yang salah?" tanya Maggie ragu.
"Kau yang bermasalah. Mengapa kau tidak memberitahuku yang selama ini terjadi padamu? Aku memang membutuhkan kerjasama, tapi jika itu menyangkut harga diri orang-orang perusahaan, aku tidak akan pernah melakukannya."
"Bagi siapapun yang merasa tidak dihargai dalam bekerja, segera beritahu padaku! Apa kalian berpikir Direktur hanya mengutamakan pekerjaan?" Aku menatap orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Baiklah, aku ingin ini menjadi hal yang pertama dan terakhir. Untuk kau, Maggie. Sekarang ikut aku ke kantor direktur." Aku menatap Maggie dengan lirikan yang mungkin saja terlihat tajam.
"Ternyata Direktur membela Ketua manajer Maggie."
"Memang harga diri harus dipertahankan."
"Direktur sangat bijaksana, lebih mementingkan harga diri karyawan juga."
Aku pergi dari sana dan kembali ke ruangan. Aku tidak ingin pada karyawan di perusahaan merasa dirugikan ketika bekerja.