
Pagi harinya aku bersiap untuk kembali ke Paris. Tapi sebelum pergi, aku sudah berkata pada kepala proyek bahwa siangnya aku akan kembali ke Amsterdam, melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan sejak kemarin.
Aku berjalan sembari memegangi luka tusukan yang belum sembuh. Langkahku sedikit terseok sehingga tidak bisa berjalan dengan cepat. Vava sesekali memapahku ketika aku hampir kehilangan keseimbangan.
"Setelah sampai di sana, jangan beritahu masalah ini pada siapapun. Kau yang akan mengambil Sean, aku akan menunggu di mobil."
"Jika itu membuatmu lebih baik."
Mengenai masalah paman kedua, Thian langsung pergi ke New York untuk mencari bukti. Jadi hanya ada keluarga paman tua saja. Jika Thian berada di rumah, dia pasti akan menemuiku dan bertanya-tanya.
Satu jam berlalu, kami sampai di Paris. Aku langsung menyuruh salah satu bodyguard untuk membawakanku mobil. Untungnya Vava bisa menyetir sehingga aku bisa duduk nyaman.
Aku menunggu Vava yang tengah mengambil Sean. Ponselku berbunyi, Kenneth memintaku untuk segera membawa Sean. Aku yakin dia bukanlah pria yang peduli dengan orang-orang, tapi mulutnya sangat cerewet jika apapun yang bersangkutan dengan Sean.
"Apa kau bisa memangkunya? Aku tidak bisa menyetir jika memangku Sean." Aku menoleh ke arah Vava yang sudah membawa Sean. Aku membuka pintu mobil, membiarkan Vava meletakkan Sean di atas pangkuanku. Mungkin rasanya sedikit ngilu, tapi aku masih bisa menahannya.
Aku menunjukkan arah menuju villa Kenneth. Vava tidak percaya jika aku dan Kenneth bersama-sama mengurus seorang anak yang tidak jelas asal usulnya. Aku menyerahkan Sean ketika mobil berhenti. Tidak mungkin aku menggendongnya, untuk jalan saja rasanya sulit.
Aku menekan bel, tak lama muncullah wajah pengurus Rose. Dia menyambut kami dengan ramah, menyuruh untuk segera masuk.
Aku berusaha berjalan normal ketika masuk, tidak ingin mengundang pertanyaan bagi pelayan yang ada di sini terutama Kenneth.
"Mana Sean?" tanya Kenneth.
"Jangan bertanya jika kau sudah melihatnya."
Kenneth berjalan ke arah Vava untuk mengambil alih Sean. Setelah itu, aku membalikkan badan dan pergi untuk kembali ke Amsterdam.
"Kau mau kemana?!"
"Aku masih dalam urusan bisnis. Kau tidak bisa mencegahku kali ini."
"Apa ada sesuatu yang salah denganmu?" tanya Kenneth. Dalam hati aku mengumpat kesal karena mata Kenneth yang jeli juga bisa merugikan.
"Sebenarnya—" "Aku sempat terjatuh, jadi kakiku sedikit terkilir." Aku memberi isyarat mata pada Vava supaya tidak mengatakan yang sebenarnya. Vava langsung menutup mulutnya rapat dan memilih pergi lebih dulu.
"Biar aku memijit kakimu."
"Tidak! Aku harus segera pergi."
Aku berjalan dengan cepat, tapi tiba-tiba saja Kenneth menarik tanganku. Aku meringis sembari memegangi perut. Rasanya seperti disobek lagi, biarpun Kenneth menariknya pelan, tapi sepelan-pelannya pria ada tenaga juga.
"Apa yang terjadi denganmu? Bibi Rose!" Kenneth langsung berteriak memanggil bibi Rose, menyerahkan Sean pada Bibi Rose. Shit! Mengapa lukanya kembali terbuka? Aku menyambungkan panggilan pada Vava, menyuruhnya untuk kembali ke perusahaan lebih dulu.
"Katakan yang sebenarnya padaku!" Aku menoleh cepat ke arah Kenneth yang sepertinya sangat mencemaskan keadaanku. Ditambah lagi, darah yang merembas pada bajuku. Dengan cepat Kenneth memopongku ke kamar, meletakan dengan hati-hati.
Kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan rasa sakitnya. Seorang dokter datang dan langsung memeriksaku. Oh tidak! Bagaimana bisa dokter ini memeriksaku ketika ada Kenneth.
"Apa kau bisa keluar?" tanyaku. Kenneth menggelengkan kepalanya dan tetap kukuh untuk menemani pengobatan. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, ini juga bukan kediaman ku.
"Lukamu masih belum sembuh, tolong jangan banyak bergerak." Aku hanya mengangguk, Kenneth mengantar dokter keluar dari kamar. Setelah itu, dia berjalan mendekatiku.
"Berapa kali kau membohongiku?"
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu. Dan siapapun yang berani menyakitimu, tidak akan aku biarkan mereka hidup Damai. Jadi, bisakah kau memberitahuku siapa yang sudah melakukannya padamu?"
Kenneth aku akui kau memang baik terhadapku, tapi tolong jangan perlakukan aku lebih jauh dari ini karena itu hanya akan membuatku sakit ketika mengingatmu.
"Aku harus mengecek proyek pembangunan hotel yang sudah jadi, dan besok adalah upacara pemotongan pita." Aku tidak akan menjawab pertanyaan Kenneth. Tidak seharusnya aku mengatakan padanya bahwa anggota the demon yang melakukan ini.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku. Aku akan ikut bersamamu."
"Bagaimana bisa? Akulah pemeran utamanya, mengapa kau juga ikut?"
"Tidak ada bantahan, aku akan tetap mengantarmu. Sekarang, kau istirahatlah lebih dulu. Aku akan melihat Sean di kamarnya."
Istirahat? Bahkan ini masih bisa dibilang pagi. Biarlah, aku juga merasa sedikit lelah karena perjalanan. Aku menarik selimut dan perlahan memejamkan mata.
"Sasha? Nikmatilah alur hidupmu. Itu yang akan membawamu pada kebahagiaan."
Suara itu terasa menggema di pikiranku. Aku tidak melihat siapapun di dalam ruangan gelap ini. Aku tidak takut gelap, hanya saja aku sedikit takut karena suara itu seperti suara ibuku.
Aku menatap ke sekeliling ruangan yang tidak terlihat apapun. Tiba-tiba saja, sebuah pintu terbuka yang memancarkan cahaya dari luar. Aku berjalan mendekati pintu seraya menyipitkan mata, mengurangi cahaya yang menyilaukan mata.
Di depan pintu, aku melihat sosok pria yang mengenakan jas hitam. Aku menatap penampilanku yang kini mengenakan sebuah gaun pengantin berwarna putih. Aku melihat sebuah tangan terulur di hadapanku.
Mendongak untuk melihat wajah orang itu, tapi entah karena apa wajahnya tidak terlihat seperti membelakangi cahaya. Gerakan refleks terjadi pada tanganku yang menggapai lengan kekar itu.
Orang itu membawaku keluar dari ruangan yang gelap menuju sebuah hamparan luas yang terdapat banyak bunga. Aku yang merasa senang lantas berbinar menatap sekitar.
Aku tidak melihat siapapun di sini, mataku berkeliling mencari keberadaan pemilik tangan yang membawaku keluar.
"Siapa kau? Tunjukkan dirimu!" Suaraku menggema disekitar hamparan. Tidak ada siapapun kecuali aku seorang. Namun, tiba-tiba saja hujan turun yang membuatku bingung untuk berteduh. Pada akhirnya, aku hanya bisa duduk bersimpuh.
"Ingat! Jangan pernah memilih jalan yang membuat dirimu terjerembab!"
Lagi-lagi sebuah suara mengintrupsiku. Jadi maksud perkataannya aku harus menikmati alur hidup adalah seperti sekarang? Tidak ada apapun yang bisa membuatku terhindar dari air hujan karena aku harus mengikuti alur.
"Sasha?"
Aku membuka mata mendengar seseorang memanggil namaku. Kenneth duduk di samping dengan sebuah nampan yang berisi sebuah mangkuk dan segelas air.
"Ada apa?" tanyaku.
"Ini sudah lewat jam makan siang. Lebih baik kau makan dulu. Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu setelah kau menghabiskan makanan."
Aku segera menghabiskan semangkuk bubur. Tidak seenak sup bawang, dalam hati aku mengeluh. Aku meletakkan kembali mangkuk, menatap Kenneth yang berjalan mendekatiku.
"Ini adalah...."
___________________________________________
Sebenernya cerita ini tuh update setiap sabtu-minggu. Tapi kalo udah crazy up sabtu, biasanya minggu gk update. tapi kalo nggak crazy up, minggu update. Ya yang jelas antara hari sabtu dan minggu.