
Pagi harinya, Aku segera bersiap untuk berangkat menuju Amsterdam. Tidak ada style yang biasa aku gunakan untuk kerja di lemari. Kenneth menyebalkan, mengapa aku harus menuruti perintahnya? haruskah aku pergi bekerja dengan mengenakan dress? oh ya ampun, bukan pergi bekerja jika mengenakan dress.
"Kau sudah selesai?!" Aku yang terkejut langsung membalikkan badan untuk melihat siapa yang masuk tanpa mengetuk pintu. Kenneth berdiri di dekat pintu sembari menggendong Sean. Apa yang dia lakukan membuatku kesal sekaligus malu, bayangkan saja aku baru selesai mandi dan sekarang hanya mengenakan jubah mandi.
"Apa yang kau lakukan?! cepat keluar!" Aku langsung membalikkan badan menghadap lemari. Aku menolehkan kepala untuk memastikan Kenneth. Namun, bukannya keluar dari kamar, justru malah duduk di atas kasur.
Tok tok tok
Aku membelalakan mata ke arah Kenneth, siapa lagi yang datang? Ku lihat Kenneth membuka sedikit pintu dan menerima paperbag. Dia menyerahkan itu padaku, satu set pakaian kantor yang mengenakn rok.
"Ken, kau tahu sendiri bahwa style kantorku mengenakan celana, bukan rok pendek seperti ini." Aku menunjukkan rok pendek yang jika dikenakan pasti di atas lutut. Aku cukup sopan ketika berada di kantor dengan tidak menggunakan pakaian yang terbuka.
"Mmm, benar juga. Aku akan meminta Hayden untuk membelikannya lagi."
"Sudahlah, tidak ada waktu lagi." Aku terpaksa kembali ke kamar mandi untuk memakai pakaian. Sebenarnya bukan tidak ada waktu, tapi Aku hanya menghargai apa yang sudah dia berikan padaku.
Aku memandang diri di depan cermin yang cukup besar. Rok ini tidak terlalu pendek, tapi tetap saja menampakkan kaki jenjangku. Sepertinya aku perlu stoking untuk menyamarkan kulit kaki. Lagi-lagi aku mendesah dalam hati karena disini tidak ada stoking.
"Mengapa kau tidak pergi dari sini?" tanyaku.
"Kenapa aku harus pergi? ini rumahku, sudah pasti di dalamnya juga milikku."
Aku tidak ingin berdebat lagi dengan Kenneth, dengan segera aku mengambil beberapa dokumen penting di dalam laci.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kenneth. Aku mengernyitkan dahi, apanya yang baik? Oh mungkin yang dimaksud adalah luka tusukan ini. Biarpun terkadang masih terasa, aku masih bisa menahannya dan rasanya juga tidak sesakit seperti kemarin.
"Tentu saja," jawabku.
"Ayo." Kenneth mengulurkan tangannya di depanku sembari menggendong Sean. Melihat Kenneth seperti ini, rasanya membuatku sudah memiliki keluarga. Andaikan jika masa depanku sangat aman, mungkinkah bisa bertahan terus seperti ini?
"Aku sedang tidak menyebrang dan aku masih bisa berjalan." Aku melengos pergi keluar dari kamar. Dari lantai dua, aku bisa melihat Flona dan pengurus Rose yang begitu sibuk mempersiapkan keperluan. Apa yang akan dilakukan Kenneth hingga menyiapkan begitu banyak barang?
"Flona, apa yang kau lakukan dengan barang-barang ini?" tanyaku.
"Nona, tuan Kenneth menyuruhku untuk membawa keperluan tuan Sean." Entah apa yang dipikirkan Kenneth, mengapa dia membawa begitu banyak keperluan Sean? Itu berati Sean akan ikut ke Amsterdam? bagaimana bisa?
"Jika sudah selesai, kita akan berangkat sekarang." Aku menoleh ke arah Kenneth, sebenarnya siapa yang akan pergi? Jika aku tahu Kenneth akan membawa Sean, mungkin aku akan menolak. Bukan berarti aku tidak ingin Sean ikut, hanya saja terlalu berbahaya jika ada orang yang mengenaliku. Pertama, Sean masih terlalu kecil untuk dibawa pergi apalagi bekerja. Kedua, terlalu banyak barang yang perlu disiapkan. Ketiga, tidak tahu apa yang akan terjadi jika musuh-musuh Kenneth melihatnya.
"Kita akan membawa Sean?" tanyaku.
"Tentu saja, lagipula jarang sekali bisa mengajaknya pergi berlibur." Apa?! berlibur? sepertinya otak Kenneth sungguh bermasalah.
"Otakmu bermasalah? Aku pergi ke sana karena urusan bisnis, bukan acara keluarga!"
"Anggap saja begitu. Tenang saja, aku tidak akan pergi mengacau."
Setelah menempuh waktu sekitar satu jam, kami tiba di Amsterdam. Aku menelpon kepala proyek untuk menjemput. Tapi Kenneth merebut paksa ponselku dan menarik tanganku masuk ke dalam mobil.
"Distrik Jordaan, kau tidak pergi kesana, kan?"
"Sesuai perkataanku, aku akan menunggu di Pelataran Noodermarkt."
Aku menatap ke arah Kenneth yang tengah memangku Sean. Rasa iba mulai menyeruak di hati melihat Sean yang tertidur pulas. Apakah aku ini terlalu kejam karena tidak membantu Kenneth mengurus Sean? selama ini Kenneth tidak pernah lepas dari Sean, terkecuali jika ada urusan mendadak.
Kenneth's POV
Selama menunggu Sasha, aku pergi ke toko perhiasan yang ada disini. Tidak hanya toko perhiasan, tetapi toko pakaian hingga barang antik dan makanan organik berada disini. Sean yang masih tertidur pulas membuatku sedikit tenang dalam menjelajahi toko.
Mataku melihat sebuah kalung dengan liontin permata batu shafir di jejeran kalung yang lain. Tepat ketika aku ingin membeli kalung itu, ponselku bergetar tanda pesan masuk.
'Sial! tidak seharusnya aku membawa Sean keluar.'
Aku menatap penjuru toko untuk mencari tahu siapa pengirim misterius ini. Seseorang yang baru saja keluar dengan pakaian serba hitam membuatku tergesa-gesa mengikutinya setelah membeli kalung. Tapi tunggu, aku tidak mungkin membawa Sean mengejar pria itu.
"Kau, cepat pergi dari sini dan bawa Sean ke sebuah hotel milikku yang tidak jauh. Perhatikan sekitarmu, jika ada sesuatu yang mencurigakan segera hubungi aku."
"Baik, Tuan."
Aku langsung menyerahkan Sean pada supir dan pergi mengikuti pria yang berjalan menyebrang jalan. Buru-buru aku mengikis jarak dengan berlari waspada agar tidak disadari. Semakin lama mengikuti, semakin sepi juga tempat yang dilalui pria itu.
Aku langsung bersembunyi ketika pria itu menoleh menatap sekitar sebelum masuk ke sebuah gedung tua. Siapa dia? Aku yang akan melangkah keluar dari persembunyian terpaksa kembali lagi ketika melihat beberapa orang keluar dari gedung.
"Info yang kau berikan itu sungguhan? Kenneth Anderson berada disini?"
"Tentu saja, aku melihatnya membawa seorang anak, mungkin saja itu putranya." Aku bisa mengenali wajah mereka yang sedang berbincang-bincang. Shit! mereka adalah para anggota gangster yang sudah mengetahui identitas mafiaku. Ternyata terlalu beresiko membawa Sean pergi dan aku harus menyelesaikan ini.
"Kau membicarakanku?" ucapku keluar dari persembunyian. Beberapa orang menunjukkan ekspresi terkejut melihat kemunculanku yang tiba-tiba.
"Kau bodoh? bagaimana bisa dia mengetahui keberadaan kita?"
"Tuan, aku tidak tahu dia mengikutiku karena aku tidak menyadarinya." Terlilah ekspresi cemas di wajahnya.
"Kebetulan sekali, kami mencarimu Tuan Kenneth. Apa yang kalian lihat? cepat serang dia, peluang besar bagi kita karena dia seorang diri."
"Cih! berani menyerangku? baiklah akan aku tunjukan pada kalian bagaimana julukan Mafia Devil menjadi milikku."
Aku menyerang dan menghindari serangan mereka dengan santai. Sekitar tiga orang yang berada di luar. Aku tidak cukup bodoh untuk menyerang mereka sendiri karena sudah dipastikan dalam gedung masih banyak gangster yang lain. Oleh karena itu, sebelumnya aku sudah memberikan sinyal tanda bahaya pada anggota The Devil.
____________________________________________________
Kalian sadar nggak sih kalo di episode "The Angel" Kenneth tuh bilang "Aku tidak menyetujuinya." Nah sedangkan dalam episode ini ternyata Kenneth yang milih Jessy sendiri sebagai tunangannya. Hayo masih bingung? mau tau sebenarnya apa yang terjadi? tunggu episode berikutnya ya.