
Pagi hari yang diselimuti kabut membuatku mengeratkan pelukan pada Sean. Hak asuhnya sudah menjadi milikku, maka tidak ada seorangpun yang akan mengambilnya. Aku tidak mengetahui tentang ibu Sean, tapi aku yakin Sasha mengetahui tentang itu.
Sean Anderson, dia akan menjadi penerus keluarga Anderson. Beginikah rasanya menjadi orang tua tunggal? tidak begitu merepotkan, tapi merasa kesepian. Sayup-sayup aku mendengar suara Jessy.
"Ken? waktunya sarapan." Jessy langsung membuka pintu tanpa meminta izin, sangat menyebalkan sekali bukan? keluarga Anderson tidak mungkin mengangkat menantu seperti itu.
"Apa kau tidak tahu caranya mengetuk pintu?!" Aku berkata dengan nada sinis, sedangkan dia hanya tersenyum.
Saat aku akan keluar, Jessy masih berada di tempatnya sembari menatap Sean yang masih tertidur. Sorot matanya yang terlihat tajam membuatku yakin ada yang dia rencanakan untuk Sean.
"Kau mengajakku sarapan, sedangkan kau sendiri malah diam di sini?"
Jessy langsung menatap ke arahku dan segera mengikutiku. Aku sudah berjanji akan melindungi Sean. Jika ada yang menyakitinya, maka aku akan membalasnya berkali-kali lipat.
"Ken, paman memberitahuku malam ini kau akan ke acara pesta di hotel Caruso. Dia memintaku untuk menemanimu."
Jessy berucap setelah duduk di kursinya. Aku memutar bola mata dengan jengah. Ayah tidak mengetahui bagaimana busuknya wanita ini. Jika bukan karena suatu hal, aku tidak akan mungkin membawanya dalam kehidupanku.
"Terserah kau saja."
Di matanya tampak binar kegirangan. Kali ini saja aku menyenangkanmu karena nantinya disaat aku menyakitimu, tidak ada lagi hutang yang aku miliki.
Ddrrtt ddrrtt
"Hallo? Ada apa, Bu?"
"Ken! Cepatlah datang ke kantor. Kau memang direktur, tapi tidak boleh seenaknya kau menyerahkan pekerjaanmu pada orang lain."
"Baiklah-baiklah, aku akan segera ke sana."
Hayden ini benar-benar tukang mengadu. Aku hanya memberinya tugas untuk mengarsipkan. Aku melirik Jessy yang kini menatapku.
"Aku harus pergi sekarang."
"Ken? Apa aku boleh ikut denganmu?"
"Untuk apa? Kau tidak bisa bekerja. Urus saja urusanmu."
Wanita yang tidak bisa bekerja, tapi ingin ke tempat kerja. Bukannya membantu menyelesaikan malah menambah beban.
Selama menunggu malam tiba, yang aku lakukan adalah menatap foto Sasha dan Sean. Mereka tidak pernah membuatku merasa bosan. Padahal di depanku masih banyak pekerjaan yang menumpuk.
Tok tok tok
"Masuk!"
Seorang wanita paruh baya yang datang tiba-tiba membuatku terkejut. Aku langsung menaruh ponsel dan berkutat dengan pekerjaanku.
"Kenneth! Ya Tuhan...sejak kapan kau jadi malas bekerja seperti ini?"
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal karena kikuk. Aku tidak berpikir ibu akan datang ke kantor hari ini. Wait, ponselku masih menampilkan foto Sasha. Sebelum ibu melihatnya, aku segera menyambar dan memasukkannya ke dalam saku.
"Apa yang kau sembunyikan?" tanya Ibu.
"Tidak ada, ini adalah ponselku."
"Sudahlah, aku akan menunggumu menyelesaikan pekerjaan."
Mataku terbelalak mendengar penuturannya. Menungguku menyelesaikan pekerjaan, berarti sama saja menyuruhku untuk tidak menatap foto lagi. Turuti perkataan Ibu maka aku akan mendapatkan kebaikan.
Sasha's POV
Vinka sudah di perbolehkan pulang. Aku menggenggam tangannya ketika berjalan di lobby. Raut wajah Vinka tampak ceria, seperti aku yang dulu keluar dari rumah sakit setelah di rawat.
Bibirku tersenyum ketika Vinka memeluk pinggangku. Jika saja orang yang berada di posisi Vinka adalah Nathe, aku akan lebih senang.
"Kau ingat jalan menuju panti?" tanyaku.
"Ada apa?"
"A–aku tidak ingin kembali ke panti...," gumamnya.
Aku pikir Vinka merasa bosan berada di panti. Aku akan membawanya ke hotel untuk menginap beberapa hari.
Aku membuka pintu mobil agar dia segera masuk. Selama perjalanan, Vinka lebih banyak berbicara. Tidak seperti awal pertemuan kami.
"Itu dia!" Vinka berseru yang membuatku terkejut.
"Siapa?" tanyaku.
"Wanita itu yang ada di sana saat itu. Aku yakin dia orangnya."
Vinka menunjuk pengendara mobil yang berhenti tepat di samping mobilku. Lampu merah yang sedang berlangsung membuatku bisa menatapnya dengan jelas.
"Jessy?" gumamku.
Tin tin
Suara klakson dari mobil lain menyadarkanku. Jessy pun sudah berlalu pergi di depan. Vinka masih terus menatap mobil Jessy.
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
"Sebelumnya dia mengajakku bermain saat di tepi jalan. Dia menggunakan sebuah benda yang tidak aku ketahui namanya. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi."
Dugaanku memang benar, ada hal aneh sebelumnya. Ternyata dalang ini adalah Jessy, dia menghipnotis Vinka untuk berjalan ke tengah jalan ketika mobilku melintas.
Dia pasti sudah mengetahui jika mobilku akan melewati jalan itu. Kemudian dia akan membuat berita supaya aku menunjukkan identitas.
Jessy dan Liolyn, kedua gadis yang sama-sama licik. Yang satunya ingin membunuhku, sedangkan yang satunya ingin menindasku. Tapi mengandalkan otak tanpa berpikir panjang tidak akan pernah berhasil.
Samapi di hotel, aku menyuruh Vinka untuk tetap di dalam kamar. Aku harus pergi ke lantai bawah menemui kepala hotel.
"Aku ingin penjagaan ketat pada kamarku. Jangan sampai terjadi sesuatu."
"Baik! Nona."
Tanganku terkepal erat. Membawa Vinka ke hotel mambutku teringat dengan kejadian Vava saat di Amsterdam. Aku tidak ingin orang-orang di sekitarku kembali disakiti.
"Mengapa berita ini begitu cepat? Bahkan isinya tidak seperti kejadian."
Baru saja aku masuk ke kamar, Vinka malah bertanya mengenai hal itu. Pandanganku tertuju pada koran yang tengah dia pegang. Vinkan membuang koran itu dan mendekatiku.
"Aku ingin berita ini dicabut. Ada orang yang memfitnahmu."
"Aku tahu, ini bukanlah masalah. Selagi kau ada di sini, maka kebenaran tidak akan pernah berubah."
Aku menepuk puncak kepalanya beberapa kali. Aku tidak peduli dengan gosipku di luaran sana.
Aku terdiam karena tiba-tiba saja teringat dengan pertemuan kembali di hotel Caruso. Aku tidak mungkin meninggalkan Vinka di sini seorang diri, juga tidak mungkin membawanya ke dalam.
"Apa ada masalah?" tanya Vinka.
"Tidak ada, kau mau ikut bersamaku membeli gaun?" ajakku.
"Gaun? Memangnya siapa yang akan berpesta?" tanyanya.
"Malam ini aku diundang oleh teman-temanku. Tidak mungkin aku meninggalkanmu sendirian di sini. Oleh karena itu kau ikut saja bersamaku ke sana."
"Benarkah?!...tapi aku tidak ingin mempermalukanmu." Dalam sekejap Vinka mengubah ekspresi wajahnya yang tadinya bahagia menjadi sedih.
"Tidak apa-apa, jika kau tidak mau masuk...kau bisa menungguku di mobil. Aku tidak akan lama, lagipula aku bukan orang yang begitu menyukai pesta."
Vinka mengangguk antusias. Kami segera pergi mencari gaun yang akan di pakai nanti malam. Menurutku, Vinka sedikit mirip dengan sedeorang. Tapi aku tidak begitu jelas mengingatnya.