
Kenneth mengantarku pulang. Aku langsung masuk tanpa menyuruhnya singgah. Tidak sopan? Mungkin, aku hanya ingin menghindar darinya. Rumah terlihat sangat sepi. Ku lihat Bibi Zoe datang menyambutku.
Senyuman merekah tampak di wajahnya yang terdapat garis tua—keriput menurutku. Aku memeluknya erat, membayangkan seolah-olah dia ibu.
"Kau baik-baik saja, Nona? Perlukah aku menelpon dokter pribadi untuk merawatmu?" kata Bibi Zoe. Aku menggelengkan kepala, tidak perlu di rawat.
"Aku akan pergi ke kantor setelah ini."
"Tapi... Bukankah Nona baru saja keluar dari rumah sakit? Apa sebaiknya tidak beristirahat lebih dulu?" Perkataan hangat bagaikan selimut itu membuatku tersenyum. Andai ibu yang berada di hadapanku saat ini, pasti aku akan menurutinya.
"Aku baik-baik saja, pekerjaan kantor semakin menumpuk." Langkah kaki membawaku ke kamar. Terlihat rapi dan wangi, bibi Zoe selalu membersihkannya walaupun tidak ditempati.
Aku mengambil ponsel yang beberapa hari ini tidak digunakan. Banyak panggilan dari Kenneth, Vava, Thian, dan juga paman tua. Mungkin mereka khawatir denganku yang tiba-tiba hilang disaat hari penuh duka.
Rasanya sangat nyaman bisa terbaring di kasur yang empuk. Ku pandangi langit-langit kamar yang putih polos. Terbesit rasa rindu di hati ketika mengingat anggota keluarga yang masih utuh. Oh Nathe, maafkan kakakmu ini yang tidak bisa menjaga ibu dengan baik.
Dering ponsel membuatku kembali tersadar. Ku lihat nama yang tertera di atas layar, pikiranku langsung tertuju pada kantor. Sebaiknya aku segera berangkat sekarang, tapi ponsel terus berdering.
"Ada apa?"
"Apa kau baik-baik saja? Paman kedua berkata kau tidak kembali bekerja." Suara Vava terdengar lirih, sepertinya dia berbicara diam-diam padaku.
"Jangan biarkan paman kedua pergi, aku akan segera ke sana." Apa yang dilakukan paman kedua kali ini, aku tidak bisa membiarkannya terus mengontrolku. Aku segera mengambil jas, menyampirkannya di bahu.
Ku percepat langkahku menuju garasi, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Sejak kemarin aku curiga kehadiran paman kedua di Paris, karena biasanya dia tinggal di New York. Pertama, paman kedua meracuni ibu; kedua, dia memimpin perusahaan; ketiga, aku harap tidak ada yang ketiga.
Tepat saat aku memasuki ruangan, terlihat paman kedua yang sedang duduk di kursiku. Paman kedua seperti sedang mencari sesuatu.
"Paman kedua, lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?" tanyaku berbasa-basi yang membuatnya terkejut.
"Oh, Sasa. Aku selalu sehat, bukankah kau dirawat di rumah sakit?" ujarnya tertawa palsu. Aku memicingkan mata menatapnya, tidak ada yang tahu aku di rawat kecuali Bibi Zoe.
"Bagaimana jika aku tidak di rawat? Paman tahu darimana aku di rawat?" kataku membuatnya terdiam, "apa kau tahu bahwa adikmu sudah tiada?"
"Aku tahu, maafkan aku yang tidak hadir di pemakaman. Saat itu aku berada di New York." Sebuah kebohongan terlontar dari mulutnya. Ingin rasanya aku melenyapkannya, seperti dia yang melenyapkan ibu.
"Kau pembunuh! Kau membunuh ibuku dengan racun! Apa kau tahu apa yang kau lakukan?!" teriakku tepat di hadapannya. Nafasku tidak beraturan, apalagi ketika melihat paman kedua yang hanya terkekeh. Dia pergi begitu saja, namun dia mengatakan sesuatu sebelum pergi.
Aku berdiri dengan menumpu kedua tangan di atas meja. Kepalaku terasa sakit, Ku lihat Vava datang menghampiriku, memberiku obat. Ponselku berdering, ternyata panggilan dari Kenneth. Aku mengabaikannya, hari ini aku tidak ingin berurusan dengannya.
"Kau tidak mengangkat telpon?" tanya Vava. Aku mematikan ponsel, melemparnya ke sofa begitu saja. Aku meminta Vava untuk membawakanku secangkir chocolate. Vava berdiri tepat di depan pintu, aku tidak tahu apa yang membuatnya terdiam. Namun, sepasang sepatu pria terlihat memasuki ruangan.
Mataku membulat melihat Kenneth yang berada di ruangan. Tidak bisakah makhluk ini berhenti mengusikku? Aku memalingkan wajah ketika tatapan Kenneth tertuju ke arahku.
"Apa kau tidak tahu cara mengangkat telpon?" tanyanya. Aku tidak menanggapinya, suasana hatiku saat ini sedang kacau. Kenneth mencengkram lembut daguku supaya menatap ke arahnya.
"Apa yang membuatmu menjadi bisu? Aku menyuruhmu untuk beristirahat di rumah, tapi kau malah pergi ke kantor dan mengabaikan telponku?" Ku singkirkan lengannya dari daguku, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan telpon.
"Bisakah kau tidak lagi menunjukkan tampangmu di hadapanku?! Bisakah kau tidak mengusikku?! Bisakah kau pergi dari ruangan ku sekarang?! Kau yang membuatku seperti ini!" seruku. Yang aku lihat dari ekspresi Kenneth adalah sebuah senyuman. Pria ini memang benar-benar gila.
"Kalaupun aku yang pergi, pasti kau akan datang mencariku. Entah itu untuk mengambil benda bulat yang berkilau, ataupun mengambil berkas kerjamu." Setelah mengatakan itu, Kenneth pergi dengan langkah santainya.
"Akh!" teriakku kesal. Ditambah lagi ponselku yang berdering, mengapa hari ini banyak sekali panggilan yang masuk?! Aku tidak mempedulikan itu, segera pergi dari ruangan.
"Sasa, bagaimana dengan chocolate ini?!" seru Vava.
Aku mengendarai mobil menuju tepi sungai La Siene. Di sini aku bisa menenangkan pikiran, angin yang berhembus menerpa wajahku saat keluar dari mobil.
Aku duduk di tepi sungai, memandangi kapal yang berlalu lalang. Aish! Aku tidak pernah sekacau ini, apalagi aku tidak membawa ponsel. Awalnya aku berniat menyelesaikan pekerjaanku, tapi seluruh berkas berada di Anderson Group.
Aku kembali ke dalam mobil, pergi ke Anderson untuk menyelesaikan pekerjaan. Baru saja menutup pintu, seseorang menodongkan pistol tepat di kepalaku.
"Cepat keluar, ikutlah bersamaku. Jika tidak, aku akan membunuhmu di sini." Aku keluar dari mobil seraya mengangkat kedua tangan. Lagi-lagi pria bertopeng, sebenarnya siapa yang mrngincarku? Semoga saja ini tidak ada hubungannya dengan Kenneth.
Aku menatap orang itu, menendang perutnya, mengambil alih pistol. Sebelum kembali menghajar, ku kosongkan selongsong peluru dalam pistol supaya lebih aman. Ku tarik tangan orang itu, menguncinya ke belakang punggung.
"Siapa kau?" tanyaku. Orang itu tidak menjawabnya, malah kembali menyerang ku. Baiklah ini keinginanmu untuk dilenyapkan. Aku cengkram lehernya, membenturkan tubuhnya ke mobil hingga tidak sadarkan diri.
Sebelum masuk ke mobil, ku ambil topeng yang menutupi wajah pria itu. Sebaiknya aku mencari tahu darimana orang ini berasal. Tapi siapa yang bisa membantuku? Terlintas nama Kenneth. Mungkin dia bisa membantuku, tidak peduli apa yang aku katakan saat di kantor, keadaan kini darurat.
Sudah beberapa minggu ini aku tidak berlatih menembak. Sepertinya aku akan meminta paman tua menuju padang rumput Alpine—tempatku berlatih menembak. Hujan turun secara tiba-tiba membuatku menghela nafas. Jangan heran jika hujan turun, karena biasanya sering terjadi hujan ketika musim semi. Berbeda dengan musim-musim yang lain.