The Diamond

The Diamond
Tentang Sean



Ddrrtt ddrrtt


Suara ponsel di atas meja mengalihkan perhatianku. Tertera nama ibuku di atas layar, dengan segera aku mengangkatnya.


"Ada apa, Bu?"


"Apa yang kau sembunyikan di villamu selama ini?"


Aku terdiam sejenak, mungkinkah ibu mengetahuinya? aku pikir tidak seharusnya ibu tahu karena lagipula besok Sean sudah kembali pada ibu kandungnya. Tidak, yang ada di benakku sekarang adalah mengapa ibu berada di villa?


"Apa kau berada di villa?"


"Tentu, apa yang sudah kau lakukan? kau bahkan tidak memberitahuku?"


"Bu, tenanglah. Aku akan menjelaskan padamu setelah ini, sampai jumpa."


Aku mengacak rambut karena frustasi. Tahanlah Ken, hanya perlu beberapa hari saja dan semuanya akan selesai. Detik jam membuat suasana di ruangan terdengar sepi, matahari yang hampir tenggelam membuatku segera membereskan dokumen dan meletakkannya ke rak.


"Ken? apa kau akan makan malam bersamaku?"


Aku menoleh pada Jessy yang datang tak diundang dengan memasang senyuman palsu tentunya. Jessy tampak menghampiriku, lalu memelukku dengan antusias. Ya tuhan, singkirkan wanita ini dariku.


"Maaf, ada hal penting yang akan aku bicarakan dengan ibuku."


"Apa aku boleh ikut?"


Aku mengangkat kedua alis saat mendengar pertanyaannya. Walaupun aku menolaknya, dia akan tetap mengikutiku, jadi tidak ada jawaban yang perlu di berikan. 


"Terserah padamu," jawabku.


Matanya terlihat berbinar, lalu memeluk lenganku selama berjalan di lobby. Samar-samar terdengar bisik-bisik dari para karyawan yang belum pulang.


"Aku pikir wanita sebelumnya adalah kekasih Direktur."


"Aku juga berpikir begitu, bukankah wanita sebelumnya merupakan direktur?"


"Apa kau yakin? jika seperti itu sangat disayangkan."


"Tapi sebelumnya memang Direktur sudah bertunangan dengan Nona Jessy."


"Kalian pikir Ken akan bersama Sasha? tidak mungkin karena sekarang dia sudah menjadi milikku." Aku melirik sinis ke arah Jessy yang begitu membanggakan dirinya. Jessy tidak sebanding dengan Sasha yang menjadi tipe wanitaku.


Dalam perjalanan menuju villa, Jessy terus saja menempel layaknya perangko padaku. Aku sangat menantikan reaksinya saat melihat Sean yang menjadi anakku.


"Apa bibi ada di dalam?" tanya Jessy.


"Tentu."


Ekspresi bahagia langsung terpancar di wajahnya, dalam hati ingin rasanya menendang wanita ini keluar. Sayangnya, demi rencana yang berjalan lancar, aku harus bisa menahan emosiku. Aku melihat ibu yang tengah memangku Sean, aku melirik Jessy melalui ekor mata.


"Bi-bibi, siapa dia?" tanya Jessy terlihat ragu.


"Jessy, kau ikut kemari? hal itu juga yang ingin aku tanyakan pada Ken. Siapa pria kecil ini?"


Sebelum berbicara, Aku mengambil posisi duduk di sebelah ibu dan mengambil alih Sean lebih dulu.


"Dia anakku, apa ibu keberatan?" Aku menjawabnya dengan santai, lalu melirik ke arah Jessy dan ibu yang tampak shock.


"Ken?!" seru mereka bersamaan. Aku hanya mengangkat bahu dengan acuh, tidak peduli dengan apa yang mereka katakan selanjutnya.


"A-apa ini anakmu dengan Sasha?" tanya Jessy.


"Mungkin kau benar."


"Ken? bisa kau menjelaskannya padaku?" ujar Ibu.


"Ta-tapi, Ken—" "Sudahlah masih ada hari esok." Aku menyetujui perkataan ibu yang mengerti maksudku. Jessy sudah tidak bisa membantah jika ibu yang berbicara. 


Pada akhirnya aku bisa bernapas lega karena bisa bebas dari wanita semacam Jessy. Aku membaringkan Sean di kasur. Semenjak tidak bertemu Sasha, nampaknya Sean juga merasa sedih.


"Kau merindukannya?" tanyaku. Alih-alih menjawab, Sean mengoceh tak jelas seperti sedang berbicara. 


"Apa kau mau bertemu dengannya untuk terakhir kali? aku sebenarnya tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Kau sangat berharga bagiku." Aku mencium kedua pipinya yang imut. Tersadar bahwa aku belum menyiapkan keperluan Sean besok, aku memanggil Flona.


"Iya, Tuan. Ada yang bisa aku bantu?"


"Siapkan beberapa pakaian Sean dan keperluannya ke dalam tas."


"Baik!"


Ponselku berbunyi tanda telpon masuk. Lagi-lagi ibu yang menelpon, tidak bisakah bicarakan besok? Aku langsung menggeser tombol hijau di layar.


"Ken, kau bisa ceritakan padaku sekarang? jujur aku sangat menyukai anak itu, tapi sepertinya mirip dengan Sasha daripada dengamu. Apa kau yakin itu anak kandungmu?"


"Tentu saja tidak! dia bukan anak kandungku—" "Oh my! apa yang kau bicarakan? jika bukan anakmu, mengapa kau malah merawatnya?"


"Ibu, aku belum menyelesaikan perkataanku. Sean bukanlah anakku maupun Sasha. Aku hanya diberi amanah oleh seseorang untuk merawatnya selama satu bulan. Tepat, besok ibu kandungnya akan menunggu di tempat semula."


"Siapa ibu kandungnya? mengapa dia tega menyerahkan anaknya padamu?"


"Entahlah, Aku sudah mengatakan bahwa aku hanya merawatnya selama satu bulan, bukan seumur hidup."


"Aku mengerti, sebenarnya akupun berharap Sean menjadi anakmu. Dia terlihat sangat tampan!"


"Apa aku kalah dari anak kecil?"


"Ha ha ha, mungkin saja. Sudahlah, aku masih harus memberi obat pada ayahmu. Sampai jumpa!"


"Oke."


Aku langsung memejamkan mata. Entah karena aku yang terlalu halusinasi atau benar, seperti ada seseorang membuka pintu tanpa menutupnya kembali. Namun, pintu itu masih tertutup saat aku membuka mata.


"Apa pendengaranku yang bermasalah?" gumamku. Aku kembali memejamkan mata, ini hari-hari yang tersisa untukku dan Sean. Sayangnya tidak ada Sasha yang ikut mengiring kepergian Sean.


Tok tok tok


Aku kembali membuka mata saat mendengar ketukan pintu. Aku bangkit untuk membukanya, tapi tidak ada siapapun di luar kamar. Saat aku akan menutup pintu, sebuah note tertempel di pintu.


'Aku harap Sean masih tetap bersamamu saat kita bertemu.'


Kalimat yang lebih merujuk pada Sean, mungkinkah Sasha? Aku segera mencari keberadaannya yang mungkin saja belum terlalu jauh.


"Bibi Rose?! apa kau melihat Sasha?" Aku segera bertanya pada Bibi Rose yang sepertinya baru saja menutup pintu utama.


"Nona Sasha, aku tidak melihatnya. Apa dia berkunjung kemari?" Aku mengernyitkan dahi melihat tampang Bibi Rose yang sepertinya tidak mengetahui apa-apa.


"Lalu, apa yang sedang kau lakukan?"


"Aku baru saja menyapu teras."


"Mmm, baiklah." Aku kembali ke atas dengan perasaan yang begitu campur aduk. Siapa yang masuk ke kamar Sean? siapa yang mengetuk pintu? mengapa bibi Rose tidak mengetahuinya? Aku merasa berada di dunia fiksi. Mungkin aku bisa mengetahuinya melalui CCTV.


Seorang wanita mengenakan hoodie dan berpakaian seperti seorang penyusup. Aku langsung memutar semua CCTV yang ada. Sayangnya di dalam kamar tidak ada CCTV sehingga aku tidak tahu siapa orang itu.


Tunggu, dia menyelinap masuk tanpa ada seseorang yang menyadari? Bukankah bibi Rose berada di teras? orang itu pergi ke arah belakang yang berarti dia berhasil keluar masuk melalui pintu belakang dimana tidak ada orang yang menjaga.


Sialan! apa yang harus aku lakukan? dalam hati aku berasumsi bahwa orang itu adalah Sasha. Yeah, hanya dia yang mengetahui tentang Sean. Aku tersenyum memandangi kertas dalam genggaman. 


"Kau tahu? akupun berharap sepertimu. Andai jika kau ada disini dan ikut mengantar Sean...." Aku bergumam sembari mengingat waktu saat pertama kali menemukan Sean, lalu tanpa sengaja bertemu dengan Sasha.