The Diamond

The Diamond
Suara Hati



Kenneth's POV


Aku pergi ke rumah sakit bersama Jessy. Beberapa hari ini, ayahku memang sering dirawat karena sakit. Seiring bertambahnya usia, kesehatannya menurun.


"Kau bisa pergi," ujarku. Sangat risih rasanya jika Jessy terus mengikutiku. Jujur, aku lebih suka melihat sikap angkuh Sasha daripada Jessy yang manja.


"Memangnya kenapa? Bukankah kita akan ke ruangan bersama?"


Aku berjalan lebih dulu ketika di lobby, membiarkan Jessy yang menerima telpon dan pergi keluar rumah sakit.


"Hayden, cari tau apa yang dilakukan Jessy selama ini." Aku menelpon Hayden yang mungkin saja bersama dengan Sasha.


Aku beridiri di depan ruangan tempat ayah dirawat. Perlahan aku membuka pintu, terlihat ruangan yang serba putih dengan bau obat-obatan yang menjadi ciri khas.


"Ken, kau tidak bersama Jessy?" tanya Ibuku. Aku menatap ke arah ayah yang juga mengangguk. Aku menganggukkan kepala.


"Dia menerima telpon di luar. Apa yang terjadi?" tanyaku.


"Ken, ayah sudah tidak muda lagi. Aku ingin kau segera menikah dengan Jessy. Aku ingin melihatmu di atas altar bersama Jessy."


Aku mengepalkan tangan mendengar penuturan ayah. Jadi, kondisi ayah bisa drop karena memikirkan pernikahanku? Tapi aku tidak ingin menikah dengan wanita yang tidak aku cintai.


"Ken? Kau baik-baik saja?" Aku yang tersadar dari lamunan langsung menatap ke arah Ibuku seraya mengangguk. 


"Pikirkan kesehatan ayah dulu... Itu yang paling utama."


"Tapi, kau berjanji akan segera menikah dengan Jessy?" tanya Ayah.


"Maaf, sesuatu yang tidak bisa dipaksakan adalah hati. Aku hanya akan berusaha."


Aku duduk di samping bangsal memandangi ayah yang memang tidak muda lagi. Rasanya sangat sulit untuk tidak menuruti perkataannya, apalagi ibuku. Tapi, untuk kali ini saja aku akan membantah.


Menikah dalam hidupku hanya akan dilakukan satu kali, itupun bersama dengan wanita yang aku cintai. Kini, aku sudah memantapkan hatiku hanya pada satu nama yang terukir dalam hati.


"Ibu, bisa kita bicara di luar?" ajakku.


"Tentu, memangnya apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ibu.


Sampai di depan ruangan, aku langsung duduk di bangku, begitupun dengan ibu. Mungkin sudah seharusnya aku memberitahu ibu.


"Jika aku tidak menikah dengan Jessy, apa kalian akan menyingkir dariku?"


"Apa yang kau bicarakan? Kau sendiri yang memilih Jessy, mengapa kau mengatakan ini?"


"Ibu, aku bisa menyimpulkan bahwa kau tidak keberatan jika aku menikah dengan siapapun. Jadi, kau tidak akan pernah menyingkirkanku entah siapapun wanita yang aku nikahi suatu hari nanti."


"Kenneth, aku yakin kau bisa memilih wanita yang terbaik untuk dirimu sendiri. Kami tidak akan pernah menyingkirkanmu, kebahagianmu sama dengan kebahagiaanku." Aku sedikit lega setelah mendengar pendapat ibuku.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, mengapa kau berkata seperti ini padaku?" tanya Ibu.


"Sebenarnya aku sudah mencintai orang lain. Mungkin saja aku tidak akan pernah menikah dengan Jessy."


Aku bisa melihat raut terkejut wajah Ibu dengan jelas. Aku tahu hal ini akan terjadi, tapi aku harus segera memberitahu. Bisa aku lihat dua sikap Jessy yang betolak belakang ketika bersama keluargaku.


"A—apa yang kau katakan? Mengapa kau bisa seperti ini? Kita sudah menyelenggarakan pertunangan kalian, tapi kalian tidak menikah. Kau sendiri yang memilih Jessy, ingat itu. Lalu, siapa wanita yang kau cintai?"


"Jika aku membawanya padamu, apa kau akan bersikap baik padanya?" tanyaku.


"Hei, aku selalu menghargai orang. Tentu saja aku akan bersikap baik. Mungkin kau bisa membawanya padaku, tapi tidak dengan ayahmu. Dia sudah menyukai Jessy, sulit baginya untuk menerima kenyataan."


"Aku tahu, aku pasti akan membawanya padamu lebih dulu. Kalau begitu, masih ada masalah yang harus aku tangani. Jaga kesehatanmu."


Senyuman ibu sebagai pengiring kepergianku selalu membuat hatiku terasa berat meninggalkannya. Aku ikut tersenyum sebelum aku membalikkan tubuhku dan melangkah.


Di lobby, aku melihat Jessy yang baru saja memasuki rumah sakit, entah apa yang sudah dia lakukan diluar sana.


"Melakukan sesuatu yang harus dilakukan."


Sasha's POV


"Berhenti mengawasiku!" seruku pada Hayden yang tidak berhenti menatapku dari sofa.


"Kapan aku memiliki kebebasan? Selalu saja berada di bawah kendali. Bisa kau meringankan pekerjaanku dengan bersikap layaknya gadis anggun?" Hayden menatap melas ke arahku.


Aku menatapnya sinis tanpa mau merespon. Berlama-lama dengan Hayden bisa jadi membuatku hilang kendali, tak segan untuk memukulnya. Aku menaiki tangga menuju kamar Sean untuk melihat apa yang dia lakukan.


Tepat ketika aku akan membuka handle pintu, Flona sudah membukanya lebih dulu. Tampak raut wajah terkejut ketika melihatku.


"No—nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Flona.


"Sean bagaimana?"


"Tuan Sean baru saja tertidur, apa Nona akan menemuinya?"


Aku menggelengkan kepalaku dan masuk ke kamar yang berada di sebelah kamar Sean. Aku menatap ponsel yang tertera nomor telpon rumah. Sudah lama aku tidak kembali ke rumah, apa bibi Zoe mencemaskan ku? 


"Hallo?"


"Nona?! Bagaimana kabarmu? Mengapa lama tidak kembali ke rumah? Maaf jika pertanyaanku lancang."


"Aku baik-baik saja, aku akan kembali ke rumah beberapa hari lagi. Masih ada suatu hal yang perlu di selesaikan."


"Syukurlah jika begitu, cepatlah pulang."


"Ya, jaga dirimu baik-baik."


Aku mematikan ponsel dan saat itu juga pintu kamar terbuka. Kenneth datang dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tanpa mau berinteraksi dengannya, aku langsung menutupi seluruh tubuh dengan selimut.


"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Kenneth.


Aku tidak merespon, lebih memilih memejamkan mata. Kenneth membuka selimut, tapi dengan segera aku menariknya kembali.


"Kau tahu, sikapmu saat ini seperti seorang istri yang merajuk pada suami."


Mendengar perkataannya, aku langsung membuka selimut, menatapnya dengan tatapan tajam. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu dengan gampangnya.


"Omong kosong," kataku.


"Well, suatu saat kau memang menjadi milikku, oh tidak-tidak...sekarang juga kau sudah menjadi milikku."


Aku membuang pandangan ke arah lain, tidak ingin menatap Kenneth. Bagaimana caranya agar aku bisa pergi ke Amsterdam? Terlintas ide angel yang menganjurkan untuk bersikap baik pada Kenneth, tapi bagi ide devil ku mengatakan untuk tetap merajuk.


"Sasha, berhenti merajuk. Aku tahu apa yang kau inginkan. Kau bisa berangkat ke Amsterdam besok pagi."


"Benarkah?!" seruku. Oh rasanya sangat senang, tapi tunggu dulu... Kenneth tidak mungkin dengan mudah menginzinkanku. Aku memicingkan mata menatapnya.


"Tentu dengan syarat, aku akan ikut bersamamu." Sudah jelas seperti yang dibayangkan, kalimat itu yang keluar dari mulut Kenneth.


"Lupakan, aku tidak ingin kau mengacau di tempatku."


"Aku akan mengawasimu dari jarak jauh. Aku janji." Kenneth mengarahkan jari kelingkingnya. Sedikit rasa ragu untuk menautkan jari, aku berpikir mungkin saja ini cara terbaik yang bisa aku lakukan.


"Janji." Pada akhirnya aku menautkan jari kelingking tanda persetujuan. Lebih baik Kenneth ikut dan mengawasi dari jarak jauh daripada tidak diizinkan sama sekali.


__________________________________________________


Aku ada rekomendasi bagi kalian yang sedikit sulit menggambarkan kejadian atau adegan di dalam cerita ini. Jadi ada salah satu akun instagram ku namanya @Agn1_ka


Akun itu khusus cerita-cerita yang udah dipublikasikan. Nantinya kalian akan menemukan macam-macam novel dan trailer. Teruma untuk novel The Diamond aku ada trailernya. Jangan lupa juga untuk follow bagi yang berkenan, jika ingin difollback silahkan DM😉