
Aku bergegas ke rumah sakit saat mengetahui keadaan ibuku. Di rumah sakit, aku ingin membuka pintu, tapi langsung aku urungkan. Jika ibu melihatku, pasti tidak akan senang. Aku duduk di kursi penunggu. Bibi Zoe yang baru saja keluar dari ruangan langsung menghampiriku.
"Kau baik-baik saja, Nona? Perlu aku antar kau ke dalam?" tanya Bibi Zoe. Aku menggelengkan kepala, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Bibi Zoe bercerita bahwa saat ibu di kamar, ia menerima pesan yang isinya adalah sebuah foto ayah. Ibuku langsung histeris dan menghancurkan barang di kamarnya. Ibuku sempat memegang pecahan kaca, mencoba untuk bunuh diri. Tapi, bibi Zoe datang pada waktunya.
Aku menyuruh bibi Zoe untuk menjaga ibu, aku pergi keluar rumah sakit dengan berjalan kaki. Tidak tahu harus kemana, aku hanya perlu menenangkan pikiranku. Kejadian ini sudah terjadi untuk yang ketiga kalinya. Untungnya selalu ada bibi Zoe yang menjaganya dengan baik.
Sebuah mobil buggati chiron berhenti tepat di sampingku. Melihat pemilik mobil itu membuatku terkejut. Sedangkan Kenneth yang merupakan pemilik mobil hanya tersenyum miring. "Aku melihatmu keluar begitu saja, apa kau tidak menginginkan gelang itu?" tanya Kenneth. Tanganku mengepal dan ingin sekali menonjoknya. Aku tidak tahu bahwa Kenneth akan mengenaliku. Daripada bertengkar dengannya, lebih baik aku pergi saja.
"Jika kau mau ikut denganku, maka aku akan dengan mudahnya memberikan gelang itu, " kata Kenneth membuat langkahku terhenti. Dia pikir aku akan menuruti perkataannya? Tidak semudah itu. "Apa aku harus percaya pada seorang pembohong sebelumnya?" ujarku menatapnya sinis. Kenneth tidak berhenti sampai disitu, dia terus membujuk ku untuk masuk ke mobilnya.
Kenneth berkata akan menjual gelang itu jika aku tidak ikut bersamanya. Aku terpaksa harus masuk ke mobil. Saat membuka pintu, aku terkejut dan hampir saja berteriak karena tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Seorang anak kecil yang sedang tertidur di jok.
"Kau menyuruhku untuk ikut, tapi kau membawa anakmu?" kataku. Kenneth pun menjawab, "pelankan suaramu...dia bukanlah anakku. Aku ini masih lajang, cepat masuk dan pangku dia." Sebelumnya aku belum pernah menggendong bayi, sepertinya ini akan menjadi yang pertama. Aku mengangkatnya dan meletakkannya diatas pangkuanku.
Kenneth bercerita bahwa ia menemukan bayi itu di samping mobilnya saat di depan supermarket. Kenneth ingin merawat bayi itu karena iba. Tapi, dia bingung harus membawanya kemana. Jika dibawa pulang, ayah dan ibunya pasti tidak akan pernah menyukainya. Lalu bagaimana denganku? Akupun tidak mau. Dirumah tidaklah aman bagiku apalagi untuk seorang bayi.
Akhirnya, Kenneth memutuskan untuk membawa ke villa miliknya. Villa ini cukup besar, aku langsung keluar dengan bayi di gendonganku. Kenneth menyuruhku untuk masuk, villa ini terlihat bersih, tapi tidak ada seorangpun yang menunggunya. Kenneth memberitahu bahwa villa ini selalu dibersihkan oleh pengurus Rose.
Bayi yang masih tertidur itu langsung aku letakkan di atas kasur secara perlahan supaya tidak membangunkannya. Aku letakkan guling di kedua sisinya untuk berjaga. Aku mencari keberadaan Kenneth yang berada di ruang tamu.
"Bisa kau ceritakan detailnya?" tanyaku pada Kenneth. Kenneth menunjuk sebuah kotak di atas meja lalu berkata, "aku belum melihat isinya. Kotak itu ada di sebelahnya saat itu. Mungkin ada petunjuk di dalam." Aku mengambil kotak itu dan melihat ada sebuah botol bayi, sekotak susu, dan sebuah kalung. Aku mengambil kalung itu dan memperhatikannya. Kenneth yang melihat secarik kertas langsung mengambilnya.
Kenneth memberikan kertas itu kepadaku. Sepertinya kehidupan di sekitar Sean berbahaya sehingga menyuruh orang lain untuk menjaganya sementara waktu. Aku ingat, mobilku masih di rumah sakit. Aku menyuruh Thian untuk mengambil mobil dengan kunci cadangan.
"Mana gelangku? Aku sudah ikut bersamamu," pintaku menyodorkan tangan. Kenneth menatap wajah dan tanganku bergantian. Dia berkata, "tidak bisa, aku tidak mungkin mengurusnya sendiri. Aku butuh bantuanmu." Aku menatapnya tajam, jadi dia menyeretku kedalam masalahnya. Aku tidak bisa berada disini terus, aku harus mengurus ibu di rumah.
"Tidak bisa! Aku harus pergi sekarang,"ucapku langsung pergi begitu saja. Kenneth menarik tanganku sehingga aku berada di dekapannya. Aku tidak menyangka Kenneth akan melakukan ini. Dia berbisik di telingaku, "jika kau pergi, maka pergilah. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah mendapatkan gelangmu." Kenneth langsung pergi ke kamar dimana Sean tertidur. Sedangkan aku masih terpaku di tempat. Mukaku memerah...bukan karena merona, tapi menahan amarah.
Aku menuju kamar dimana Sean tertidur. Baru saja memegang handle pintu, Sean sepertinya menangis. Aku langsung membuka pintu, tampak Kenneth yang berusaha menenangkan Sean. Kenneth menatap ke arahku, membawa Sean dan menyerahkannya kepadaku. Apa maksudnya ini? Aku harus menenangkannya? Tidak bisa. Aku harus pulang sekarang.
"Tidak, Ken. Aku harus pulang!" seruku. Aku membalikkan badan dan akan melangkah sebelum mendengar tangisan Sean yang tidak kunjung reda. Aku bimbang di situasi sekarang. Aku ingin pulang menengok ibuku, tapi aku tidak tega meninggalkan Kenneth seorang diri mengurus bayi.
Aku mengambil alih tubuh Sean dan mengayunnya pelan. Perlahan tangisan Sean berhenti, matanya yang besar, hidungnya yang kecil, dan mulut yang imut membuat aku terpesona. Jika seperti ini aku tidak tahu harus melakukan apa.
"Ken, kau tahu aku adalah direktur. Aku harus mengelola perusahaan, mengapa kau tidak menyuruh seseorang untuk merawatnya?" tanyaku pada Kenneth yang memegang pipi Sean. Sepertinya Kenneth sangat suka dengan anak kecil. Kenneth terus saja mengelus pipi Sean dan menjawab, "aku akan memikirkannya nanti."
Kami duduk di ruang tamu dengan Sean yang berada di pangkuanku. Kenneth berencana untuk mencari babysitter, tapi melihat Sean yang selalu tenang saat didekatku membuat Kenneth memilih aku untuk menjadi babysitter Sean. Apa! Aku tidak mau. Aku harus mengurus banyak hal, bukan menjaga anak.
"Ini tidak adil! Aku harus kembali ke kantor sekarang juga. Gara-gara kau, aku membatalkan meeting!" seruku pada Kenneth, meletakkan Sean di sampingnya dan beranjak pergi. Kini Kenneth tidak mengejarku. Aku bisa bernapas lega karena akhirnya bisa kembali ke kantor. Tapi sayangnya, tidak ada kendaran umum yang melewati jalur ini. Aku harus menelpon Thian untuk menjemputku.
Ada perasaan iba meninggalkan Kenneth dan Sean, tapi aku tidak bisa bersama mereka. Kehidupanku rumit dan tidak ingin melibatkan siapapun. Termasuk Thian, aku hanya memerlukannya untuk pekerjaan di New York. Tak lama menunggu, Thian datang dengan mobil milikku.