
Aku membuat sebuah pesan yang ditulis dan di tempelkan pada pintu kamar Kenneth. Aku tidak ingin mengganggunya dan tidak ingin berbicara dengannya. Oleh karena itu aku menuliskan pesan sebelum pergi. Sudah lama juga aku tidak kembali ke rumah, entah bagaimana kondisinya selama aku pergi.
"Bibi Rose, aku akan berangkat sekarang."
"Hati-hati, Nona."
Aku menganggukkan kepala dan mengambil kunci mobil Kenneth. Aku hanya meminjamnya untuk pulang, nantinya akan aku kembalikan lagi. Toh, akupun sudah punya mobil sendiri. Tidak perlu waktu lama untuk sampai di rumahku. Kini aku sudah sampai di depan gerbang. Seorang satpam mencegat mobil membuatku menurunkan kaca mobil. Melihat aku yang berada di dalam mobil, satpam itu langsung membukakan gerbang.
"Tolong kembalikan mobil ini ke alamat xxx."
"Baik, Nona."
"Dan, jangan biarkan siapapun masuk tanpa izinku."
Satpam itu mengangguk dan langsung pergi. Aku menatap dua penjaga yang berdiri di samping pintu. Aku menarik napas sebelum membuka pintu. Suasana di dalam begitu sepi, dan aku hanya melihat dua orang penjaga di depan. Aku berjalan menyusuri ruangan menuju dapur. Terlihat bibi Zoe yang tengah memasak.
"Bibi?" panggilku.
Bibi Zoe tampak terkejut jika dilihat dari matanya yang terbelalak setelah menatap ke arahku. Aku tersenyum, lalu memeluknya erat seolah-olah ini adalah pelukan rindunya seorang anak pada ibu.
"Apa kabar?" tanyaku.
"Tentu baik, Nona. Suatu kebahagiaan melihat Nona kembali ke rumah." Aku melihat ekspresi kerinduan di wajahnya, matanya yang berkaca-kaca sembari tersenyum. Andaikan jika yang di hadapanku adalah sungguh ibu.
"Kemana para pelayan yang lain?" tanyaku yang memang tidak melihat pelayan lain di ruangan.
"Tuan Thian menyuruh mereka untuk membereskan gudang, sudah lama gudang tidak dibersihkan." Aku hanya mengangguk tanda mengerti, pantas saja suasana menjadi begitu sunyi. Aku berjalan menaiki tangga menuju kamar. Tidak pernah terpikirkan olehku rasanya hidup sebatang kara.
Aku membuka pintu kamar dan mata yang menjelajahi setiap sudut ruangan. Tidak ada yang berubah sama sekali. Aku menatap foto keluargaku yang ada di atas nakas. Ibu, ayah, bagaimana kabar kalian? ingin rasanya aku memeluk kalian ketika pulang bermain. Nathe, aku sangat ingin bertemu denganmu.
"Aku ingin bertemu dengan Alexa, biarkan aku masuk!"
"Omong kosong, aku ada kepentingan dengannya."
Aku yang mendengar suara bising dari bawah langsung keluar dari kamar. Aku bisa melihat Alvin yang sedang dihadang para penjaga dari lantai dua. Aku tidak menyangka Alvin berani mengejarku hingga ke rumah dan memaksa untuk masuk.
"Hentikan! apa yang kalian lakukan?!" tanyaku bersamaan dengan menuruni tangga.
"Maaf, Nona. Tuan ini memaksa ingin bertemu dengan Nona, padahal Nona tidak mengizinkan siapapun untuk bertemu."
"Aku mengerti, biarkan dia masuk."
Aku menatap tajam ke arah Alvin yang juga sedang menatapku. Dulu tatapan ini membuatku merasa begitu senang, tapi untuk sekarang membuatku semakin mual.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku ingin menjelaskan soal kejadian beberapa tahun lalu."
"Satu menit."
"Tapi—""Atau tidak sama sekali."
"Satu menit sangat berharga, bukan?"
"Aku berkencan dengan Liolyn karena aku ingin mengetahui tentang dirimu. Dari yang aku lihat kalian sering bersama. Lalu apa benar kau seorang—""Satu menit berlalu, penjaga bawa dia keluar." Aku langsung memotong perkataannya dan demi menyelamatkannya. Dua orang penjaga yang datang langsung membawa Alvin keluar.
"Alexa! kau tidak bisa seperti ini padaku. Kau seorang pemimpin Mafia, kan?!" Aku menghentikan langkah ketika mendengar perkataan terakhir. Aku membalikkan badan menatap Alvin.
"Dasar bodoh! aku tidak ingin kau mengatakan itu, tapi kau dengan beraninya berkata seperti ini. Bawa dia ke tempat yang seharusnya." Aku menatap sinis ke arahnya sebelum kembali ke kamar. Hari ini cukup melelahkan bagiku, dengan beristirahat aku bisa memulihkan energi.
Alvin, mungkin dia pernah hadir dalam hidupku, tapi setelah dia berkencan dengan Liolyn, aku benar-benar sangat membencinya. Apalagi dia hanya ingin mengetahui tentangku dan menganggap aku dan Liolyn berteman. Aku ingin tertawa mendengarnya, musuh yang sedari dulu tidak pernah berdamai bisa dianggap sebagai teman.
Kasihan sekali hidupnya, jika saja dulu dia mengatakannya langsung padaku tanpa bertemu dengan Liolyn, aku pasti tidak akan sebenci ini. Jika kebanyakan orang yang mengetahui identitasku tanpa memiliki asal usul yang jelas, aku akan langsung menyiksanya. Tapi, melihat asal usul Alvin membuatku sedikit keberatan.
Sorenya, aku bersiap-siap untuk pergi ke cafetaria. Untungnya jarak dari rumahku tidak terlalu jauh sehingga aku hanya perlu berjalan kaki. Cuaca yang mendung membuatku membawa payung untuk berjaga-jaga.
Sampai di cafetaria, aku memilih tempat yang kosong dan nyaman untuk berdiskusi. Mungkin meja pojok menjadi pilihan yang tepat. 10 menit berlalu, aku tidak melihat kedatangan Thian. Baru saja aku akan menelponnya, dia sudah sampai di depan Cafetaria.
"Maaf, terlambat. Aku harus menjaga Zean lebih dulu sebelum orang tuaku pulang." Aku tidak bisa marah jika ini alasannya. Thian memang sering menjaga Zean jika paman dan bibi tidak ada.
"Kau sudah lama menunggu?" tanya Thian.
"Tidak juga."
"Jika begitu, biar aku yang memesankan chocolate untukmu." Aku hanya mengangguk sebagai respon. Thian meletakkan sebuah map dan flashdisk. Aku menatap lembaran foto yang menunjukkan paman kedua bersam Liolyn.
"Flashdisk ini berisi video paman kedua bersama Liolyn. Oh ya ampun, bahkan aku belum pernah melakukan hal itu." Aku menatap jengah ke arah Thian, apa maksudnya dengan belum pernah melakukan hal itu? mungkinkah video...? Oh ya ampun, aku memang mengacungi jempol Thian untuk pencarian bukti, tapi tidak juga dengan video.
"Apa rencanamu?" tanya Thian. Aku mengendikan bahu tanda tidak tahu. Memang aku tidak tahu harus melakukan apalagi selanjutnya. Yang perlu aku lakukan adalah menunjukkan bukti pengkhianatan pada anggota The Angel di markas besar. Tapi untuk kesana sedikit sulit walaupun aku termasuk pemimpin kedua.
"Aku hanya ingin menyingkirkan dia."
"Lalu bagaimana soal wanita yang kau suruh aku untuk merawatnya? apa kau benar-benar akan melepaskannya begitu saja?"
Aku jadi teringat dengan ibu Sean, dia masih menjadi tahanan Mirachel. Waktunya juga tidak akan lama lagi. Aku hanya ingin tahu apa tujuan dari ibu Sean melakukan hal ini.
"Entahlah, saat itu Nathe juga akan kembali ke Paris."
"Aku mengerti, jika dia tidak ingin berbicara denganmu, aku yang akan berbicara dengannya." Thian memang orang yang begitu peka dengan sekitarnya. Jadi aku tidak perlu mengatakannya panjang lebar. Tiba-tiba saja menyebut nama Sean dalam hati malah membuatku teringat dengan Kenneth.
"Sasha?"
Aku tergelak mendengar panggilan Thian dan menjatuhkan ponsel. Aku malah memikirkan Kenneth disituasi sekarang. Aku medengus ke arah Thian karena membuatku terkejut.
"Kau baik-baik saja? bisa katakan padaku apa ada hal yang terjadi?"
"Tidak ada." Aku memutar bola mata dengan jengah melihat tingkah Thian yang sudah penasaran. Ketika aku akan mengambil ponsel di lantai, sepasang sepatu berhenti tepat di samping meja.
__________________________________________________
Baca tiga chapter sekaligus berasa gak tuh? hehe jangan lupa berikan like, vote, dan komen😉. Jangan lupa juga untuk memasukannya dalam daftar bacaan favorit kalian👌