The Diamond

The Diamond
Penyesalan Nathe



"Dimana Nathe?" tanyaku.


"Ha ha ha, aku sudah yakin kau akan menanyakan hal itu. Adikmu tentu saja di rumah, memangnya apa yang akan aku lakukan pada anak tak berguna seperti itu?"


Berarti Nathe baik-baik saja? Hatinya bisa sedikit tenang. Bagus jika seperti ini, aku yang akan menyerahkan nyawaku.


Ayah, ibu, aku akan bertemu denganmu. Paman kedua mendekatiku dengan sebuah cambuk di lengannya.


"Kau begitu manis, keponakanku. Tapi aku membencimu. Maka dari itu aku tidak ingin kau mati dengan mudah, harus ada rasa penyesalan dan rintihan pilu saat ajalmu."


Clash! Clash!


Dengan kencang paman kedua mengayunkan cambuk itu pada kedua lenganku yang kini mengeluarkan darah. Sekuat tenaga aku memendam suara yang akan keluar dari mulutku.


Melihatku yang hanya diam saja, paman kembali mengayunkan cambuknya pada kedua kakiku, bahkan sampai ke seluruh tubuhku.


Aku yang tidak kuat berdiri langsung jatuh tersungkur. Suara tawa jahat menggema di penjuru ruangan.


"Ada apa denganmu? Ayo bangun, bukankah kau wanita kuat?!"


Paman kedua memaksaku bangkit dengan menarik rantai. Aku benar-benar tidak bisa melawannya saat ini. Beberapa kali cambukan kembali mendapat pada punggungku.


Setelah itu dia meninggalkanku sendirian di ruangan yang gelap dan lembab. Ya Tuhan, apakah hidupku akan berakhir tragis seperti ini? Aku sangat berharap bisa melihat air senyuman orang-orang ketika bertemu denganku.


***


Nathe's POV


Setelah beberapa hari pergi dengan paman kedua, aku merasa sangat senang. Aku sempat bertemu dengan segelintir teman saat kuliah.


Mengapa kakak bisa tidak menyukai paman yang begitu perhatian? Aku pasti bisa hidup tanpa kakakku. Aku sudah dewasa dan bisa menjaga diriku sendiri.


Aku merebahkan tubuhku di kasur. Rumah sebesar ini dengan penghuni yang sedikit membuatku merasa kesepian. Kebanyakan para penjaga yang berpatroli di sekitar mansion.


Ceklek


Aku bangkit saat mendengar suara pintu yang dibuka. Bibi Zoe datang membawakan makanan dengan raut wajah yang terlihat sedih.


"Bibi, ada apa?" tanyaku.


"Tidak ada apa-apa, Tuan. Aku akan meletakkannya di meja."


Setelah Bibi Zoe pergi, aku mengambil piring dan mataku melihat sebuah lipatan kertas. Rasa penasaran yang timbul membuatku mengambil kertas itu.


Isinya adalah surat yang ditulis kakak untukku. Refleks aku menjatuhkan piring dan bergegas mencari Bibi Zoe. Langkahku terhenti saat mendengar suara Isak tangis dari dapur.


"Apakah surat ini kebenarannya?" gumamku.


Perlahan aku mendekatinya dan bertanya mengenai isi surat itu. Awalnya Bibi Zoe tidak mengatakan apapun dan hanya menangis. Namun aku terus mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan yang ingin kau tahu jawabannya.


"Benar, Nona Sasha sudah pergi tadi pagi. Kehidupan yang dia alami sangatlah berat. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang nyonya setelah Tuan pergi."


Aku mengeratkan genggaman pada kertas. Sekarang aku menyadari letak ke salahan ku. Buru-buru aku menyambar kunci mobil dan berusaha menghubungi ponsel kakakku.


Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Ponsel kakak tidak ada yang mengangkatnya dan aku tidak bisa melacak keberadaannya.


"Nathe, kau pulanglah bersama pengawal ku. Aku akan tetap di sini menunggu seseorang karena ada hal penting yang akan kami bicarakan."


Seketika kalimat itu terlintas di otakku, mungkinkah paman kedua yang melakukan ini? Ya, aku sangat sakit. Tapi bagaimana cara aku pergi ke sana? Jika hanya mengandalkan diri sendiri tidaklah cukup. Justru aku akan ikut bersama kakakku.


Aku harus meminta bantuan paman tua. Setibanya di sana, rumah paman tua terlihat sepi. Tidak ada orang yang menjaga di depan rumah.


Lagi-lagi paman tua juga pergi dan surat ini diberikan untuk kakak. Sebenarnya apa saja yang tidak aku ketahui selama ini? Mengapa aku begitu bodoh?


"Bibi Zoe, apa kau tahu orang yang dekat dengan kakakku?"


"Tuan Nathe, aku tidak begitu tahu. Tapi Nona Sasha pernah dekat dengan Tuan Kenneth. Saat ini Tuan Kenneth sedang melangsungkan acara pernikahannya. Mungkin Nona Sasha juga ada di sana."


"Kau bisa memberiku alamatnya?"


"Maaf, Tuan. Mungkin kau bisa bertanya pada perusahaan Anderson."


"Terima kasih, Bibi. Aku akan membawa kembali kakak."


Anderson Group, itu perusahaan nomor satu di Perancis. Aku harus meminta bantuannya untuk menyelamatkan kakak.


Perusahaan yang sangat besar dengan gedung pencakar langit membuatku terpaku di tempat. Perusahaan ini lebih besar dari pada milik kakakku.


"Maaf, Tuan. Ada apa kau kemari?"


"Aku ingin bertanya tentang alamat rumah tuan Kenneth."


"Kau siapanya? Beliau sedang melakukan acara pernikahannya."


"Aku tahu, aku ingin bertemu dengannya. Berikan alamatnya, aku mohon."


Tidak ada cara lain selain memohon pada resepsionis ini. Sekilas dia mengangguk dan menuliskan alamat pada selembar kertas.


"Ini... Tuan Kenneth mengadakannya di villa, kau bisa pergi ke sana."


"Terima kasih, aku akan pergi sekarang."


Dalam hati aku menggerutu karena jarak untuk ke villa yang dituju sedikit lama. Melihat beberapa mobil yang menyalip membuatku segera mengikuti. Mungkin mobil itu juga menuju arah yang sama.


"Bagaimana aku bisa masuk ke sana? Banyak sekali pengawal dan orang yang masuk harus menunjukkan kartu undangan," kataku.


Seharusnya aku pergi ke perusahaan kakak untuk meminta undangan yang diberikan. Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana. Waktu yang benar-benar singkat membuatku terpaksa menerobos.


"Hey, berhenti! Apa yang akan kau lakukan?" ujar salah satu pengawal itu. Aku tidak bisa masuk ke dalam villa karena memang banyak sekali yang menjaganya. Tapi hal ini juga membuatku aneh, biasanya untuk pengawal tidak begitu banyak seperti akan berperang.


"Aku harus bertemu dengan kak Kenneth. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya."


"Tidak bisa, tuan Kenneth sudah menugaskan kami untuk tidak mengizinkan siapapun masuk tanpa memiliki undangan."


"Kalian tidak percaya padaku? Silakan tanya pada kak Kenneth. Dia mengenalku, dan kartu undangan milikku tertinggal di perusahaan. Kalian tahu perusahaan Felison Group, kan?"


Kedua pengawal itu tampaknya saling berkomunikasi melalui isyarat mata. Aku harus menggunakan nama perusahaan agar diizinkan untuk masuk.


"Kau siapa?" tanya orang itu.


"Aku? Aku adalah pemilik Felison, ada apa? Benar aku tidak boleh masuk? Kalian tahu bahwa Felison sudah bekerja sama dengan Anderson."


"...Baiklah, kau boleh masuk."


Hatiku bersorak senang seketika mendengar persetujuan itu. Namun kebahagiaan itu langsung sirna saat mengingat tujuanku datang kemari.


Langkah kakiku berlari menyusuri ruangan ballroom yang besar dan dipenuhi banyak orang. Tapi untuk pernikahan pada umumnya, jumlah tamu bisa dibilang sedikit.


Brak!


Baru saja masuk tiba-tiba seluruh pintu dan jendela di tutup. Beberapa pria berjas hitam mengenakan topeng masuk dan menahan lengan kami semua.