
"Sebenarnya aku adalah sepupu Alvin. Begini, apa kau ada waktu sore ini? Jika ada, kita membicarakan ini di cafe de flore."
"Baiklah, aku akan menunggumu disana pukul 4 sore," kataku.
Suara guntur mengalihkan perhatian kami. Aku langsung berpamitan untuk pergi lebih dulu karena Vava sudah pasti sedang menungguku. Ditambah lagi langit yang mendung menghasilkan butiran-butiran air membuatku mempercepat langkah.
Sebelum aku masuk ke mobil, mataku menangkap setangkai mawar yang tergeletak di atas mobil. Aku kira tidak ada lagi mawar misterius ini. Sudahlah, jika orang itu tidak berbuat jahat, aku akan membiarkannya.
"Kau membeli mawar?" tanya Vava.
"Kau tidak tahu?" balasku.
"Apa maksudmu? Sedari tadi aku di mobil menunggumu. Jelas aku tidak tahu kau membelinya."
"Bukan itu, apa ada seseorang yang mendekati mobilku?"
Vava menatapku dengan pandangan menyelidik dan dahi yang berkerut. Sepertinya memang Vava tidak mengetahui apapun.
Tidak ingin membuatnya bertanya lebih, aku segera memacu mobil kembali ke perusahaan. Jalanan yang cukup padat tidak sepeti biasanya.
"Ada apa dengan jalan disini? tidak biasanya macet," kata Vava.
"Aku tidak tahu, mungkin ada kecelakaan."
Beberapa menit akhirnya kami tiba di kantor. Vava langsung pergi ke ruangannya, begitupun denganku. Bunga mawar yang masih aku genggam terasa berbeda.
Sekarang tidak ada lagi secarik kertas yang menempel pada bunga. Hujan yang deras membuat kaca di ruangan ku tampak berembun. Jariku menari di sana untuk menggambar emoticon tanpa ekspresi.
Jika Caroline sepupu Alvin, mengapa aku tidak pernah tahu? Selama ini Alvin tidak menceritakan mengenai kerabatnya. Mungkin cukup jelas bagiku mengenai Caroline yang mengenal Alvin, bagaimana dengan Liolyn? Aku pikir bukan karena sepupu dari Alvin dia mengetahui Liolyn.
"Hentikan aku! Aku ingin bertemu dengan bos kalian!"
"Maaf, Nona. Tapi direktur tidak ingin diganggu."
"Siapa kau berani menghalangiku?!"
Suara gaduh dari luar membuatku terganggu. Pasti ada orang yang tak diundang. Alisku terangkat begitu melihat Jessy yang tengah meronta di tangan penjaga.
"Lepaskan dia," kataku.
"Kau?! Dasar wanita kejam! Kau membunuh saudaraku! Apa kau pikir setelah Liolyn tiada hidupmu akan tenang? Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu menikmati kehidupan damai!"
Jessy meluapkan emosinya yang menggebu-gebu dengan terus mendorongku hingga ke tembok. Aku akan membiarkan dia meluapkan emosinya lebih dulu. Di sini adalah kantor, aku tidak ingin memperlihatkan kelakuan yang buruk pada karyawan ku.
Grep!
Aku mencengkram tangannya dan menariknya untuk masuk ke dalam ruangan ku. Begitu sudah di dalam ruangan, aku menghempaskannya hingga jatuh ke lantai.
Aku mencengkram dagunya sedikit kasar seraya berkata, "Kau pikir semudah itu membunuh Liolyn? Jika iya, aku sudah membunuhnya sejak dulu. Aku tidak akan merasa tenang jika orang-orang sepertimu masih hidup. Maka dari itu, pergilah dan jangan menggangguku!"
"Kau–aku akan membalasmu hingga kau hanya bisa memohon padaku demi keselamatanmu!"
Jessy langsung pergi dengan penampilan yang urak-urakan. Sebuah senyuman tercetak di wajahku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memohon pada orang sepertinya. Oleh karena itu, aku sendiri yang akan membuatnya memohon padaku.
Tak terasa pertemuanku dengan Caroline sudah tiba. Tepat pukul empat sore aku sampai di cafe. Selama menunggu kedatangannya, alunan musik jazz mengalun dengan indah.
Kepalaku menoleh pada Caroline yang baru saja tiba dengan mengenakan jaket winter. Aku hanya mengangguk sekilas dan menyuruhnya untuk memesan sesuatu.
"Bisa kita langsung ke intinya?" tanyaku.
"Tentu...seperti yang sudah aku katakan sebelumnya bahwa aku adalah sepupu Alvin. Keluarga besar kami mengalami konflik internal. Semenjak itu keluargaku memutuskan hubungan dan menjalani kehidupan kami sendiri. Oleh karena itu Alvin tidak pernah mengungkit tentang keluargaku padamu. Sebenarnya aku menyukai dia sejak lama. Namun aku tahu dia sudah berpacaran denganmu saat itu. Aku berusaha memendam perasaanku dan berdamai dengannya."
Tidak disangka ternyata Caroline memiliki keluarga yang seperti itu. Matanya terlihat sayu saat menceritakan kisahnya. Sebenarnya aku tidak begitu penasaran mengenai Caroline dengan Alvin. Yang membuatku penasaran adalah Caroline yang mengetahui Liolyn.
"Apa kau mengingat pertemuan pertama kita?"
Aku mengangguk sekilas. Pertemuan saat di tepi sungai la siene itu yang terjadi saat suasana pikiranku tidak tahu harus melakukan apa.
"Apa kau menemukan boneka beruang? Itu dari Alvin, dia menyuruhku untuk menaruhnya pada mobilmu."
"Apa yang mengirim mawar juga Alvin?" tanyaku.
"Apa? Mawar? Itu pertama kalinya dia memberimu sesuatu dan mungkin menjadi terakhir kalinya juga."
Aku menatapnya tidak percaya. Aku kira orang yang mengirim boneka dan mawar juga sama. Tidak, pasti orang lain yang memberikan bunga. Bahkan tadi aku mendapatkannya setelah pulang dari pemakaman, jadi tidak mungkin Alvin yang melakukannya.
"Lalu kau yang mengetahui Liolyn?"
Caroline menoleh dengan raut wajah yang sulit diartikan. Matanya terlihat berkaca-kaca, lalu setetes air matanya turun.
"Tidak memberitahu juga tidak apa-apa," kataku.
"Tidak, aku yang ingin bercerita padamu...Sebelumnya aku pernah berkata padamu bahwa aku memiliki sahabat, namanya adalah Karin–" "Karin?!"
"Kau mengenalnya juga?" ujar Caroline.
"Tidak, hanya pernah mendengar."
Karin, dia adalah adik Kenneth. Berarti Caroline mengenal Kenneth juga. Apa mungkin Caroline mengetahui tentang tragedi yang dialami Karin.
"Dia sudah pergi beberapa tahu lalu. Aku pernah mengingatkannya untuk tidak dekat dengan David, sebelum tragedi tragis itu."
"Maksudmu?"
"Karin menyayangi David. Tapi Karin begitu polos saat itu. Dia tidak tahu bahwa David hanya memanfaatkannya untuk memperoleh harta keluarga Anderson. Hingga suatu saat, David dengan sengaja menusuk Karin dan pergi begitu saja. Aku tahu bahwa David adalah adik dari Liolyn. Oleh karena itu aku jadi membenci Liolyn dan sepupunya, Jessy."
Berarti Liolyn juga mengincar Kenneth untuk organisasinya melawan The Angel. Tapi, The Devil yang sulit ditaklukan membuatnya beralih pada paman kedua.
Setelah Liolyn tiada, paman kedua pasti akan segera bertindak. Saat itu juga aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Jika aku harus pergi dari dunia, setidaknya aku harus menghancurkannya lebih dulu.
"Aku mengerti perasaanmu. Aku yakin Karin sangat bangga memiliki sahabat sepertimu."
Tanganku terulur untuk mengusap bahunya. Caroline memang wanita yang baik dan juga cerdas. Dia tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak ada gunanya.
Obrolan kami berhenti sampai di sini. Aku harus pulang ke rumah sebelum kembali ke apartemen. Aku sengaja memilih pindah ke apartemen karena di hotel begitu sempit dan hanya ada ruang kamar saja.
Semoga Nathe belum kembali selama aku tidur di rumah untuk satu hari ini. Aku benar-benar merindukan orang-orang di rumah. Terutama Bibi Zoe, seseorang yang sudah lama sebagai kasih sayang ibu.