The Diamond

The Diamond
The Angel



Ku parkiran mobil tepat di samping mobil Kenneth, tidak sopan? Aku tidak peduli. Dia memindahkan tempat kerjaku, itu yang tidak sopan. Namun, tatapanku terpaku pada mobil di sebelah kanan mobil Kenneth. Aku tidak tahu jika Kenneth memiliki asisten lagi.


"Nona Sasha, tunggu! Direktur sedang ada tamu," kata Hayden menghentikan kegiatanku membuka pintu. Tamu? Aku pikir orang yang mengendarai mobil itu.


Hayden menatap ke arah tanganku yang memegang sebuah topeng. Aku memperlihatkan topeng itu tepat dihadapannya.


"Kau tahu ini?" tanyaku.


"Tentu, itu topeng." Aku terkekeh seraya menjawab, "Aku tahu kau pintar, tidak seperti atasanmu. Aku harus masuk sekarang juga." Hayden terus memanggil namaku supaya tidak masuk, sedangkan aku harus mengambil lembar kerjaku.


"Jessy! Sudah ku peringatkan kepadamu, jangan pernah menemuiku lagi!" seru Kenneth pada wanita yang berada di samping Kenneth. Well, wanita yang sangat memelas. Seharusnya tidak sampai terobsesi, kan? Kali ini aku mendapatkan pertunjukkan gratis lagi.


"Ken! Mengapa kau sangat membenciku? Padahal aku sangat mencintaimu! Acara pernikahan akan di selenggarakan beberapa bulan lagi. Beginikah sikapmu padaku?" ujar wanita itu—Jessy? Itulah yang aku dengar dari Kenneth. Mata Kenneth melirik ke arahku yang duduk di sofa.


"Pernikahan itu, aku tidak menyetujuinya. Aku sudah memiliki istri masa depanku." Hah? Apa maksud perkataan Kenneth? Jika memang perkataan itu ditujukan padaku, aku akan memukulnya.


Kenneth berjalan ke arahku, merangkul pinggang ku seraya berkata bahwa aku adalah istrinya di masa depan. Langsung ku sikut perutnya hingga meringis.


"Kau! Kau wanita yang tidak tahu malu. Aku dan Ken sudah bertunangan, tapi kau malah merebutnya dariku?!" Tamparan keras mendarat mulus di pipiku,  wanita ini membuatku semakin emosi. Aku menampar balik pipinya sampai merah. Mengapa aku harus sesial ini?


"Jaga bicara Anda, saya tidak ada hubungan apapun dengan kalian. Anda boleh emosi, tapi tolong jangan bodoh." Aku pergi begitu saja setelah melihat pertunjukkan, bahkan aku ikut bermain.


"Hey!di luar masih hujan!" seru Kenneth


"Jika aku tetap di sini apa hujan akan langsung reda?" tanyaku. Baru saja keluar dari ruangan, aku melihat Hayden yang sepertinya tengah menguping. Terlihat gelagat aneh Hayden saat aku meliriknya.


"Aku yakin telingamu sangat lancip," kataku saat melewati Hayden.


"Aku sudah mengatakan padamu jangan masuk, tapi kau bersikeras. Apakah rasanya sakit mendapat polesan di pipi?" Aku menghentikan langkah, menatap Hayden dari bawah hingga atas.


"Apa kau ingin mencobanya? Aku akan memberikan triple untukmu." Aku bersiap-siap mengangkat tanganku untuk menampar nya. Melihat Hayden yang menutupi wajahnya, aku langsung pergi meninggalkannya. Sia-sia aku pergi ke sini, lebih baik aku kembali ke kantor. Hari yang kesal, aku akan menulisnya pada catatan hitam.


Felisha Group terasa ramai, ku lihat semua orang sedang berkerumun. Aku pikir ada pembagian sembako di dalam kantor. Seorang pria berdiri di atas kursi seperti sedang melakukan konser.


"Apa yang kalian lakukan?!" Semua orang yang menatapku, perlahan bubar dari kerumunan. Aku menghela nafas lelah melihat Thian yang berdiri di atas kursi.


"Konser yang menarik, tidak kau lakukan di alun-alun?" tanyaku. Thian tertawa receh dan segera turun. Thian memelukku, namun aku hanya diam.


"Hey! Aku pulang karena khawatir denganmu. Tapi kau malah pergi entah kemana ... aku lihat para karyawanmu bisa menjadi fansku." Aku manarik tangan Thian menuju ruangan. Menunjukkan sebuah topeng dan meletakkan pistol di atas meja. 


"Kau tahu darimana orang yang mengenakan ini?" tanyaku. Thian mengambil alih topeng, mengamatinya sejenak lalu mengembalikan lagi padaku.


"Dia membunuh ibuku, apa dia juga yang menyuruh orang untuk menyerangku? Tapi apa salahku?" tanyaku seraya menatap Thian.


"Sasha, aku tahu seperti apa sifat paman kedua. Tapi, walaupun kita menolak, organisasi The Angel masih berada di bawah kendalinya."


"Tapi tidak menyakal bahwa aku memegang kendali penuh atas mirachel!"


The Angel, organisasi mafia yang dibagi menjadi dua pemimpin. The Angel pemegang kekuasaan seluruh organisasi, sedangkan mirachel hanyalah bagian dari The Angel. Ketika itu, paman tua yang menjadi pemimpin The Angel, lalu dia memindahkan kepemimpinan pada paman kedua dan membagi wilayah The Angel. Aku tahu walaupun aku hanya ketua mirachel, tidak memungkinkan bahwa aku pemegang sebagian The Angel.


"Ada satu hal yang membuatku penasaran tentang wanita itu. Sebenarnya, apa rencanamu? Mengapa kau menyuruhku untuk merawatnya lalu melepaskannya setelah satu bulan?" tanya Thian. Kini pikiranku beralih pada Sean. Masalah ibunya masih belum terpecahkan, dan akan terungkap setelah mereka bertemu langsung.


"Tidak ada, aku hanya ingin tahu apa siapa wanita itu."


Sudah tiga tahun aku menjabat sebagai ketua, saat itu juga The Demon menyerang mirachel. Anehnya, mengapa hanya mirachel? Jika memang ingin menguasai The Angel, seharusnya The Demon menghadap ke pusat langsung.


"Lihat! Kau meninggalkan ponselmu, padahal kau tidak pernah mengabaikan panggilan dari Nathe." Thian menunjukkan layar ponselku yang terdapat tiga panggilan tak terjawab dari Nathe. Oh Nathe, maafkan aku karena mengabaikan panggilanmu.


"Cepatlah pulang, aku akan ke rumahmu malam ini." Aku mendorong tubuh Thian supaya keluar dari ruangan.


"Aku masih ingin melihat Asisten cantikmu."


"Biarkan Vava bekerja, kau jangan sampai membuat performanya menurun."


Sejak pertama kali Thian datang ke Felison Group, saat itu juga Thian menyukai Vava. Aku harap Vava tidak keberatan jika Thian terus menempel bagai perangko.


"Hallo?"


"Kakak! Kau sudah melupakan aku, kah? Atau kau sudah tidak peduli padaku?"


"Maaf, aku lupa membawa ponsel saat keluar. Ada apa?"


"Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan ibu? Sebentar lagi aku lulus, kau akan menjemputku bersama ibu, kan?"


Nathe, apa kau akan membenci kakakmu ini setelah mengetahui kebenarannya? Hanya kau satu-satunya anggota keluargaku. Sebelumnya aku pun pernah berharap bahwa ayah dan ibu akan datang ketika acara kelulusanku ketika SHS. Namun, ayah tidak datang, apalagi ibu yang saat itu sudah membenciku. Mungkin keinginanku sudah terkabul ketika masih JHS. Apa kau merasa sedih karena mereka tidak pernah menghadiri acara kelulusanmu?


"Hallo? Apa kau masih bisa mendengarku?" Suara Nathe kembali menyadarkan pikiranku. Aku tidak akan memberitahunya sekarang karena itu bisa membuatnya terlalu berpikir jauh.


"Iya aku mendengarmu, aku akan datang menjemputmu ketika sampai. Jaga dirimu baik-baik, sampai jumpa!"


Aku menutup panggilan sepihak, tidak ingin Nathe bertanya lebih jauh. Nathe tidak mengetahui permasalahan yang selama ini sedang terjadi. Itu lebih baik daripada mengetahuinya, karena Nathe sangat menyayangi ibunya.