The Diamond

The Diamond
Devide et impera



Hati-hati'


Aku menoleh ke arah Kenneth yang mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku tidak tahu harus berhati-hati dengan apa. Tanpa sengaja aku melihat ke arah tangan tuan Sanders yang seperti memegang sesuatu.


"Bagaimana? Apa kau akan melanjutkan kerja sama?" ujar Tuan Sanders.


"Maaf, aku akan tetap membatalkannya. Terima kasih atas pertemuannya."


Aku langsung pergi meninggalkannya. Aku sempat melirik ke arah Kenneth yang juga sedang menatapku. Aku beralih menatap Jessy yang duduk di samping Kenneth. Senyuman miring terukir di wajahku.


Aku melihat buang mawar yang tertempel pada kaca mobil. Aku pikir tidak akan ada lagi bunga yang merorku, ternyata ini terus saja berlanjut. Aku tidak tahu siapa yang mengirim bunga ini. Jika itu Kenneth,bagaimana bisa? Aku baru saja bertemu dengannya.


Tap tap tap


Bugh! "Akhh!"


Aku menendang orang itu yang ternyata Tuan Sanders. Mataku menatap pisau yang terjatuh setelah aku menendangnya.


"Apa kau berencana melenyapkan ku?!" tanyaku penuh penekanan.


"Ternyata kau wanita yang begitu waspada." Tuan Sanders berkata sambil menunjukkan smirknya. Dia kembali bangun mengarahkan pisau itu padaku.


Grep!


Tanpa rasa takut dan berpikir panjang aku mencengkram pisau itu. Dengan kencang aku menendangnya.


"Trikmu sangat rendah. Lebih baik kau berlatih lagi!" Aku langsung masuk ke mobil, mengabaikan darah yang mengucur akibat tekanan pisau.


"Aku akan bunuh diri jika kau muncul lagi dihadapanku!"


"Ibu...," gumamku.


Melihat telapak tanganku saat ini membuatku mengingat Ibu yang akan bunuh diri dan Kenneth yang mengobati.


Aku menatap bunga mawar dan mengambil secarik kertas yang terdapat di sana.


"Terkadang apa yang kau lihat tidak seperti apa yang kau pikirkan."


Aku meletakkan bunga itu pada dashboard mobil. Pikiranku tertuju pada Nathe yang entah berada dimana. Aku mencoba untuk menelponnya, tapi tak kunjung diangkat.


Saat mobilku hampir sampai di rumah, aku melihat mobil paman kedua yang baru saja berhenti. Yang membuatku terkejut adalah Nathe keluar dari mobil.


Aku memperlambat laju mobil dan melihat mereka yang tampak akrab.


Setelah mobil paman kedua pergi, aku langsung masuk ke rumah.


"Nathe, kau dari mana?" tanyaku.


Nathe berhenti melangkah menaiki tangga. Tanpa berbalik badan dia berkata, "Mengapa kakak tidak mencari ku? Paman kedua sudah menyelamatkanku dari penjahat yang akan melukaiku."


Mataku terbelalak mendengar pernyataan itu. Bukannya aku tidak ingin mencarinya, tapi aku ada urusan mengenai perusahaan.


Aku menatap sendu ke arah punggung Nathe. Semakin jauh jarak yang dia ciptakan membuatku sulit menggapainya.


Tanpa ada perintah air mata ini turun perlahan. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Sesuatu yang aku inginkan hanyalah sebuah kedamaian.


"Nathe?" Aku berdiri di depan kamar Nathe. Tidak ada jawaban dari Nathe membuatku kembali memanggilnya.


"Nathe? Apa aku boleh masuk?" kataku.


"Ada apa?" Nathe hanya menjawab tanpa membuka pintu. Aku menghembuskan napas lelah.


"Aku hanya ingin kau menjaga jarak dengan paman kedua."


Ceklek!


Tiba-tiba Nathe membuka pintu dan menatapku dengan wajah yang baru pertama kali aku lihat selama ini.


"Aku harus menjaga jarak dengan paman kedua atau dengan pembunuh sepertimu?" Plak!


Tanganku refleks menampar pipinya. Hatiku lebih sakit daripada harus meninggalkan Kenneth dan Sean.


"Aku tidak membunuhnya!"


"Lalu siapa? Hanya kau yang paling dekat dengannya. Kau bisa melakukan apapun setelah ayah tiada!" Brak!


Nathe menutup pintu dengan kencang. Tubuhku luruh ke lantai yang dingin. Hatiku kembali hancur melihat kondisi Nathe.


"Apa kau benar-benar membenciku, Nathe?" gumamku.


Memori keluarga yang masih harmonis terngiang di otakku. Dulu ada canda dan tawa yang menghiasi rumah ini. Sekarang hanya ada kesunyian dan kemarahan.


Aku berjalan ke kamar dan menuliskan sesuatu pada kertas.


'Nathe, aku pikir pertemuan kita hanya ada tawa bahagia. Ternyata memang benar bahwa jangan pernah berharap pada apapun yang belum terjadi. Aku tahu kau lelah setelah kembali dari Amerika.


Jika ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku, maka sampaikanlah. Aku akan selalu ada untukmu. Aku tidak bisa melihatmu pergi dari rumah, oleh karena itu aku yang akan pergi. Jangan khawatirkan aku, dimana pun aku berada...kehadiranmu selalu yang aku tunggu.'


                                                                             Sasha


Aku menaruh kertas itu dibawah pintu agar Nathe mengetahuinya. Sekarang ada yang akan menjaga jarak, tapi bukan berarti menjauh.


Melihat kebencian yang Nathe tunjukkan kepadaku rasanya seperti ada sesuatu hal yang tidak bisa aku jelaskan. Beberapa saat aku menatap pintu kamar Nathe.


"Jaga dirimu baik-baik."


Setelah mengatakan itu, aku langsung pergi meninggalkan rumah. Namun sebelumnya, aku berpamitan pada Bibi Zoe.


"Nona, apa caramu ini yang terbaik?" ujarnya.


"Menurutku ini yang terbaik. Jaga Nathe untukku." Aku tersenyum pada Bibi Zoe.


Saat mobilku keluar dari gerbang, dari arah yang berlawanan paman kedua datang. Dia tamapk berhenti tepat di sampingku.


"Aku sudah mengatakan padamu bahwa dimasa yang akan datang, ada waktu dimana aku bisa melenyapkanmu."


"Tidak akan aku biarkan kau melenyapkanku dengan mudah," desisku.


Paman kedua berlalu dengan senyuman miring seolah-olah mengejekku. Kini yang perlu aku lakukan adalah menenangkan diri.


Melihat orang-orang yang begitu menikmati pemandangan di tepi sungai la siene membuatku iri. Aku mengambil posisi duduk yang sedikit jauh dari keramaian orang-orang.


Ternyata mencari ketenangan tidak semudah yang orang katakan. Malah satu persatu masalah kembali teringat. Mulai dari Kasus ibu Sean, perasaan pada Kenneth, dan paman kedua yang sudah beraksi.


Jujur saja, aku hanya bisa memendam ini dan mencari solusi sendiri. Sebenarnya hal yang aku inginkan adalah menjadi sesuatu yang berharga dimata orang. Layaknya sebuah pertama yang selalu dijaga dan dilindungi.


"Maaf, Nona. Tanganmu terluka."


Aku menoleh pada seorang wanita cantik yang kini duduk di sampingku. Bahkan aku hampir lupa jika tanganku sedang terluka.


"Tidak apa-apa," jawabku.


Wanita itu tampak mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Biarkan aku membantumu mengobati, jika tidak nantinya akan infeksi." Wanita itu menuangkan air dalam botol yang dia ambil. Aku memejamkan mata menahan perih yang menyerang. Luka itu adalah luka yang sama dalam kasus yang berbeda.


"Mengapa kau tidak segera mengobati luka ini? Apa kau tidak merasakan sakit?" ujarnya.


"Hanya luka biasa...terima kasih."


"Sama-sama. Siapa namamu?"


"Alexandra."


"Nama yang bagus, namaku Caroline Dozz."


Caroline tersenyum bahagia, tapi mata yang dipancarkan tidak sesuai dengan senyumannya. Aku memilih diam membiarkan Caroline yang sepertinya sedang menikmati pemandangan di sini. Dia tampak ayu dengan riasan make-up yang tipis.


_______________________________________________


Jangan lupa untuk like, komen, dan vote. Terima kasih🙏