
Aku melajukan mobil ke rumah Jessy untuk memberi peringatan. Seorang satpam yang melihat mobilku langsung membuka pintu gerbang.
"Selamat siang Tuan Kenneth," ucap seorang maid.
"Dimana Jessy?" tanyaku to the point. Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Beruntung aku tidak perlu mencarinya lebih jauh. Jessy mendekatiku dengan wajah yang berseri. Cih! Aku benci ekspresi itu.
"Ken, kau mencariku karena ingin bertemu denganku, kan?" ucapnya sembari memegang lenganku. Aku mencengkram pergelangan tangannya hingga dia meringis kesakitan.
"Dengarkan aku, sampai kapanpun aku tidak akan pernah tertarik dengan orang sepertimu!"
"Ta—tapi aku ini tunanganmu! Bagaimana bisa kau bersikap seperti ini padaku?!"
"Aku tidak pernah menyetujui tanggapan itu. Aku mengancam mu kali ini, jangan pernah kau mencelakai Sasha atau aku akan membalasnya berkali-kali lipat!" Aku menghempaskan tangannya begitu saja dan pergi meninggalkannya.
"Ken! Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi milikku!" serunya.
Author's POV
Aku menyadari tindakanku yang menunjukkan rasa suka padanya. Apa aku benar-benar menyukainya? Mungkin aku menyukainya, tapi belum tentu mencintainya. Aku tidak boleh mencintainya karena itu bisa menjadi senjata yang membuatku hancur.
Pertama, Kenneth sudah memiliki tunangan. Kedua, dia ketua organisasi mafia. Ketiga, dia sudah memiliki kalung tanda anggota The Demon. Jika aku mendekatinya, sama saja dengan aku yang bersekutu dengan The Demon.
Aku beranjak keluar dari ruangan, seorang pria duduk di depan ruangan. Sepertinya Kenneth yang menyuruh orang ini untuk menungguku.
"Sasha? Kau mau pergi kemana?!" seru Hayden. Aku tidak menjawabnya, melainkan bergegas untuk keluar dari rumah sakit. Besok adalah keberangkatan ku ke Amsterdam. Aku menghentikan langkah, menatap Hayden yang ikut mengejarku.
"Antarkan aku ke Felison Group!" Aku menarik tangan Hayden sampai di tempat parkiran. Hayden yang tidak sempat mengelak hanya bisa mengikuti perintahku.
Aku sudah mengirim pesan pada Kenneth bahwa aku tidak bisa menjaga Sean mulai besok. Kenneth pun tidak memaksaku, aku pikir dia akan terus menyuruhku.
"Apa kau tidak bertanya mengapa Ken tidak menjagamu?" tanya Hayden. Aku hanya melirik nya sekilas, aku tidak peduli apapun yang Kenneth lakukan. Hayden tidak mengatakan apapun setelah melihat tatapan tajam dariku.
"Terima kasih...," gumamku. Hayden tampak bergumam yang sepertinya mengumpatku. Biarkan saja, aku tidak pernah mempermasalahkan orang yang membicarakanku di belakang.
Para karyawan langsung menyambutku ketika sampai di dalam. Vava menghampiriku, membisikan sesuatu di telinga kananku. Mendengar apa yang Vava katakan membuatku segera bergegas menuju ruangan.
Seseorang yang duduk di kursi kerja membelakangiku, biarpun aku tidak melihat wajahnya, aku tau orang itu dari Vava.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku. Orang itu berbalik sembari mengangkat sebelah alisnya. Dia berjalan mendekatiku.
"Aku menyuruhmu untuk tetap di rumah sakit menungguku, tapi kau malah kabur ke kantor bersama Hayden."
"Darimana kau tahu?" tanyaku. Padahal aku tidak memberitahu Kenneth ataupun Hayden yang memberitahunya. Atau jangan-jangan ada seseorang yang selalu mengawasiku? Aku memicingkan mata ke arah Kenneth.
"Seperti perkataanku kemarin, hari ini dan besok aku tidak bisa menjaga Sean. Aku ingin kau menjaga selama dua hari kedepan." Kenneth menunjuk Sean yang sedang duduk di atas sofa dengan sebuah mainannya. Aku bahkan tidak melihat Sean berada di sana.
"Aku tidak bisa, besok aku ada urusan bisnis."
"Kau bisa membawa Sean."
"Tidak bisa, aku akan kembali ke rumah. Orang tuaku pasti tidak akan menerima Sean." Aku berjalan mendekati Sean, berjongkok sembari memegang tangannya. Aku sendiri tidak bisa membawanya keluar. Itu sangat berbahaya mengingat The Demon sedang mengincar ku.
"Mungkin aku akan meminta keluarga paman tua untuk merawatnya...," gumamku. Aku menggendong Sean, menatap Kenneth sembari mengangguk.
"Aku akan menjaganya. Kau pergilah," kataku. Kenneth menatap jam di pergelangan tangannya. Kenneth memelukku sebelum benar-benar pergi. Dalam hati aku terus meyakinkan diri untuk tidak memiliki perasaan pada Kenneth.
"Setelah dua hari, aku akan membawa Sean kembali." Aku hanya diam tanpa mau merespon. Aku pergi dalam waktu satu minggu, jika aku menitipkan nya pada paman tua, apakah Kenneth akan marah? Huh! Biarlah, kita memiliki urusan masing-masing.
"Direktur, apa ada yang diperlukan untuk keberangkatan besok?" tanya Vava membuatku terkejut. Aku menoleh seraya menggelengkan kepala, Vava melihat ke arah keningku yang masih di balut perban.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Vava.
"Yeah, kecelakaan kecil." Aku meminta Thian untuk menjemputku di kantor. Vava menatap Sean yang tenang dalam dekapan ku.
"Apa kau benar-benar memiliki anak dengan Ken?" Aku menoleh terkejut ke arah Vava.
"Tidak–ti–dak, mana mungkin aku memiliki anak dengannya. Aku tidak pernah menyukainya!" bantahku.
"Oh ayolah, siapapun tahu dari gelagat kalian bahwa kalian saling mencintai. Aku bisa menjamin, kau bisa bersama dengan Ken."
"Dengarkan aku, sampai kapanpun aku tidak bisa bersama dengan Ken. Dia sudah memiliki tunangan, aku harap kau mengerti itu." Aku segera pergi setelah mendapat pesan dari Thian bahwa dia sudah berada di lobby. Aku yakin 100% Thian masuk hanya untuk bertemu dengan Vava.
"Hey! Asisten cantik, bagaimana kabarmu?" tanya Thian pada Vava yang berjalan di sampingku. Aku melihat pipi Vava yang bersemu. Kalau ini aku sudah bisa memastikan dua insan yang saling mencintai. Andaikan hidupku tidak rumit, mungkin dengan mudahnya bisa menggapainya orang yang aku inginkan.
"Ada apa dengamu?" tanya Thian yang akan menyentuh keningku, namun dengan cepat aku menepis tangannya.
"Ayo pulang ke rumah!" kataku. Thian yang baru saja bertemu dengan Vava lantas memanyunkan bibirnya.
"Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan denganmu." Thian mengangguk lemah. Sebelum pergi, Thian mencubit kedua pipi Vava dan berlari lebih dulu di depanku. Sungguh seperti anak kecil, tidak pernah terbayangkan olehku jika Thian sudah menikah nanti.
"Eh tunggu! Siapa makhluk kecil ini?" tanya Thian ketika di dalam mobil.
"Ini Sean —"" Oh makhluk kecil yang menggemaskan!" Thian mencubit kedua pipi Sean yang membuatnya menangis. Aku langsung memukul kepalanya karena tidak berpikir bahwa Sean adalah bayi, bukan boneka.
"Kau ini mengapa sangat galak padaku? Aku hanya ingin menyentuhnya."
"Besok aku harus pergi ke Amsterdam, begitupun dengan Ken yang pulang ke rumahnya. Aku ingin menitipkan Sean selama dua hari kedepan padamu."
"Apa?! Rumahku bukan tempat penitipan anak!"
"Mungkin akan menjadi yang pertama." Thian mendengus, biarpun begitu aku tahu keluarga paman tua tidak keberatan.
"Aku serius bertanya padamu, apa yang terjadi?" tanya Thian. Aku menceritakan tragedi yang membuatku tegang. Thian berpikir bahwa itu adalah ide paman kedua, tapi menurutku itu tidak mungkin. Paman kedua masih membutuhkanku untuk warisan keluarga Felister.
__________________________________
Cuma bisa Up satu episode ajah karena aku bener-bener nggak nyimpen part lebih, jadi part selanjutnya masih tahap tulis. Mohon dukungannya🙏minggu depan jika part yang aku buat udah banyak, mungkin bisa untuk crazy-up.