The Diamond

The Diamond
Penyerangan pertama



Paginya, aku bersiap untuk berangkat menuju Distrik Jordaan—salah satu distrik yang terkenal di Amsterdam. Di sana aku akan mengecek pembangunan hotel yang sudah di rencanakan sejak beberapa tahun lalu.


Aku menunggu Vava yang sedang mengambil salah satu dokumen yang tertinggal di kamar. Di lobby ini tidak sedikit orang-orang yang berlalu lalang. Salah satu orang yang berada di pojok dengan mengenakan hoodie hitam sama seperti yang Vava ceritakan itu membuatku menatapnya lekat-lekat.


Orang itu berjalan memasuki lift, aku segera memasang handsfree untuk menghubungi Vava. Lama tak ada jawaban, aku menghubunginya kembali.


"Hallo, ada apa? Aku akan segera ke sana."


"Apa kau sudah di dalam lift?"


"Aku baru akan masuk—Hai nona?"


"Vava siapa orang yang ada di sana? Katakan sesuatu."


Aku tidak mendengar suara Vava, malah panggilan terputus begitu saja. Aku yang cemas segera masuk ke dalam lift menuju lantai atas. Baru saja keluar dari lift, aku menemukan dokumen yang seharusnya dibawa Vava tergeletak begitu saja di lantai.


Aku berusaha untuk menghubungi Vava, samar-samar aku mendengar suara orang yang  Vava yang sepertinya berada di kamarnya. Aku membuka pintu dan melihat Vava berada di dekat jendela yang terbuka. Posisi mulut yang di bekap dan semakin lama semakin dekat dengan jendela membuat pikiranku tidak bisa berpikir jernih.


"Siapa kau?!" tanyaku.


Orang yang mengenakan hoodie hitam itu menyeringai. Vava memberikan isyarat padaku supaya tidak mendekat. Tapi, jika aku tidak menyelamatkan Vava, orang itu akan dengan mudahnya melakukan apapun terhadap Vava.


"Alexandra, sejak kemarin aku mengikutimu dan kau begitu waspada terhadapku. Sekarang kau tidak bisa menyelamatkan orang-orang di sekitarmu."


"Apa kau salah satu kaki tangan Liolyn? Aku lihat dia bersama pamanku."


"Kau masih begitu tenang, apa aku harus melenyapkan rekanmu lebih dulu supaya kau menyerahkan tanda kepemilikan ketua Mirachel?"


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerahkan tanda itu kepada orang yang tidak memiliki hati seperti kelompok kalian!"


Aku langsung memukul orang itu dan menarik Vava ke belakang. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menyerangnya. Menendang perutnya hingga tersungkur dan memukul wajahnya bertubi-tubi.


Tiba-tiba saja sesuatu yang tajam menembus perutku. Rasanya begitu ngilu dan semakin lama rasa sakit itu semakin menjadi.


"Sasha?!" teriak Vava. Beberapa orang keamanan datang dan langsung menyeret orang itu keluar. Syukurlah, setidaknya Vava dengan cepat mengabari bagian badan keamanan.


Vava menangis melihatku yang terkulai di lantai, banyak darah yang membasahi bajuku. Setidaknya aku masih bisa sadar dan menyuruh Vava untuk segera memanggil dokter.


Perlahan-lahan mataku sedikit berat dan tertutup rapat. Saat itu juga aku merasa tubuhku diangkat. Rasanya seperti tidur yang nyenyak, aku terbangun di kamarku sendiri. Di sampingku ada seorang pria yang tidur sembari duduk.


Tanganku bergerak untuk mengusap rambutnya, lebih tepatnya membangunkan orang itu supaya aku lebih jelas melihat wajahnya. Tapi, tanganku sulit untuk digerakkan bahkan mulutku seperti dikunci.


Aku melirik ke sebelahku yang lain, kedua orang tuaku berdiri sembari tersenyum. Aku yang melihat itu lantas ikut tersenyum, namun aku tidak melihat Nathe. Mungkinkah orang yang tertidur ini adalah Nathe? Aku kembali menoleh ke arah pria itu yang kini tengah menatapku.


'Kenneth?!' ucapku dalam hati karena mulut tidak bisa digerakkan. Kedua orang tuaku mendekat ke arah Kenneth, menggenggam tangannya seperti sebuah keluarga.


Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Semakin lama mereka hanya seperti bayangan yang perlahan hilang. Saat itu juga aku tersadar dan membuka mataku.


"Sasha? Apa kau baik-baik saja?"


Aku berusaha untuk duduk, rasa sakit menyerang perutku. Vava membantuku untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Bagaimana dengan proyek ini?" tanyaku.


"Tadi aku sempat memberi kabar pada kepala proyek bahwa kau tidak bisa datang hari ini."


"Besok kita kembali ke Paris."


"Apa?! Lalu bagaimana dengan rencana ini?"


"Kita akan kembali setelah mengantar Sean pada Kenneth. Aku tidak mungkin membiarkan dia pergi ke rumah paman."


Paman tua bisa mengenali Kenneth dengan sosok Mafianya. Jika paman tahu bahwa anak itu dibawa Kenneth, sudah dipastikan mereka mengira yang tidak-tidak.


Mengenai masalah hari ini, aku tidak yakin bisa berjalan dengan normal. Untuk duduk saja rasanya sulit, apalagi jika harus menggendong Sean besok. Aku menghembuskan napas lelah, masalah selalu saja mencariku.


Keberadaanku di sini sudah di ketahui Liolyn, tidak yakin jika aku kembali ke Paris dia tidak menyerangku lagi. Tidak masalah jika mereka hanya menyerangku, bagaimana dengan orang-orang di sekitarku yang tidak tahu apapun, seperti Vava misalnya?


Setelah menyerahkan Sean aku memiliki rencana untuk kembali ke sini, menyelesaikan bisnis lebih dulu.


"Ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanya Vava.


"Maafkan aku.... "


"Untuk apa? Seharusnya aku yang berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkanku dan meminta maaf atas apa yang terjadi padamu."


"Tidak, seharusnya aku tidak membawamu. Setelah mengantar Sean, aku akan kembali ke sini dan kau tetap di perusahaan untuk memantau."


"Tidak bisa begitu, aku ini sekretarismu, kemanapun  kau pergi, aku ada bersamamu."


"Vava, mengertilah... hidupku tidak seperti yang kau bayangkan. Banyak sekali jebakan yang tidak bisa kau hindari."


Aku tahu ketulusan Vava terhadapku, dan karena itu juga aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Vava. Membiarkannya di Paris bisa mengurangi resiko. Berbeda dengan di luar seperti sekarang ini. Aku tidak bisa terus bersama Vava, melindunginya ketika ada masalah yang datang tiba-tiba.


Dering ponsel yang berada di atas nakas menyita perhatianku. Vava menyerahkan ponselku setelah melihat nama yang memanggil.


"Kakak?! Bagaimana kabarmu dan ibu di sana?"


Aku merasa sangat bersalah karena menyembunyikan fakta ini pada Nathe. Aku mengucapkan kata maaf bertubi-tubi dalam hati pada Nathe.


"Baik-baik saja. Ada apa?"


"Minggu depan aku pulang. Jangan lupa untuk menjemputku."


"Aku ingat, jaga dirimu baik-baik."


Rasanya hari-hari berlalu begitu cepat, tidak menyangka bahwa dalam minggu ini juga Sean akan bertemu dengan ibunya. Mengingat itu, terbesit rasa tidak rela di hatiku kala menyerahkan Sean pada ibunya. Mengapa aku jadi lemah seperti ini? Oh ayolah Sasha, setelah Sean kembali, kau bisa hidup dengan nyaman. Tanpa bertemu dengan Kenneth lagi tentunya. Hidupku akan kembali seperti semula, tidak ada masalah yang datang dengan mengejutkan seperti akhir-akhir ini.