
Aku tampak familiar dengan kotak merah kecil yang Kenneth berikan padaku. Aku membuka dan menemukan sepasang anting berlian yang tampak cantik. Aku sekarang ingat bahwa ini merupakan salah satu anting berlian termahal di dunia.
Kepopuleran masih saja sama sejak dulu. Termasuk jajaran anting nomor satu di antara anting-anting yang lain.
"Untukku?"
"Untuk Karin, tapi sepertinya kaulah pemilik sesungguhnya."
Tiba-tiba saja layaknya pisau tajam yang menancap tepat di jantung. Aku menutup kembali kotak itu, menyerahkannya pada Kenneth.
"Aku tidak bisa menerimanya."
Kenneth pergi begitu saja tanpa menerima kotak ini. Aku menggenggam erat kotak. Apa maksudnya ini? Aku memang tidak seharusnya menerima barang yang bukan ditujukan untukku.
Pintu kembali terbuka, Kenneth datang dengan sebuah benda di tangannya. Aku menatap pergerakan Kenneth yang menaiki kasur dan duduk di sebelahku.
Aku hanya menatapnya tanpa berucap, Kenneth menarik tubuhku supaya mendekat ke arahnya. Dia membuka sebuah album foto keluarganya. Di halaman pertama terdapat kata "famille heureuse" yang berarti keluarga bahagia.
"Kau lihat, dia sangat cantik. Andaikan dia masih di sini." Kenneth menuju seorang gadis yang berada di atas punggungnya. Mungkinkah dia adik Kenneth?
Aku menatap Kenneth yang tengah asik memandangi foto, lebih tepatnya wanita bernama Karin itu. Terdapat binar kesenangan sekaligus kerinduan pada matanya.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanyaku.
Terlihat jelas perubahan raut wajah Kenneth yang membuatku bersalah. Sepertinya masalah Karin sangat penting dan masih tergores di hatinya.
"Aku ada urusan di kantor, Hayden akan menjagamu. Aku pergi dulu."
Aku menatap punggung Kenneth yang beranjak pergi. Ingin rasanya aku memeluk punggung tegapnya yang rapuh. Tunggu, mengapa aku jadi perhatian pada Kenneth? Sepertinya otakku bermasalah.
Kenneth's POV
Aku melangkahkan kaki menuju balkon kamarku. Sebenarnya aku tidak berniat memberitahu soal Karin pada Sasha. Menyebut nama Karin sama saja seperti menggores hati yang luka.
Aku menelpon Hayden untuk segera ke Villa sebelum pergi. Aku segera menyampirkan jas di bahu dan keluar. Ketika akan melewati kamar yang ditempati Sasha, aku melihatnya sedang termenung dari pintu yang sedikit terbuka. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
Di sebuah tempat peristirahatan terakhir aku berdiri. Menatap sebuah tugu batu yang kecil, terdapat sebuah foto gadis yang terpampang.
Dia Karin, satu-satunya adik perempuanku. Saat itu adalah hari ulang tahun Karin. Aku yang sedang berada di sebuah kebun binatang dalam acara proyek pun terpaksa harus mengundurkan waktu menjemput Karin di kampus.
Begitu pekerjaanku selesai, aku dengan tergesa-gesa pergi menuju kampus Karin. Namun seseorang memanggilku seraya menyerahkan sebuah kotak merah yang berisi anting yang sudah aku persiapkan untuk hadiah Karin. Orang itu adalah Sasha, sebenarnya itu adalah pertemuan kedua bersama Sasha. Sayangnya, setiap bertemu dengannya, selalu saja diwaktu yang tidak tepat.
Entah bagaimana dengan Sasha, sepertinya dia tidak mengingat pertemuan kami. Waktu itu, aku tidak sempat untuk mengatakan sesuatu pada Sasha.
Ada salah satu teman Karin yang mendekatiku dan memberitahu keberadaan Karin yang berada di perpustakaan. Bukan soal keberadaan Karin, melainkan kondisinya yang ternyata terdapat luka tusukan yang sepertinya dalam.
Sampai sekarang luka tusukan menjadi sesuatu yang tidak bisa aku lupakan. Sama halnya seperti luka Sasha, aku benar-benar kembali teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu.
Karin sempat tersenyum padaku dan melepaskan salah satu earphonenya, memasangnya pada salah satu telingaku. Musik kesukaan kami yang mengalun menjadi tampak mistis disaat situasi seperti ini.
"Kakak, tidak peduli seberapa jauhnya diriku, tetap akan selalu mengingatmu...," lirih Karin. Aku menggendong tubuhnya, memeluk dengan erat. Karin mengecup pipiku dan menyandarkan kepalanya pada bahuku.
"Karin, aku akan selalu mengingatmu."
Sungguh perpisahan yang begitu ironis. Semenjak kejadian itu, aku langsung mencari tahu dalang dari penyerangan. Ternyata orang itu salah satu dari anggota The Demon, lebih tepatnya orang yang paling Karin sayangi. David, yang merupakan kekasih Karin berkhianat dan terobsesi dengan harta keluarga kami.
Sepertinya Tuhan sangat memberkati Karin, tak lama setelah kepergian Karin, David terbunuh ketika bertarung dengan The Angel. Aku tidak tahu siapa orang yang berhasil mengalahkan David, oleh karena itu aku ingin membantu The Angel. Aku tahu bagaimana kondisi antara The Angel dengan The Demon yang saling berlawanan.
Sampai saat ini, aku masih menyimpan dendam untuk The Demon. Aku mengusap foto Karin, lalu pergi dari pemakaman.
Aku tahu bahwa besok adalah acara pembukaan hotel milik Sasha di Amsterdam. Tapi keadaan Sasha yang seperti sekarang membuatku melarangnya keras. Di lain sisi, proyek ini sudah di bangun beberapa tahun yang lalu. Sebagai Direktur, Sasha pasti menghadiri acara pemotongan pita. Oleh karena itu besok aku akan menemaninya.
Di dalam mobil, aku memandangi sejenak foto Sasha yang tengah menggendong Sean sembari tersenyum di ponsel. Mereka sudah cukup bagiku seperti keluarga. Aku bertekad, apapun yang terjadi, aku akan selalu mempertahankan Sasha di sisiku.
"Ada apa?" tanyaku ketika Hayden menelpon.
"Sasha bersikeras untuk pergi dari Villa. Aku tidak bisa menghentikannya karena dia memegang senjata api, tolonglah... aku masih ingin hidup."
"Kau bahkan tidak bisa menangani satu wanita?"
"Jangan katakan itu sekarang, situasinya berbeda. Bukan karena senjata apinya, melainkan posisinya yang duduk di penghalang balkon."
Mataku terbelalak mendengar perkataan Hayden, dalam artian Sasha mencoba untuk lompat dari balkon. Tapi, tidak mungkin Sasha lompat begitu saja tanpa memperhatikan resiko.
"Biarkan dia lompat."
"Apa?! Kau gila, ya! Sa—aaaa!"
Teriakan Sasha terdengar nyaring di ponsel. Aku segera mematikan ponsel dan segera pulang. Jantungku berdetak begitu cepat kala mendengar teriakan Sasha. Dalam hati terus berdoa tidak terjadi apapun. Jika Sasha benar-benar lompat, aku tidak akan memaafkan diri sendiri.
Hayden sama sekali tidak bisa diandalkan. Baru beberapa menit saja sudah ingin pergi, Sasha... Kau benar-benar membuatku semakin mempertahankanmu. Yang membuatku semakin tertarik dengannya adalah Sasha tidak bisa digali identitasnya selain putri tertua keluarga Felister.
Padahal aku sudah mengerahkan anggota The Devil untuk mencari tahu identitas lain. Sayangnya sangat tertutup rapat. Sesuatu yang pernah terlintas dibenakku adalah Sasha seperti anggota mafia.
Bayangkan saja, seorang wanita yang pandai bertarung dan dengan lihai menggunakan senjata api adalah wanita biasa.
Sampai di Villa, aku langsung menatap ke arah dimana Sasha masih duduk di penghalang balkon. Jadi apa maksud dari teriakan Sasha yang seolah-olah sedang melompat?