
Kenneth's POV
Ketika aku berdiri di atas altar, mataku tak teralihkan dari Sasha. Mata yang melirik ke arahku dengan sendu dan tajam. Sedetik setelah aku mengalihkan perhatian, Sasha sudah tidak ada di posisinya. Mataku terus mencarinya di antara kerumunan orang.
Masalah Sasha akan aku urus nanti, aku perlu menyelesaikan ini lebih dulu. Semua penjagaan di villa sudah sangat ketat.
"Aaron, tepat ketika pendeta berkata. Langsung tutup semua pintu," kataku pelan. Aku sengaja mengenakan hands free agar mudah berkomunikasi dengan tim The Devil.
"Baik, Tuan. Kami semua sudah berada diposisi masing-masing."
Melihat Jessy yang berjalan mendekati Altar, aku berusaha menciptakan senyuman setulus mungkin walaupun sebenarnya itu adalah senyuman palsu.
"Aku menyerahkan putriku padamu," kata Ayah Jessy.
"Baik, paman."
Ritual akan segera di mulai. Aku menarik napas dalam-dalam memastikan strategi ini lancar. Pada saat pendeta mulai berbicara, suara bedebun pintu yang tiba-tiba tertutup membuatku tersenyum miring. Yang membuat semua orang terkejut dan mulai panik. Tak ingin membuang waktu, aku menodong Jessy dengan pistol.
"Aaron perintahkan tim yang lain supaya menangkap setiap orang yang memakai cincin Ruby. Bawa mereka yang tidak memakai cincin ke ruangan yang sudah aku sediakan."
"Aku akan melaksanakannya, Tuan."
"Kenneth! Apa kau gila ingin membunuhku?" kata Jessy.
"Aku gila? Kau yang sudah gila. Kerabatmu sudah membunuh adikku. Siapapun yang mencari gara-gara dengan The Devil tidak akan pernah bisa hidup nyaman!"
Pertarungan beberapa anggota The Devil dan The Demon terjadi saat ini. Aku sudah yakin bahwa Jessy akan membawa beberapa anggota mafianya. Mengingat saudarinya, Liolyn yang sudah tiada.
"Kak Kenneth!"
"Kak Kenneth!"
Aku menoleh ke arah seorang pemuda yang mendekatiku. Anak ini benar-benar bodoh, situasi yang tidak kondusif bisa berbahaya untuknya.
Aku melempar Jessy pada Aaron dan mendekati pemuda itu. Wajahnya sedikit mirip dengan Sasha, tapi dia adalah pria.
"Aku ingin kau menyelesaikan semua anggota the Demon hari ini juga."
Aaron mengangguk patuh, membawa Jessy dan anggota yang lain ke ruangan bawah tanah. Sedangkan aku sendiri memperhatikan pemuda di hadapanku yang terlihat cemas.
"Siapa kau?" tanyaku.
"Tolong bantu aku selamatkan kakakku. Dia berada dalam bahaya saat ini."
"Siapa kakak mu?"
"Sasha, Alexandra Felister. Paman kedua menyekapnya di New York."
Mataku terbelalak, mungkin Sasha yang barusan pergi adalah ke New York. Waktu perjalanan ke sana lumayan lama. Berarti Sasha masih di tengah perjalanan.
"Ikut aku."
Aku menggenggam tangannya membawa ke bandara. Tidak ada waktu untuk berbasa-basi di situasi sekarang. Ayah dan ibuku pasti sangat terkejut dengan kejadian ini. Sebelumnya aku memang sudah merencanakannya untuk menghancurkan organisasi The Demon. Tapi aku harus pergi menyelamatkan Sasha.
Sasha, dia tidak boleh terluka sama sekali. Aku akan membawanya kembali ke sisiku. Maka setelah itu tidak ada lagi yang bisa mengambilnya dariku.
Tak lupa juga aku membawa seluruh anggota The Devil untuk berkumpul di New York. Aku akan menghabisi The Angel. Aku sudah tahu bahwa Sasha adalah pemimpin dari Mirachel, aku sempat terkejut ketika Hayden memberitahu informasi ini. Tapi aku tidak memberitahunya pada Sasha.
Tiba di New York, aku segera memacu mobil menuju markas The Angel. Aku memerintahkan pada semua orang untuk menghabisi The Angel, sedangkan aku dan pemuda ini pergi ke dalam mencari keberadaan Sasha.
Gedung dengan lantai tiga ini membuatku sedikit letih. Tapi, tidak ada waktu untuk beristirahat. Sekuat tenaga aku kembali menaiki tangga.
"Apa kakakku ada di dalam?" tanya pemuda itu.
"Tidak, pamanmu pasti memindahkannya. Aku akan pergi mencarinya dan kau tetaplah waspada."
Aku segera berlari menuruni tangga menuju lantai bawah. Satu-satunya tempat yang biasa dipakai untuk penyiksaan adalah ruang bawah tanah.
"Aaron, tim mu pergilah ke sebelah barat. Jangan biarkan siapapun masuk ataupun keluar."
"Siapa yang akan menangani bagian Utara?"
"Biarkan para capos yang menanganinya."
Aku mencari pintu untuk pergi ke ruang bawah tanah yang nyatanya sulit ditemukan. Samuel benar-benar pintar menyembunyikannya.
Sebuah tombol berada di sudut ruangan. Aku tidak semudah itu dipermainkan. Aku akan menyelematkan Sasha dengan segera.
Ruang bawah tanah yang begitu gelap dan lembab membuatku harus ekstra hati-hati. Terdengar suara Samuel yang sedang tertawa.
Sasha, dia tidak sadarkan diri dengan luka cambukan di seluruh tubuhnya dan baju yang compang-camping. Tanganku terkepal dengan erat. Tidak boleh ada orang yang menyakiti Sasha.
"Aku memberimu dua pilihan, mati atau siksaan?"
"Kenneth Anderson. Kau begitu rela menghancurkan pernikahan demi menyelamatkan wanita seperti dia? Ha ha ha, sekarang kau tidak akan bisa bersamanya lagi."
Dor! dor! dor! dor!
Kepala, dada, tangan dan kaki. Aku bahkan tak menolak jika harus menembak seluruh tubuhnya. Pandanganku beralih pada Sasha. Dia tidak boleh mati,dia tidak boleh pergi sebelum aku memberinya kebahagiaan.
Aku menempelkan jariku pada leher Sasha. Aku melepaskan jas untuk menutupi tubuhnya dan buru-buru membawanya pergi setelah merasakan nadinya.
"Kakak! Apa yang terjadi?!"
"Cepat ikut aku!"
Aku segera membawa Sasha ke rumah sakit terdekat. Lantunan doa tak henti-hentinya aku rapalkan. Pemuda yang ikut bersamaku menangis tersedu-sedu.
"Aku yakin dia pasti akan sembuh, dia wanita kuat," kataku.
"A–aku tahu, ta–tapi bukan i–itu masalahnya. Aku su–dah membuatnya terluka."
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Ka–mi sempat sa–salah paham. Dia pergi dari ru–mah karena paman kedua."
Pasti ini adalah konflik internal. Aku tidak bisa bertanya lebih lanjut yang membuat pemuda ini menjadi tambah murung. Sepertinya konflik mereka cukup serius dan sensitif.
"Siapa namamu?" tanyaku.
"Nathe...," gumamnya.
"Kapan kau pulang?"
"Beberapa Minggu yang lalu. Aku benar-benar menyesal."
Aku kira adik Sasha masih belum pulang. Jadi ini yang membuat Sasha selalu lepas dari pengamatanku. Sasha menyadari bahwa ada orang yang mengikutinya dan dia berusaha memanfaatkan keadaan ketika bertengkar untuk pergi.
Setelah dokter menanganinya. Kami masuk untuk melihat keadaannya. Tubuhnya yang dibaluti perban dan alat-alat medis lain yang menempel pada tubuhnya membuatku merasakan bagaimana rasa sakit itu.
Semua waktu yang sudah terlewati tidak akan pernah aku lupakan. Jika bisa mengulang waktu, aku ingin bertemu Sasha lebih awal. Sasha adalah berlianku, berlian yang sangat berharga bagiku. Tidak ada seorangpun yang bisa mengambilnya dariku.