
Mengingat Zean yang sangat menyukai es krim, aku menghentikan mobil tepat di depan minimarket. Membeli beberapa es krim dan makanan ringan untuk Zean sebagai tanda permintaan maaf karena tidak bisa berlama-lama dengannya kemarin. Bahkan yang biasanya ke kantor, Zean sudah jarang sekali menemuiku akhir-akhir ini.
Seusai membeli es krim, aku kembali ke mobil dan melihat setangkai mawar merah yang menempel pada kaca mobil. Kejadian ini sama persis dengan apa yang terjadi pada hari kemarin. Ku ambil secarik kertas yang menampakkan sederet kalimat.
'Jika terjadi masalah suatu saat, aku harap kau tidak memikirkannya.'
Lagi-lagi kalimat yang sulit dimengerti, seolah-olah orang inilah yang mengendalikan alur. Aku meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Ketika aku juga ingin membuang mawar itu bersamaan, pergerakanku terhenti saat mengingat setangkai mawar yang aku letakkan di kamar. Aku mengurungkan niat dan membawa mawar itu ke dalam mobil.
Tok tok tok
Aku melihat seorang gadis kecil dengan penampilan yang usang mengetuk kaca mobil sembari membawa tiga tangkai bunga mawar.
"Ada apa?" Aku berkata setelah menurunkan kaca mobil.
"Nona, ini untukmu. Jagalah baik-baik bunga mawar yang kau temukan." Gadis itu menyodorkan bunga padaku. Pandanganku beralih pada mawar yang aku letakkan pada dashboard.
"Siapa yang mengirim ini?" tanyaku.
"Seorang pria tampan yang mengenakan hoodie disana." Gadis itu menunjuk seorang pria yang berdiri membelakanginya dengan mengenakan hoodie hitam. Pria itu menutupi kepala dengan tudung hoodie dan tidak berbalik sama sekali.
"Terima kasih." Aku mengambil alih bunga itu dan meletakkannya bersama mawar tadi. Kebetulan aku akan mengarah ke jalan dimana pria itu berdiri, semoga saja bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Pria itu menundukkan kepala ketika aku melewatinya, seolah-olah dia mengetahui maksud dari tindakanku. Aku menoleh ke arah spion, tapi orang itu sudah membalikkan badannya pada gadis kecil tadi.
Pandanganku teralihkan saat mendengar ponsel yang berbunyi. Buru-buru aku mengangkatnya yang ternyata panggilan dari bibi Zoe.
"Nona! ada sepasang suami istri yang datang ke rumah dan bersikeras untuk menemuimu. Mereka terlihat sangat marah."
"Siapa mereka?" tanyaku.
"Aku tidak tahu, tapi mereka tampaknya tidak begitu asing."
"Aku akan kembali."
Terpaksa aku tidak pergi ke rumah Thian saat ini. Hal di rumah sepertinya sangat serius, lagipula siapa yang berani membuat keributan di rumahku yang memiliki banyak penjaga? Jika mereka orang asing, pastinya tidak memiliki nyali yang begitu besar.
Sebuah mobil hitam terparkir di depan gerbang. Orang ini sangat nekat karena menerobos masuk. Aku membunyikan klakson beberapa kali agar satpam membukakan gerbang. Segera aku masuk ke dalam rumah untuk melihat siapa yang berkunjung.
"Sasha, dimana kau menyembunyikan anakku!" Seorang wanita langsung berteriak tepat di depanku. Pantas saja orang ini berani menerobos masuk, sama seperti putranya yang tidak tahu sopan santun.
"Kami sudah menghubungi polisi, jika kau tidak menyerahkan Alvin, kau harus bisa bersiap-siap berbicara di pengadilan." Seorang pria paruhbaya terlihat sedang mengancamku.
"Anakmu? mengapa kalian bertanya padaku? tanyakan lebih dulu apa yang anak kalian lakukan padaku."
"Tidak peduli apa yang Alvin lakukan padamu, kau harus memberitahu dimana kau menyembunyikan Alvin!"
"Tuan dan Nyonya Pasternack. Sebaiknya kau melupakan putramu karena dia tidak akan pernah kembali lagi."
"Apa yang kau bicarakan?!"
Aku menoleh ke arah pintu yang memang benar, beberapa polisi tiba dan langsung memborgol tanganku. Aku menyeringai ke arah sepasang kekasih yang sepertinya sangat puas melihatku.
"Atas dasar apa kalian menuduhku?" tanyaku.
"Kau menyembunyikan Alvin, sudah dipastikan kau menculiknya," kata Nyonya Pasternack.
"Bawa dia, bila perlu penjarakan dia seumur hidup!" kata Tuan Pasternack.
"Nona Sasha, tindakanmu termasuk kriminal dan sebaiknya bicarakan di kantor polisi saja." Aku mengikuti langkah polisi yang masuk ke dalam mobil. Bibi Zoe tampak memandangi diriku dari kaca jendela. Beberapa penjaga juga terlihat terkejut saat aku masuk ke dalam mobil tanpa memberontak.
Tidak segampang itu polisi berhasil menangkapku. Walaupun identitas mafiaku tidak diketahui, ingatlah siapa kelompok orang yang sering membantu polisi menangkap penjahat The Demon.
Alvin's POV
Sudah tiga hari aku berada di penjara yang entah ada dimana. Ruangan yang begitu minim cahaya membuatku menebak bahwa ini adalah ruangan bawah tanah. Aku tidak menyangka bahwa Sasha benar-benar anggota mafia, terlebih lagi jabatan yang dipegang adalah bos.
Hal yang selama ini aku lakukan hanyalah diam disudut ruangan jeruji. Tidak hanya aku saja yang berada disini, tetapi banyak juga orang-orang yang lain. Aku pikir mereka lebih lama daripada aku. Sempat aku mendegar bahwa siapapun yang masuk ke dalam jeruji tidak akan bisa keluar lagi.
"Heh, wanita kejam itu tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi diluaran sana. Cepat atau lambat akan ada orang yang menyelamatkanku."
"Kau hanya bisa bermimpi, tidak akan ada orang yang bisa melewati penjagaan ketat disini."
"Aku sudah optimis, aku termasuk anggota mafia. Tuanku akan memberikan tugas untuk melenyapkan wanita itu. Hanya perlu menghitung hari."
Aku mendengar begitu jelas perkataan yang mereka katakan. Mengapa begitu mengerikan oran-orang disini? aku merindukan kedua orang tuaku. Aku belum sempat kembali ke rumah untuk bertemu dengan mereka, tapi justru malah terjebak dan entah sampai kapan bisa keluar.
"Hey, kau! kau terlihat sangat lemah. Apa yag sudah kau lakukan pada wanita kejam itu sehingga berada di tempat seperti ini? atau kau memiliki hubungan khusus dengan wanita itu? makananmu selalu mewah, bahkan ada beberapa style pakaian yang bisa kau gunakan."
Aku menoleh ke arah pria yang berada di jeruji depan. Pria itu menatapku dengan pandangan meremehkan sekaligus marah. Akupun merasa heran karena hanya aku seorang diri yang diperlakukan berbeda.
"Apa gunanya kau berbicara dengan dia. Dia terlihat masih muda, walaupun lebih muda wanita kejam itu. Tapi tetap saja kelukuan wanita itu tidak seperti anak muda," saut Pria yang ada di samping jerujinya.
Drap drap drap
Terdengar langkah kaki yang membuat kedua pria itu berhenti berbicara. Aku sempat berpikir mungkin ada lagi orang yang akan menjadi tahanan. Tapi pikiran itu mendadak sirna saat seorang pria membuka pintu jerujiku.
"Kau yang bernama Alvin?" tanyanya. Aku hanya mengangguk sebagai respon. Pria itu mencengkram daguku dan menatap dengan sorot mata yang tajam.
"Tidak peduli apa masalahmu, kau harus pergi ke kantor polisi sekarang juga. Jika tidak, nyawa kedua orang tuamu akan terancam!"
"A-apa yang harus aku lakukan?" ucapku terbata-bata.
"Terserah apa yang akan kau lakukan untuk membebaskan Sasha, yang jelas ada satu hal yang perlu kau ingat...jangan pernah membahas hal yang sudah terjadi kepada siapapun. Tak terkecuali orang tuamu dan Sasha!"
"Ini adalah cara satu-satunya agar kau bebas."
"Baik aku akan melakukannya dengan baik." Ini kesempatan aku untuk bertemu dengan Sasha dan kedua orang tuaku. Rasanya begitu bahagia mendapat perlakuan istimewa, aku beranggapan bahwa Sasha masih menyukaiku.