
Aku mendapatkan panggilan dari Vava untuk segera pergi ke kantor karena paman kedua kembali berulah. Baru saja kemarin melihat paman kedua berada di Amsterdam, sekarang sudah berulah lagi di dalam kantor.
Aku langsung menyerahkan Sean pada babysitter dan pergi begitu saja. Beberapa pengawal menghadangku supaya tidak pergi dari wilayah Kenneth.
"Nona tolong dengarkan kami."
"Mendengarkan kalian? Siapa yang bisa memerintahku? Cepat buka gerbangnya atau aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri?"
Saat penjaga itu akan mendekatiku, mereka sudah jatuh terjerembab karena pukulanku. Aku ingin menghabisi mereka, tapi rasa iba menyelimuti hatiku. Biarpun begitu, mereka hanya menjalankan tugas yang diberikan Kenneth.
"Sudah kukatakan, aku hanya pergi sebentar. Jadi kalian tidak perlu memberitahu Kenneth kemana aku pergi!"
Aku segera berjalan keluar dari Villa menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempatku. Langsung aku memasuki mobil dan melihat Maggie yang dengan cepat memacu mobil menuju kantor.
Suara ponselku terdengar nyaring di telinga. Tertera nama Nathe di layar. Segera aku mengangkatnya untuk memberitahu suasana genting yang terjadi dan menyuruhnya untuk tidak menelponku lebih dulu.
Untungnya Nathe termasuk tipikal orang yang penurut. Dia langsung mematikan ponselnya tanpa bertanya masalah yang terjadi.
Aku segera turun dari mobil dan berjalan cepat ke dalam kantor, mengabaikan rasa sakit pada bagian perutku. Jika aku bertingkah beda, mereka pasti akan menyadarinya.
Aku mendengar suara paman kedua dalam ruangan rapat. Dia berkata bahwa aku akan mengundurkan diri dari posisi direktur karena seorang wanita, sehingga dialah yang lebih pantas memimpin perusahaan.
"Gender tidak digunakan sebagai pemilihan, siapa yang memiliki kemampuan, maka orang itu pasti layak."
Aku langsung membuka pintu, menghentikan perkataan paman kedua selanjutnya yang akan meminta para dewan untuk mengubah pemimpin.
"Sasha, bukankah kau tidak sehat? Mengapa bisa kemari?" ujar paman kedua.
"Aku sangat sehat, aku pikir ada sesuatu yang paman pikirkan." Aku menyilangkan tangan, menatap orang-orang yang berada di ruangan.
"Perkembangan perusahaan yang meningkat, pasti karena ada pemimpin yang mampu. Bertahun-tahun aku berada di sini, belum ada penurunan posisi Felison Group, bahkan bisa menempati urutan kedua."
Aku lihat para dewan mulai berisik-bisik tentang pendapatku. Aku yakin mereka tidak pernah melihat paman kedua memimpin perusahaan, karena perusahaan ini adalah milik ayahku, yaitu warisan dari kakek.
"Sasha, sesuatu akan terjadi di masa mendatang... aku harap kau tidak akan menyesalinya.... " Paman kedua berbisik padaku lalu pergi begitu saja meninggalkan ruang rapat.
Aku mengepalkan kedua tangan ketika Paman kedua melewati ku. Aku menatap para dewan yang ada di ruangan itu sebelum keluar. Vava menghampiriku sebelum memasuki lift.
"Bagaimana dengan acara di Amsterdam?" tanya Vava.
"Besok kita akan berangkat. Bawakan dokumen-dokumen yang perlu aku tanda tangani hari ini."
Vava mengangguk dan langsung pergi ke ruangannya untuk mengambil dokumen. Aku segera masuk ke dalam lift yang menuju lantai atas. Baru saja duduk di kursi, seseorang masuk ke ruangan. Aku mendongakkan kepala untuk melihat Va-Hayden? Aku kira yang datang adalah Vava.
"Sasha, ada sebuah informasi untukmu dari tuan Kenneth. Dia memintaku untuk membawamu kembali ke villa sekarang juga."
"Apa kau tidak tahu siapa dirimu? Beraninya kau memerintahku?"
"Oh ayolah, Kenneth adalah kawanku. Dan kau adalah kekasih Kenneth, sudah dipastikan bahwa aku adalah kawan dari kekasih Ken."
Vava mengundurkan diri karena ada pekerjaan yang harus dia lakukan. Hayden memainkan ponselnya tanpa berbicara sepatah katapun. Suara ponsel Hayden yang tengah bermain game membuatku kesal karena tidak bisa berkonsentrasi.
"Matikan ponselmu." Hayden tidak mendengar apa yang aku katakan. Sekali lagi aku memanggilnya dan tetap tidak merespon.
"Hayden sialan! Apa kau tidak mendengarkanku?! Matikan ponselmu karena menggangu konsentrasi ku!" Aku melemparkan pena dan mengenai kepala Hayden yang kini mendongakkan kepalanya ke arahku.
"Kau berbicara denganku?" tanyanya seperti orang polos. Aku mengarahkan jari telunjuk ke arah pintu, memberi isyarat pada Hayden untuk keluar.
"Tidak bisa, aku harus kembali bersamamu. Jika tidak, Ken akan mengurangi gajiku."
"Gajimu ya gajimu, apa urusannya denganku? Cepat pergi dari sini!"
Hayden beranjak mendekatiku untuk menyerahkan pena yang sempat aku lempar dan setelah itu dia kembali duduk di sofa memainkan ponselnya. Aku menelpon bagian keamanan untuk membawa Hayden keluar. Tak lama setelah itu, yang dipanggil langsung tiba di ruangan dan menyeret Hayden yang diam saja ketika di tarik.
"Aku akan segera kembali," kata Hayden.
Tidak kembali pun tidak ada urusannya denganku, dasar bodoh. Aku kembali fokus pada dokumen untuk melakukan tanda tangan. Ponselku berdering, ternyata kepala proyek Amsterdam yang menelpon.
"Ada apa?" tanyaku
"Acara pemotongan pita akan dimulai besok pada pukul 11 siang, saya harap Nona bisa datang."
"Aku pasti akan datang."
Suara pintu terbuka menyita perhatianku. Aku menutup kedua wajah karena lelah dengan Hayden yang kini sudah kembali lagi duduk di sofa. Karena tidak ingin ribut dengannya dan masalah kantor tidak terganggu, aku segera menariknya keluar untuk pergi.
"Direktur, sebentar lagi konferensi pers akan diadakan di ruang rapat." Maggie menghampirimu dan Hayden yang berdiri tegap menatap kami.
"Aku akan menyuruh Vava untuk menggantikanku. Ada masalah penting yang harus aku tangani." Maggie mengangguk dan langsung mengundurkan diri. Aku berjalan mendahului Hayden yang merasa senang karena aku tidak bisa membuatnya kesal.
"Ken sangat suka dengan wanita penurut," kata Hayden yang tidak aku respon, "dan pendiam."
Aku segera masuk ke mobil dan duduk dengan tenang. Hayden melajukan mobilnya ke arah villa. Di tengah-tengah perjalanan, aku melihat dia orang wanita yang sangat familiar.
Liolyn dan Jessy? Mengapa mereka berdua berada di tepi jalan? Sebelum benar-benar melewati kedua orang itu, aku menyuruh Hayden untuk berhenti.
"Ada apa?" tanya Hayden.
Aku tidak menjawab petanyaan Hayden, dan berfokus pada Jessy yang meninggalkan tempat lebih dulu dan masuk ke dalam mobil.
"Bukankah itu Jessy?" tanya Hayden yang sepertinya menyadari keberadaan Jessy. Aku menyuruh Hayden untuk mengikuti kemana perginya Jessy. Ternyata ke arah rumah sakit. Melihat mobil yang dikendarai Jessy berhenti, Hayden ikut menghentikan mobilnya dengan jarak yang cukup jauh.
"Apa Ken berada di sini juga?" tanyaku.
"Yeah, tempat uncle dirawat. Aku tidak tahu apa yang Jessy lakukan dengan wanita tadi. Kau mengenali wanita yang bersama Jessy?"
Aku menggelengkan kepala karena tidak ingin Hayden mengetahui bahwa aku sangat mengenal Liolyn. Ingin rasanya turun dan menginterogasi Jessy, tapi sayangnya ada Hayden yang hari ini terus mengawasiku.