
Perlahan aku membuka mata dan berada di sebuah ruangan yang gelap. Kedua tangan dan kakiku disandera pada kursi.
Tak tak tak
Suara heels yang berjalan mendekat membuatku sebisa mungkin menajamkan penglihatan. Ruangan yang minim cahaya ini membuatku kesulitan melihat wajah orang itu.
"Alexandra Felister. Penantianku sudah dekat, kau akan mati hari ini juga."
Seorang wanita yang mengenakan Hoodie tak membuatku asing. Dari suara yang khas mampu membuatku menebak bahwa orang itu adalah Liolyn.
"Kau bukanlah Tuhan. Mungkin aku akan mati, tapi tidak di tanganmu, Liolyn!" kataku.
"Oh, kau cukup cepat menebakku. Dengarkan aku, Sasha. Orang yang dulu sangat kau percaya bisa mengkhianatimu, sekarang orang yang kau cintai tidak memihak padamu...sungguh ironis." Liolyn mencengkram daguku dengan kencang. Aku bertekad untuk melenyapkannya suatu saat. Tapi mungkin saja semua tekadku hanyalah bagian dari khayalanku.
Aku tidak memiliki siapapun saat ini. Tidak ada orang yang akan menolongku. Thian tidak ada kabar dan sulit dihubungi, sedangkan Kenneth yang tidak akan pernah membantuku lagi.
"Ya, kau benar. Jika aku mati saat ini, maka kau juga akan ikut mati!" tegasku.
"Ha ha ha, aku begitu terharu dengan kata-katamu. Kau? Mengajakku mati bersama? Mimpi saja
karena—" " Cukup, Liolyn! Kau tidak akan bisa melukai Alexa selama aku ada di sini."
Aku melihat Alvin yang kini berdiri di depanku menghadap Liolyn. Aku menggeleng tidak percaya, Alvin tidak pernah seberani ini sebelumnya. Alvin yang aku kenal dulu adalah sosok yang santai dan ramah.
"Alvin? Kau memiliki keberanian darimana? Dulu ketika Sasha bertengkar dengan para gangster, kau hanya bersembunyi tanpa menunjukkan wajah." Liolyn tertawa mengejek Alvin. Diam-diam tanganku terkepal erat. Kejadian dimana Alvin yang bersembunyi ketika ada gangster yang mengusikku membuatku merasa iba.
"Liolyn, kau benar-benar wanita iblis...Dan kau pantas mati!" Dor!
Alvin mengarahkan pistol pada Liolyn. Mataku terbelalak karena tidak tahu bagaimana Alvin memiliki senjata api itu.
"He-he, kau berani menembakku? Kau juga harus ikut mati bersamaku!" Dor!
"Alvin?!" seruku.
Liolyn tersenyum miring karena berhasil menembakkan peluru pada Alvin yang akan mendekatiku.
"Ka–u Sasha, aku tidak akan membiarkan hidupku berakhir sia-sia. Walaupun aku tidak bisa membunuhmu, aku bisa membunuh orang yang kau sayangi...." Liolyn berkata sampai pada akhirnya menutup matanya.
"Alvin? Kau baik-baik saja?" tanyaku.
"A-apa, be-benar kau masih menyayangiku?" Alvin berkata dengan menahan sakit. Aku tidak bisa melihatnya seperti ini. Walaupun aku membenci Alvin karena salah paham, hatiku tidak akan bisa melupakan kebaikan yang telah dia berikan padaku.
"Apa yang kau lakukan di sini, bod*h?! Tidakkah kau memikirkan keselamatanmu?!" Aku berteriak di depannya.
"Kali ini, kali ini saja biarkan aku memperjuangkanmu. Biar–kan aku melindungimu, walaupun aku harus merelakan nyawaku. Sasha, izinkan aku menyentuh kakimu untuk terakhir kali...."
Alvin merangkak mendekatiku dengan susah payah. Aku tidak bisa menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mataku.
Bruk!
Alvin berhasil menyentuh kakiku dan seketika tubuhnya ambruk. Aku benar-benar tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Alvin, yang tidak pernah melakukan apapun untuk melindungiku, kini dengan keberaniannya dia menodong pistol hingga merelakan nyawanya.
Kenneth's POV
Melihat Sasha yang berjalan tergesa-gesa membuatku penasaran dan berencana untuk mengikutinya. Namun, Jessy yang terus saja menempel layaknya perangko membuatku kesal.
"Kau mau kemana? Acaranya belum selesai," kata Jessy.
"Berhenti mengusikku, aku ada urusan."
Begitu menghempaskan tangannya, aku segera pergi meninggalkan acara. Sebelum benar-benar pergi, aku menyuruh Hayden menggantikan ku.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Hayden.
"Kerjakan apa yang aku perintahkan. Ada urusan penting diluar sana."
"Tolong, siapapun tolong kakakku!"
Aku yang tidak tega langsung menghampirinya. Gadis itu tampak senang begitu aku mendekatinya.
"Tuan, tolong bantu aku. Kakakku dibawa seseorang! Tolong selamatkan dia, aku mohon...." Gadis itu mengapitkan kedua tangannya tanda memohon padaku.
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
"Saat kami akan pulang, ada seorang pria berpakaian hitam mengenakan topeng yang memukul kakakku ketika dia masuk ke mobil."
Gadis itu menunjuk mobil di sampingnya. Mobil Lexus putih yang sangat familiar bagiku. Jantungku langsung berdetak lebih kencang.
"Kemana orang itu membawanya?" tanyaku.
"Aku tidak tahu, tapi mereka ke arah sana."
"Aku akan menolongnya. Kau tetaplah di sini, nanti akan ada seseorang yang membawamu pulang."
Gadis itu mengangguk dengan patuh. Aku langsung menuju mobilku dan menghubungi anggota the Devil mencari keberadaan Sasha.
Wanitaku tidak boleh ada yang menyakitinya, tidak seorangpun. Jika ada yang melukainya, maka aku akan menghabisi orang itu dengan tanganku.
"Aaron, aku butuh timmu untuk mencari keberadaan seseorang. Email-nya akan aku kirim padamu."
"Baik, aku akan melakukannya."
Ting!
Tak lama setelah aku mengirim email Sasha, Aaron langsung memberikan lokasi keberadaan Sasha. Mobilku melaju dengan cepat membelah jalanan kota. Semakin lama jalan yang dilewati semakin sepi pula suasananya.
"Aaron cepat ikut aku ke dalam sana."
"Aku akan datang sebentar lagi."
Begitu aku keluar dari mobil, penjaga gedung itu tampak waspada dan langsung menodongkan pistol. Smirk yang aku keluarkan membuat kedua penjaga itu tampak saling memberi isyarat.
"Siapa kau?" tanya salah satu dari mereka.
"Kesalahan yang kau lakukan adalah menanyakan identitasku. Kalian harus bersiap-siap untuk mati!" Bugh! Bugh!
Pertarungan ku membuat para penjaga lain langsung keluar dari gedung. Untungnya aku sudah menyuruh Aaron datang. Mereka membereskan para gangster itu, sedangkan aku masuk ke dalam gedung.
Tidak ada suara apapun di dalam. Seolah-olah hanya ada seorang penjaga saja. Kaki melangkah menaiki tangga menuju lantai dua, tidak ada yang aneh. Aku kembali ke lantai tiga. Di sana aku mendengar suara tangisan seseorang.
Aku tidak takut dengan hantu, tapi takut jika orang itu adalah Sasha. Aku menajamkan pendengaran hingga sumber dari suara itu berasal dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Suara isak tangis itu terdengar jelas dan samar-samar bau anyir memasuki indera penciumanku.
Aku terkejut ketika melihat seorang wanita yang tergelatak tanpa nyawa. Aku pikir orang itu adalah Sasha, ternyata bukan.
"Sasha?"
Suara isakan tangis berhenti begitu aku memanggil namanya. Aku lebih terkejut lagi melihat seorang pria yang tergelatak sembari menyentuh kaki Sasha.
"Apa kau baik-baik saja?" Aku bertanya sambil membuka ikatan tali yang menyandera Sasha.
_____________________________________________________
Kenapa aku nggak update di hari Sabtu-Minggu? karena sebentar lagi cerita ini akan tamat. Makanya aku percepat dengan update seminggu 3×.
Jangan lupa Like dan komennya ya😉