
Semalaman aku menunggu ibu di rumah sakit. Vava memberi kabar kepadaku untuk ke kantor karena ada berkas yang perlu aku tanda tangani. Sebelum pergi ke kantor, aku pulang ke rumah untuk mandi.
Hari ini juga Thian akan kembali ke New York, aku meminta Thian untuk merahasiakan ini dari paman kedua. Entah apa maksud terselubung dari paman, aku pasti akan membalasnya. Aku langsung segera pergi ke kantor dan meminta bibi Zoe untuk menunggu ibu selama aku tidak ada.
Aku menatap wajah di cermin mobil. Kelopak mata yang hitam membuatku tampak menyeramkan. Aku menutupinya dengan kacamata hitam. Sampai di kantor, Vava menyerahkan setumpuk berkas di meja. Baru satu hari tidak kerja sudah segini banyaknya.
"Apa kau baik-baik saja, Nona?" tanya Vava. Rasanya sangat asing jika harus berbicara formal dengan teman. Aku selalu menyuruh Vava untuk tidak begitu formal denganku. Tapi, Vava menolak jika sedang bekerja.
"Aku baik-baik saja. Bawakan aku secangkir chocolate," kataku yang langsung diangguki. Untungnya hari ini pekerjaanku hanyalah menanda tangani. Tidak ada acara ataupun rapat sehingga aku bisa pulang lebih awal untuk istirahat.
Aku menatap salah satu berkas tentang proyek yang akan dibangun di Amsterdam. Dalam perjanjian ini, perusahaanku hanya memegang 46% saham. Ini tidaklah adil. Aku segera memanggil Vava dan menanyakan mengenai perjanjian kontrak. Vava bahkan tidak tahu, saat itu kesepakatan mereka adalah 50%, lalu kemana yang 4% lagi? Aku tidak mau menandatangani kontrak ini, aku segera menyuruh Vava untuk menyelesaikannya.
Beberapa jam berlalu, kini aku akan pulang ke rumah untuk beristirahat.
"Hey! Baby...."
Ada seseorang yang sepertinya memanggilku. Aku menoleh, ternyata Kenneth yang memanggilku. "Namaku Felister, jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu. Sangat menjijikan," kataku langsung memasuki mobil. Dilihat dari kaca spion, Kenneth terus saja mengikutiku. Aku menghentikan mobil, begitupun dengan Kenneth.
Kenneth mengetuk kaca mobilku, aku hanya menurunkan kaca tanpa menoleh. "Dengar, malam ini datanglah ke villa. Ada sesuatu yang akan aku berikan padamu," kata Kenneth lalu kembali ke mobilnya. Huh! Kau kira aku akan datang ke villa mendengarkan perkataanmu? Kau tidak lebih hanyalah seorang pembual.
Aku melajukan mobil sampai ke rumah. Hanya ada beberapa pembantu yang membersihkan rumah. Aku segera pergi ke kamar untuk beristirahat.
Berjam-jam aku tertidur, kini badanku terasa segar. Aku melirik ke arah jam di atas nakas yang menunjukkan pukul 7 malam. Aku jadi teringat dengan perkataan Kenneth. Akh! Aku bingung harus melakukan apa? Aku tidak ingin dia menipuku lagi. Tapi, bagaimana jika Kenneth berbaik hati memberikan gelangku? Aku mengacak rambut dan bergegas untuk mandi.
Daripada penasaran, aku akan menuruti perkataannya kali ini. Kupacu mobil menuju villa, di sana Kenneth menyuruhku untuk pergi ke kamar. Apa maksudnya ini? Aku harus menunggu di kamar miliknya? Entahlah kali ini pikiranku berkelana. Kenneth masuk dengan papperbag di tangannya. Dia menyerahkan itu padaku.
"Pakailah ini, aku akan memberimu waktu 15 menit untuk bersiap! Jika tidak, jangan pernah mengharapkan kembali gelangmu," kata Kenneth yang selalu saja memerintahku. Benar-benar bukan kehidupanku yang dulu. Tidak pernah ada orang yang berani memerintahku bahkan mengancamku.
Si pria gila ini membuatku berada di zona merah. Daripada memakinya, lebih baik aku segera bersiap-siap. Dress berwarna hitam dengan polet emas di sisinya membuatku terlihat elegan. Aku menyibakkan rambut ke samping dan menjepitnya.
Setelah itu, aku turun dan melihat Kenneth yang sedang bermain dengan Sean. Uh! Aku jadi sedikit rindu dengan makhluk kecil itu. Kenneth menatapku dari bawah hingga mata kami bertemu. "Kau memang pantas dengan apapun," kata Kenneth menatapku kagum. Aku mendekatinya dan menggendong Sean.
"Sebenarnya ada apa?" tanyaku tanpa melihat ke arah Kenneth. Tidak mungkin Kenneth menyuruhku bersiap hanya untuk bermain dengan Sean. "Hari ini kau temani aku diacara lelang." Aku menoleh terkejut. Aku paling tidak suka pergi ke acara lelang, akan ada banyak orang penting di sana. Lalu bagaimana dengan dirinya yang tiba-tiba datang bersama Kenneth? Apa dia berencana membunuhku? Aku menolaknya dengan alasan ingin bermain dengan Sean. Tapi, Kenneth tetaplah Kenneth yang berkuasa. Dia memaksaku untuk ikut dan meninggalkan Sean bersama babysitter.
"Kau tahu mengapa aku pergi ke acara lelang?"
"Memangnya aku peduli!"
"Hey... Aku tidak pernah pergi ke acara seperti ini sebelumnya."
Aku tidak merespon, lebih memilih menatap keluar jendela. Aku memang sedikit penasaran, jika Kenneth tidak pernah pergi ke acara sebelumnya berarti ini menjadi yang pertama untuknya.
Kenneth merangkul pinggangku saat memasuki sebuah gadung. Dari luar tampak sangat kotor, tapi saat masuk ke dalam... Ruangan tampak bercahaya dengan dinding berkilau serta lampu gantung yang menyinari ruangan.
Kami duduk dikursi yang sudah disediakan, banyak orang-orang penting di sini seperti dugaanku. Ternyata ini yang dilakukan mereka selama tidak bekerja di kantor. Acara lelang dimulai, aku akui bahwa barang-barang yang dilelang memanglah sangat langka dan menjadi incaran semua orang.
Kali ini barang yang dilelang adalah sebuah kalung anggota The Demon. Tunggu! kalung Demon? Siapapun yang mendapatkannya akan menjadi sekutu Demon. Sungguh kasihan sekali mereka, mencari sekutu dengan cara seperti ini.
"€4 juta"
"€5 juta"
"€5, 5 juta"
"€10 juta"
Aku menoleh ke arah Kenneth yang baru saja ikut membeli. Tidak ada yang berhasil menandinginya, akhirnya Kenneth lah yang mendapatkan kalung itu. Jika Kenneth bersekutu dengan Demon maka saat itu juga Devil akan menjadi musuh Angel.
Sebaiknya aku jangan terlalu dekat dengan Kenneth. Ini bisa membahayakanku, aku pergi begitu saja meninggalkan Kenneth yang sedang berbincang dengan utusan Demon. Apa ini cara mereka untuk menghancurkan The Angel? Tapi, selama ini tidak pernah mendengar The Devil bersekutu dengan siapapun.
Aku berjalan tidak tentu arah keluar dari gedung. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang membekapku. Aku yang menyadari itu dengan cepat menendang kaki orang itu hingga tangannya terlepas. Ada sekitar 3 orang yang berusaha menangkapku. Tidak tahu darimana para bandit ini berasal, aku berusaha melawan mereka.
Mengenakan dress seperti ini membuatku sulit bergerak bebas. Aku melepas sepatu heels dan menyerang mereka. Salah satu dari mereka ada yang berhasil memukul tengku leherku sampai aku tidak sadarkan diri.