The Diamond

The Diamond
Pesta



Berada di dapur pagi-pagi sekali membuat diriku bersemangat untuk memasak. Walaupun disini ada beberapa pembantu, aku tetap ingin masak untuk ibuku. Para pembantu pun hanya membiarkanku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Setelah siap, aku langsung sarapan dan bergegas untuk pergi ke kantor.


"Bibi Zoe, aku akanĀ  pulang malam karena ada acara di luar. Tolong jaga ibu dengan baik, aku percaya padamu," kataku sebelum pergi.


"Tentu...nona," ucap bibi Zoe.


Aku mengendarai mobil Lexus Rx300 dengan kecepatan sedang. Pagi hari seperti ini, jalanan terasa ramai. Menghembuskan napas saat lampu merah. Aku melihat seorang wanita tua berjalan memegang tongkat. Aku merasa iba sehingga memutuskan untuk keluar menolongnya.


"Nenek, biarkan aku membantumu,"ujarku menuntun tangan wanita tua itu.


"Iyaiya terima kasih anak muda. Hatimu sungguh baik,"kata wanita tua itu dengan nada senang. Setelah menyebrang, aku kembali masuk ke dalam mobil. Kasihan sekali melihat wanita tua itu, seharusnya dengan keadannya yang seperti itu, dia hanya perlu berada di rumah saja.


Di kantor, aku langsung menyelesaikan pekerjaanku. Pintu ruangan terbuka menampakkan Vava yang membawa sebuah undangan. Aku menyuruh Vava untuk memberiku undangan pada acara itu. Untungnya para tamu undangan diharapkan memakai topeng kecuali 5 perusahaan.


Aku bersiap untuk acara rapat yang diadakan sebentar lagi. Untuk acara nanti malam, aku harus membawa pasangan. Tapi siapa yang akan aku bawa? Ponselku berdering, Thian menelponku. Aku mengangkat panggilan itu.


"Hohoho, hallo sepupuku? Bagaimana kabarmu?"


"Ada apa?"


" Aku sudah pulang, apa kau tidak mau menjemputku di bandara sekarang?"


"Aku ada rapat." Aku langsung memutuskan sambungan. Bagus, sepertinya aku bisa membawa Thian ke acara itu. Aku akan pergi rapat sekarang juga.


Aku tidak pernah berlama-lama diruang rapat, selalu menyampaikan informasi secara singkat. Vava menemuiku dan memberikan sebuah topeng yang sudah aku pesan. Dibalik topeng itu terdapat ukiran AF. Saat hari mulai petang, aku langsung bersiap-siap. Begitupun dengan Vava, aku sudah menyuruh Thian untuk menjemputku di kantor.


Vava sudah berangkat lebih dulu, aku menunggu Thian di lobby. Beberapa orang menatapku dengan pandangan kagum. Evening dress yang aku pakai membuat diriku tampak elegan, ditambah lagi sebuah topeng yang aku kenakan.


Aku langsung menuju dimana Thian menunggu. Tunggu dulu, Thian menggunakan mobil Buggati veyron milikku? Pria ini memang pandai membuatku kesal. Aku langsung masuk ke dalam mobil, menatap datar ke arah Thian yang hanya tertawa.


"Kau tahu resiko membawa Aventador milikku?"tanya Thian. Oke aku mengaku jika resiko membawa Aventador milik Thian sangat besar. Tapi, mengapa harus veyron milikku? Baiklah sepertinya ini cara terbaik karena aku jarang memakai mobil ini.


Sebelum masuk, aku menunjukkan undangan. Thian menggandeng tanganku memasuki hotel Caruso. Ternyata sudah banyak orang yang datang, aku kira acaranya tidak begitu ramai. Hampir saja ruangan penuh dengan orang-orang.


"Sasha, kau ingin membunuhku disini?"ujar Thian yang sepertinya merasa tidak nyaman sepertiku. Aku hanya menatapnya tanpa berkata, langsung kutarik tangan miliknya menuju tempat yang longgar.


Aku memasang earphone untuk mengetahui perbincangan yang dilakukan 5 perusahaan itu. Sepertinya aku tidak perlu hadir karena tidak ada masalah yang dibahas tapi perkataan seseorang disana membuatku merasa terkejut.


"Beliau tidak bisa hadir karena harus pergi ke luar negeri." Itu jawaban yang diberikan Vava. Orang-orang disana asik mengobrol membicarakan proyek yang akan di bangun.


Aku pergi begitu saja meninggalkan Thian yang memanggilku. Aku hanya ingin ke toilet, aku merasa ada seseorang yang berjalan dibelakangku. Aku menoleh, tidak ada siapapun. Aku kembali berjalan, keluar dari toilet aku tidak sengaja menabrak bahu seseorang.


"Hei nona! Kau terlihat menawan,"ujar seorang pria yang sama menggunakan topeng.


"Maaf!"ujarku lalu pergi begitu saja tanpa mempedulikan orang itu. Pemikiranku tepat, orang itu akan menggodaku. Saat tangan itu mulai menyentuhku,aku langsung mencengkram tangannya dan mendorongnya ke dinding hingga meringis.


Aku merasa ada orang yang mendekat,mengambil langkah adalah hal yang harus aku lakukan. Niatku adalah melarikan diri,tapi nyatanya malah menabrak seseorang dan jatuh ke pelukannya. Aku membulatkan mata dan langsung meminta maaf. Lebih terkejutnya saat melihat siapa orang itu,Kenneth Anderson. Siapa yang tidak mengetahui seorang Kenneth?Pemilik perusahaan Anderson yang menempati posisi pertama dan juga ketua dari The Devil yang merupakan organisasi Mafia terbesar. Aku tidak ingin berurusan dengan orang sepertinya jika tidak ingin mendapat masalah. Sepertinya dia memanggilku, aku tidak tahu maksud orang itu sehingga aku berpura-pura tidak mendengarnya.


Sekembalinya aku dari toilet, Thian terus saja memakiku. Aku tidak peduli dengan itu, langsung saja ku tarik tangannya untuk segera pulang.


Thian tidak langsung kembali ke rumah setelah mengantarku pulang, dia ingin menemaniku untuk beberapa waktu. Aku merasa ada sesuatu yang aneh, tapi tidak aku hiraukan. Sekarang aku akan menengok ibuku dikamar. Bibi Zoe sudah kembali ke kamarnya saat aku menengok ibuku.


Aku kira ibu sudah tertidur pulas sehingga tidak menyadari kehadiranku. Tapi nyatanya, dia langsung terbangun dan menghindari ku.


"Apa yang kau lakukan disini?! Cepat pergi dari sini! Aku tidak ingin melihat wajahmu!" kata ibuku berseru.


"Bu, ini aku Sasha. Anakmu" ujarku. Tapi, ibu terus menyangkalnya. Bahkan Bibi Zoe langsung masuk ke kamar ibu dan menenangkan ibu. Aku langsung keluar kamar sembari menutup pintu. Badanku terasa luruh sembari menangis.


Thian yang mendengar suara ibu langsung keluar dan melihatku yang terduduk di depan pintu kamar ibu sembari menangis. Thian mendekap tubuhku, membawanya menuju kamar. Thian tahu apa yang terjadi denganku sejak dulu. Thian lah yang selalu melindungiku sejak kecil.


"Tenanglah, aku mengerti perasaanmu. Masih ada orang yang menyayangimu. Aku akan menunggumu sampai tertidur." Kata Thian menyelimutiku. Aku hanya mengangguk, memejamkan mataku yang kini terlihat suasana yang gelap. Terdengar suara pintu tertutup yang berarti Thian sudah kembali ke kamarnya.


Ponselku berdering, untuk apa Vava menelpon ku malam-malam? Biasanya jika ingin membicarakan soal proyek, dia akan mengatakannya saat di kantor. Daripada menimbulkan pertanyaan, aku langsung mengangkat panggilan itu.


"Hallo, Sasha! Apa kau mengungkap identitasmu pada Kenneth? Atau dia sudah mengetahui dirimu?"


Perkataan Vava membuatku terkejut, aku tidak memberitahu identitas ku pada siapapun. Vava mengatakan bahwa Kenneth mengetahuiku? Darimana dia mengetahui?


"Apa yang terjadi?" Tanyaku penasaran.


"Saat aku akan pulang, Kenneth memanggilku dan bertanya tentang keberadaanmu. Aku tidak tahu bahwa Kenneth akan bertanya soal dirimu yang hadir di pesta. Aku tidak menjawabnya dan langsung pergi begitu saja. Jika aku tidak langsung pergi, dia pasti akan menyuruh orangnya untuk mengikutiku." Jelas Vava


Aku menyuruh Vava untuk tetap tutup mulut. Aku akan mencari tahunya besok, sekarang aku harus beristirahat.