
Istilah sulit yang akan ada diChapter ini:
1. Rekanan (associates)
Rekanan adalah para gangster wannabe yang belum secara resmi dilantik ke dalam organisasi mafia.
2. Tentara (soldiers)
Tentara biasa disebut sebagai lebah pekerjaan. Mereka yang diperintahkan untuk memukul atau membunuh rekan mereka sendiri atau bahkan menghabisi keluarga saingan.
3. Capos
Capos (caporegimes) adalah orang yang ditunjuk untuk memimpin sebuah grup/kru yang terdiri dari tentara dan rekanan.
...___________________________________________________...
Sasha's POV
Aku duduk dengan santai di depan seorang polisi. Tidak ada sepatah kata yang aku ucapkan selama berada di kantor kepolisian, hanya ekspresi yang santai. Seolah-olah tidak akan ada hal yang terjadi selanjutnya.
"Nona Sasha, kami mengetahui bahwa Tuan Alvin berkunjung ke rumahmu setelah tiba di Paris. Setelah itu tidak ada kabar lagi darinya. Berarti seharusnya kau tahu dimana keberadaan Tuan Alvin."
Walaupun aku mengetahuinya, tetap saja hukuman adalah hukuman. Aku tidak akan memberitahu dimana Alvin disekap.
"Haruskah?" ujarku.
"Nona, jika Anda tidak mau mengatakannya... Kami akan menahanmu hingga Tuan Alvin ditemukan."
Aku mencondongkan tubuh untuk membisikan suatu kalimat di telinga polisi itu. Tapi, suara seseorang membuatku berhenti dan menoleh.
"Maaf, aku adalah Alvin Pasternack."
Mataku terbelalak saat mengetahui Alvin tiba disini. Polisi pun tampak terkejut melihatnya. Aku menoleh ke arah belakang, siapa tahu ada orang yang mengantarnya. Justru yang datang malah keluarga Alvin.
"Alvin, ayo katakan pada kami dimana Sasha menyembunyikanmu?" Ibunya langsung memeluk Alvin seraya menatap sinis ke arahku.
"Sasha, kau sudah mengakui kalau menculik Alvin?" ujar Ayah Alvin.
"Ayah—tidak, Sasha tidak menculikku. Aku yang menginap di rumah teman. Maaf karena tidak memberi kabar."
Aku mengangkat sebelah alis ketika mendengar penuturan Alvin. Aku yakin pasti Thian yang melakukan ini.
"Kasus ini sudah selesai, bukan? Ada suatu hal yang perlu ditangani. Jadi, permisi." Aku langsung pergi begitu saja dan menelpon Thian.
"Jemput aku."
"Memangnya kau ada dimana?"
"Seharusnya kau lebih tau."
Aku memutuskan panggilan begitu saja. Sebuah mobil peugot yang aku lihat seperti hari sebelumnya tengah terparkir di bawah pohon. Entah karena memang kebetulan atau tidak, aku rasa ini aneh. Aku yakin sekali bahwa orang itu bukanlah mata-mata yang dikirim The Demon, atau musuh Kenneth? Sudahlah, memikirkannya membuatku sakit kepala.
"Hai, maaf merepotkanmu." Aku menoleh ke arah Alvin yang baru saja keluar dari kantor polisi. Aku hanya mengangguk sekilas.
Setelah melihat mobil Thian, aku langsung masuk tanpa menoleh lagi ke arah Alvin. Aku sempat melihat tatapan mengintimidasi dari Thian pada Alvin.
"Apa yang sudah kau lakukan?" tanyaku.
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan?" Terlihat raut wajah yang terpancar tanpa dosa. Malahan Thian memalingkan wajahnya.
"Kau yang melakukan ini, kan?!" ucapku dingin.
"Baiklah aku mengaku. Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku tidak bertindak? Memberitahu identitasmu sebagai Mirachel?"
Aku hanya diam tanpa mau membantah karena itu memang benarnya. Thian menghembuskan napas yang terdengar samar di telinga.
"Jika kau memberitahu identitasmu, maka polisi malah akan menangkapmu dengan mudah. The Angel sulit untuk ditangani."
Seketika aku menoleh mendengarnya. Apa yang terjadi selama aku tidak mengawasi Mirachel? Terlihat di matanya sebuah kecemasan.
"Kau bisa pergi ke sana. Aku yang akan menjemput Nathe."
"Apa kau yakin? Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada kau dan Nathe."
"Tenanglah, aku bisa melindunginya. Apa yang kau katakan pada Alvin?"
"Yeah, aku mengancam agar dia tidak mengatakan apapun ataupun bemberitahu tentang apa yang terjadi pada dirinya. Seperti yang aku kira, dia menurut begitu saja."
Thian sudah tahu seberapa lama dan dekat antara aku dengan Alvin.
"Sasha bagaimana soal wanita yang kau urus? Besok benar-benar harus di lepas?" Aku jadi teringat dengan ibu Sean. Aku harus memastikan apa yang terjadi dengan bertemu dengan nya. Pastinya sebelum Kenneth mengantar Sean.
"Kau bisa pergi sekarang menangani masalah itu. Selanjutnya aku saja yang akan bertindak."
"Baiklah jika itu maumu." Thian mengangkat bahunya acuh.
"Mengenai hubungan Liolyn dengan Jessy, apa kau sudah mengetahuinya?" tanyaku.
"Ternyata mereka sepupu. Aku kira hanya Liolyn saja yang tersisa semenjak keluarganya tiada."
Aku terdiam mendengar pernyataan Thian. Jika Liolyn dengan Jessy adalah kerabat, apa yang akan Kenneth lakukan berarti benar? Dia bersekutu dengan The Demon, mungkinkah untuk mengalahkan The Angel?
Kenneth's POV
Aku terkejut saat mendengar bahwa Sasha ditahan di kantor polisi atas tuduhan penculikan. Ini terdengar sangat konyol. Aku kira Sasha tidak pernah berurusan dengan kriminal.
"Ohayo, kau bisa setenang ini setelah banyak masalah mengenai dirimu?" tanya Hayden.
"Menurutmu siapa dalang dibalik fotoku dan Sasha?"
"Kau bertanya padaku? Bahkan aku sendiri tidak mengenal Sasha. Mungkin para musuhmu?"
Aku jadi ingat dengan seorang pria yang pernah aku lihat di rumah sakit. Saat itu aku menyuruh Sasha agar kembali ke ruangan karena ada seseorang memotret kami, lalu mengirimnya padaku dengan caption mengancam.
Setelah orang itu berhasil pergi, aku buru-buru menghampiri Sasha yang ternyata dalam bahaya. Tapi mereka bukan orang yang sama.
Orang yang mencelakai Sasha adalah utusan The Angel. Aku bisa mengenali dari topeng yang dikenakan. Tapi, apa hubungan antara Sasha dengan The Angel?
"Bagaimana dengan persiapan para rekanan?"
"Yeah, ada 10 tentara dan sisanya diambil dari rekanan. Aku akan menjaga keamanan saat acara berlangsung."
"Bagus! Aku harap kau sebagai Capos bisa memimpin kru-mu. Perintahkan pada Aaron untuk membuka kebenaran."
"Akan aku lakukan, Bos."
Cuaca cerah hari ini tidak seperti hatiku yang mendung. Sebentar lagi permasalahan akan selesai dan aku bisa menentukan jalan hidupku.
Sasha, maafkan aku. Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini padamu. Hanya saja kau lebih aman tanpaku sekarang.
Aku merogoh saku mengambil kalung milik ibu Sean. Besok adalah hari dimana Sean akan kembali dengan ibu kandungnya, rasanya berat berpisah dengannya.
Walaupun hanya satu bulan, tapi kenangan yang tersimpan seperti satu tahun. Apa maksud dari ibu Sean yang menyerahkan kalung ini? Mengapa harus satu bulan?
Jika memang dia memiliki misi, tidak mungkin dia menyerahkan Sean kepadaku untuk melindunginya. Apalagi dia tidak tahu bahwa identitas ku adalah pemimpin The Devil. Atau dia memang mengetahui kalau aku ini mafia?
Oh ayolah Ken, kenapa pikiranmu begitu banyak?