The Diamond

The Diamond
Rasa rindu



Hujan reda sejak beberapa jam yang lalu, suhu terasa menurun. Ku kenakan jaket sebelum keluar dari kantor. Seperti yang aku katakan sebelumnya, malam ini aku akan pergi ke rumah Thian.


Sang surya perlahan tenggelam, menandakan hari mulai petang. Lampu jalanan menyala memberi cahaya. Segera kupacu mobil menuju perumahan St. Germain.


"Sasha!" seru Zean ketika aku masuk ke rumah. Zean memeluk kakiku karena tubuhnya masih pendek. Aku menggendong Zean, membawanya menemui Thian. Aku menyapa paman dan bibi saat melihat mereka berada di meja makan.


"Jangan lupa untuk makan malam setelah menemui Thian!" seru Bibi Tua. Aku mengangguk, menaiki tangga menuju kamar Thian.


Zean membuka pintu kamar Thian, terlihat ruangan yang masih gelap. Zean mengeratkan pelukannya pada leherku, Thian ini makhluk apa sebenarnya. Sudah malam, tapi ruangan tetap gelap. Ku tekan saklar lampu di samping pintu, kini ruangan kamar Thian terlihat berantakan.


"Thian? Kau ada di dalam, kan?" tanyaku. Ruangan sangat sepi, aku tidak melihat Thian di dalam. Namun, sepertinya Thian berada di balik selimut. Ku sibakkan selimut yang berada di atas kasur. Aku terkejut melihat Thian yang sedang tertidur.


"Apa yang kau lakukan?" gumam Thian menarik kembali selimutnya. Aku menurunkan Zean, menarik kembali selimut yang menutupi Thian.


"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan? Ini sudah malam, apa kau berubah menjadi hewan nokturnal?" Thian mendudukan tubuhnya dengan mata sedikit terpejam. Zean menarik tanganku untuk segera turun. Aku menyuruh Thian untuk mandi lebih dulu sebelum makan malam.


"Sasha, aku tahu apa yang terjadi padamu kemarin. Mengapa kau bisa sampai dirawat?" tanya Paman Tua. Aku tahu, tidaklah mudah untuk berbohong pada paman Tua. Mengingat dulu paman merupakan mantan ketua The Angel.


"Kondisiku drop, lalu Kenneth membawaku ke rumah sakit," jawabku. Aku melihat Thian yang baru saja menuruni tangga. Thian langsung mengambil posisi duduk di depanku.


"Itulah mengapa Sasha jarang menemui kita, dia sudah memiliki sandaran." Aku menendang kaki Thian, beraninya dia berkata begitu di hadapan paman tua.


"Paman, aku ingin kembali berlatih menembak. Apa kau mau mengajariku besok?" tanyaku. Sudah lama aku tidak berlatih menembak, semenjak aku berurusan dengan Kenneth. Paman mengangguk, memberitahu tempat yang akan digunakan.


Setelah makan malam, aku berpamitan pulang karena aku tidak mau membuat penghuni rumah khawatir. Ponselku bergetar, sebuah pesan dari Kenneth terpampang dilayar.



Aku tidak membalas pesan Kenneth, sudah seharian ini aku tidak bertemu dengan Sean. Tapi, besok aku sudah memiliki urusan lain. Aku membenturkan kepala pada stir mobil. Hidupku sangat kacau, benar-benar kacau.


"Nona?! Selamat datang," sambut Bibi Zoe ketika sampai di rumah. Aku mengangguk sekilas, menaiki tangga menuju kamar ibu. Aku sangat merindukannya, sudah beberapa minggu ini juga aku tidak menjenguk ayah.


'Ayah ...  Maafkan aku, bukannya aku tidak peduli denganmu, hanya saja banyak sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Aku berjanji akan pergi menemuimu setelah dua hari ke depan,' batinku menatap foto keluarga. Aku duduk di lantai yang dingin, bersandar di belakang sofa sembari mendekap figura.


Flashback on


Cuaca cerah di pantai membuatku semakin bersemangat membangun kastil dari pasir putih. Di depanku ada Nathe yang membuat benteng. Ayah berselancar, sedangkan ibu berjemur.


Mataku menatap sebuah kerang yang berada tak jauh dari tempatku. Untuk memperindah kastil, aku mengambilnya. Namun, saat aku kembali, kastilku sudah hancur. Siapa lagi monster penghancur nya kalau bukan Nathe? Karena kesal, aku menginjak benteng buatan Nathe.


"Kau! Kau yang menghancurkan lebih dulu kastil milikku!" Aku terus berkelahi dengan Nathe sampai ibu yang merasa terganggu langsung menghampiri kami.


"Ada apa? Mengapa kalian bertengkar lagi?" tanya ibu memegang bahu kami. Aku cemberut, melipat tangan di dada sembari memalingkan wajah. Nathe mengadu pada ibu bahwa aku yang menghancurkan benteng miliknya.


"Tidak! Bukan aku, Nathe dulu yang menghancurkan kastil milikku."


"Dengar, apa kalian akan terus berkelahi seperti ini? Sampai kapan kalian bisa akur? Lihat air laut yang bergerak. Sesuatu yang kalian lakukan pasti akan kembali pada diri masing-masing. Jika Nathe menghancurkan kastil Sasha, benteng yang Nathe buat pasti akan dihancurkan oleh Sasha."


"Lalu apa maksud ibu?" tanya Nathe.


"Mengapa kalian tidak membangun istana atau kastil bersama? Suatu saat tempat itu yang akan menjadi pertemuan untuk kalian." Aku tahu apa yang di maksud ibu. Hanya saja, aku tidak ingin terlalu cepat untuk berpisah. 


***


Hari ini adalah hari ulang tahunku. Ibu mempersiapkan seluruh pesta untuk perayaan. Ayah berada di luar kota, aku tidak memaksanya untuk hadir di acara. Aku hanya ingin sebuah hadiah dan ucapan darinya.


Banyak sekali teman-temanku yang sudah hadir, ibu menyuruhku untuk menyambut para tamu. Seorang anak laki-laki mendekatiku dengan sebuah bingkisan di tangannya. Dia menyerahkan bingkisan itu seraya mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Aku sempat bingung karena tidak mengenal pria ini.


"Alexa! Selamat ulang tahun, semoga panjang umur. Aku bawakan sekotak hadiah untukmu," ujar anak laki-laki lain. Aku menerimanya, tak lupa berterima kasih. Alvin—orang yang aku sukai. Alvin menarik tanganku menghampiri teman yang lain. Aku menengok ke arah lelaki yang kini hanya diam menatapku jauh di belakang, lelaki itu tersenyum. Entah karena apa, aku tidak tega meninggalkannya sendirian.


Setelah acara tiup lilin, terdengar bunyi sirine ambulans. Orang-orang berbaju putih masuk ke rumah sembari membawa sesuatu yang tertutup dengan kain putih.


Ibu mendekati orang-orang itu sembari menangis, aku tidak tahu apapun yang terjadi. Seluruh anak-anak langsung dibawa ke ruangan entah karena apa. Kecuali aku yang berdiri di samping ibuku, sedangkan Nathe ikut bersama anak-anak yang lain.


"Ibu, apa yang terjadi?" tanyaku menarik bajunya.


"Kau pembunuh! Kau membuat suamiku mati, gara-gara kau suamiku terbunuh!" Aku mundur beberapa langkah mendengar teriakan ibu yang membuatku takut.


Aku menutup mulutku ketika melihat wajah seseorang yang tertutup kain. Mata ayah terpejam rapat, aku tidak menyangka ayah akan pergi secepat ini. Thian yang keluar dari ruangan langsung menarik tanganku menuju halaman belakang. Di sana aku menangis histeris, tidak tahu akan terjadi hal seperti ini.


"Aku pembunuh? Aku sudah membuat ayah mati? Apakah itu benar, Thian?" tanyaku di sela-sela tangisan.


"Kau bukan pembunuh, Tuhanlah yang sudah membawa ayahmu ke tempat yang paling indah." Thian memelukku, mengusap punggungku dengan lembut.


Flashback off


Aku mengusap kasar air mata, meletakkan kembali figura itu.