The Diamond

The Diamond
Sosok misterius



Aku mempersiapkan dokumen-dokumen yang akan aku bawa ke Amsterdam. Sean sudah berada di rumah pama tua, untungnya mereka dengan senang hati mau merawatnya sementara.


Mengenai masalah sabotase kemarin, aku tidak begitu mempermasalahkannya. Jika orang itu bertindak lebih jauh lagi, aku dengan ringan tangan menghancurkan kembali hidupnya.


"Vava, jam berapa jadwalku berangkat?" tanyaku.


"Satu jam lagi, kita harus segera berangkat." Aku segera memasukkan dokumen ke dalam map, menyerahkannya pada Vava. Selama aku tidak berada di perusahaan, manager Maggie yang akan menggantikanku. Vava harus ikut denganku karena dia sekretaris sekaligus asisten ku.


Dari yang aku dengar, Thian akan berencana melamar Vava. Awalnya aku pun mengira dia hanya bercanda, namun melihat raut wajahnya yang serius membuatku percaya. Lagipula aku mengetahui bagaimana sifat Vava dan juga Thian, tidak masalah bagiku.


"Apa kau yakin kita berada satu minggu di sana?" tanya Vava.


"Akan aku selesaikan dengan cepat jika itu memungkinkan. Ayo!"


Kami memasuki pesawat yang akan lepas landas. Aku berharap selama aku pergi tidak ada masalah apapun. Berulang kali aku mengucapkan kata maaf dalam hati untuk Kenneth karena tidak memberitahu bahwa aku tidak membawa Sean.


Jarak yang ditempuh dari paris menuju Amsterdam jika menaiki pesawat adalah sekitar 1 jam. Berbeda jika membawa kendaraan pribadi yang mungkin bisa memakan waktu 3 jam.


Sampai di Amsterdam, kami langsung memesan hotel. Baru saja memasuki kamar, ponselku berbunyi yang ternyata panggilan dari Kenneth.


"Bagaimana dengan Sean, apa kalian baik-baik saja?"


"Tentu."


"Jangan membohongiku, dimana Sean?"


Aku tercengang, bagaimana bisa Kenneth mengetahui itu? Kali ini aku tidak bisa memberikan alasan untuk berbohong. Jika Kenneth menanyakan keberadaan Sean, sudah dipastikan dia tahu bahwa Sean tidak bersamaku.


"Aku menitipkan Sean pada keluarga pamanku. Dia akan baik-baik saja."


"Heuh... lusa aku akan menjemputnya, harus bersamamu. Di rumahmu."


Kenneth langsung mematikan ponselnya tanpa mengizinkanku untuk bicara. Aku melempar ponsel begitu saja ke atas kasur. Aku memiliki komitmen setelah Sean bertemu dengan ibunya, aku akan menjauhi Kenneth.


Aku akan mengunjungi Vava di kamar sebelah. Tampaknya aku melihat seseorang yang sangat familiar. Liolyn! Apa yang dilakukan wanita ular itu di sini? Tunggu, pria di sampingnya seperti paman kedua. Apa itu benar-benar mereka? Aku mengintip dari pintu yang terbuka sedikit.


"Sasha?" Aku langsung menarik Vava masuk sembari memberi isyarat untuk diam. Vava mengikuti arah pandang Sasha.


"Bukankah itu paman kedua?" tanya Vava berbisik. Aku pikir itu benar-benar mereka. Tapi apa yang dilakukan paman kedua bersama Liolyn yang notabene sebagai ketua The Demon?


"Penglihatanku tidak mungkin salah," jawabku. Vava menyerahkan map biru yang berisi dokumen proyek yang akan dibangun. Vava langsung pergi setelah memberikan dokumen itu. Namun sebelum benar-benar pergi, aku memberi peringatan pada Vava untuk tetap waspada, jangan sampai paman kedua melihatnya ataupun melihatku.


Aku pernah berpikir bahwa tabiat paman kedua sama seperti Liolyn. Jika memang mereka memiliki hubungan, maka paman kedua sudah berkhianat pada organisasi. Hanya memprediksi tidak bisa menyimpulkan segalanya, aku harus memberitahu Thian.


"Hai, Sist. Makhluk kecilmu sangat pintar, tidak menyusahkanku."


"Apa? Bukankah kita dilarang keras berhubungan dengan The Demon? Bisa kau memberitahuku yang sebenarnya secara detail?"


"Aku melihat paman kedua bersama Liolyn memasuki kamar hotel yang sama. Aku bisa meyakinkanmu 100%."


"Sasha, kau terus saja menyuruhku ini dan itu, huhuhu, padahal umurku lebih tua darimu."


"Tidak perlu berhubungan denganmu lagi."


"Sista, teganya kau... baiklah sesuai perintahmu. Aku akan memberimu kabar secepatnya."


Aku menoleh ke luar jendela, dari balik gorden yang terlihat carang seperti ada seseorang yang bersembunyi. Aku berjalan perlahan mendekat dan tak lupa sebuah pistol yang aku bawa untuk berjaga-jaga. Ku buka tirai jendela yang ternyata tidak ada siapapun. Aku berani bertaruh bahwa aku benar-benar melihat bayangan seseorang.


Aku mengirim pesan pada Vava untuk waspada ketika berada di kamar. Siapa tahu itu adalah salah satu bodyguard Liolyn yang tidak sengaja melihatku.


"Aaaa!"


Baru saja aku selesai mengirim pesan, terdengar suara teriakan yang aku yakin berasal dari kamar Vava. Aku segera berlari menuju kamar di sebelahku, membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu.


"Vava?! Apa yang terjadi?" tanyaku. Aku melihat Vava yang menutup wajahnya sembari terduduk di lantai. Aku mendekatinya, mencoba untuk menenangkan. Vava yang melihatku langsung memeluk.


Hatiku benar-benar cemas, apa mungkin benar ada seseorang yang mengetahui keberadaan dirinya? Aku memapah Vava menuju kasur, memberinya segelas air. Vava memberitahuku bahwa ada seseorang yang masuk ke kamarnya melalui jendela. Setelah Vava berteriak, orang itu lekas pergi tanpa menyisakan jejak.


"Menurutmu, apa ada seseorang yang memperhatikan kita sedari tadi?" tanyaku.


"Entahlah, aku sempat melihat orang yang sedikit misterius ketika di lobby. Orang itu mengenakan hoodie hitam dan kepalanya tertutup tudung hoodie. Aku ingin memberitahumu, tapi aku pikir aku tidak mengenali orang itu."


Mendengar penjelasan yang Vava berikan membuatku langsung berpikir, musuh mengetahui keberadaanku di luar negeri. Mungkinkah ini ada sangkut pautnya dengan Liolyn? Aku mendekati jendela untuk melihat pemandangan diluar.


Rasanya aneh jika ada seseorang melarikan diri melalui jendela. Kamar hotel ini tidak memiliki balkon, pastinya orang yang bisa melarikan diri memiliki keahlian dalam memanjat tebing. Samar-samar aku mendengar suara orang terkekeh. Kamar ini berada di lantai paling atas, itu berarti orang yang terkekeh berada di atap.


Aku menajamkan pendengaran, memang benar bahwa ada orang di sini. Aku menyuruh Vava untuk tidur denganku saja. Ini lebih baik dan aman, aku tidak ingin membawa siapapun ke dalam masalah yang terjadi padaku. Apalagi Vava tidak mengetahui bahwa aku memiliki dunia yang hitam. 


"Sasha, apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanya Vava. Aku menoleh ke arahnya seraya menggelengkan kepala. Tidak ada yang ingin aku bicarakan dengannya. Aku hanya sedang berpikir untuk keluar dari dunia hitamku.


"Jika ada sesuatu yang aneh, segera hubungi aku."


Vava mengangguk tanda mengerti. Tempat ini sudah tidak aman lagi. Bagaimanapun juga, Vava adalah tanggung jawabku. Soal orang misterius ini, nantinya juga akan terbongkar.


Ngomong-ngomong mengenai kecelakaan ku kemarin, Kenneth memberitahuku bahwa Jessy lah yang menyuruh orang untuk mengikutiku. Ternyata dugaanku memang benar bahwa bukan paman kedua yang melakukan ini.


Hais, duniaku sudah rumit, ditambah lagi masalah yang bukan timbul dariku malah muncul di hadapanku. Oleh karena itu, aku tidak ingin mengganggu Kenneth, karena walaupun bukan aku yang mendekatinya tetap saja masalah akan menimpaku.