The Diamond

The Diamond
Prolog



Tepat saat itu adalah hari ulang tahunku yang ke-18. Sebelum ayahku meninggal dunia, dia sudah mewariskan perusahaan miliknya kepadaku. Aku sudah dilatih bisnis pada usia 15 tahun. Selama 3 tahun belajar tidak aku sia-siakan kan. Sampai saat ini perusahaan milikku berada di urutan kedua dari 5 perusahaan termaju.


Semenjak ayahku meninggal, ibuku selalu menyiksaku dan berkata bahwa akulah penyebab ayah tiada. Akupun tidak tahu kejadian itu, yang aku tahu hanyalah ayah yang dibawa ke rumah dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Pamanku terus menjagaku dan mengajariku dalam bisnis menggantikan ayahku. Dia pernah menyuruhku untuk membawa ibu ke psikolog. Tapi, aku selalu menolaknya. Aku tidak ingin ibuku memiliki gangguan mental setelah kejadian itu. Walaupun aku tahu memang sepertinya begitu.


Aku selalu menjaga ibuku dengan baik, jika ibuku melihatku pasti akan langsung berteriak. Aku hanya mengunjunginya setelah dia tertidur di malam hari. Menunggunya sampai tengah malam, terkadang aku juga berbicara mengenai perasaanku selama ini. Biarpun dia tidak merespon, setidaknya aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan.


Aku bukanlah putri tunggal, masih ada saudaraku yang lain. Dia adik laki-lakiku yang baru berusia 14 tahun. Dia bersekolah di luar negeri karena perintah pamanku. Semenjak ibuku memiliki gangguan, paman menyuruh adikku bersekolah diluar negeri karena tidak ingin adikku melihat pemandangan buruk dari ibunya. Diusianya yang masih remaja, aku ingin memberikan kebahagiaan pada adikku.


"Nathe, belajarlah dengan rajin. Teruslah berprestasi, aku akan terus berada disampingmu. Apa kau membutuhkan hal lain sebelum berangkat ke Amerika?"tanyaku sebelum adikku pergi.


"Aku ingin pergi ke kebun binatang. Aku ingin memberi makan rusa. Bisa kau menemaniku? Sebelum aku pergi,"ujar Nathe. Aku mengangguk dan membawanya ke salah satu kebun binatang. Demi adikku, aku rela melakukan apapun... Walaupun itu harus merelakan nyawaku.


Aku ikut bersama adikku memberi makan rusa. Adikku tertawa dan aku hanya menatapnya bahagia tanpa menunjukkan ekspresi. Dua kali memberi makan rusa, setelah itu aku duduk di sebuah bangku. Menatap adikku yang masih asik memberi makan rusa.


Tiba-tiba saja seorang pemuda lewat dan menjatuhkan sebuah kotak. Aku mengambil kotak itu dan menyuruh pemuda itu berhenti. Aku hanya menyerahkan kotak itu dan kembali ke tempatku semula. Mungkin bagi kebanyakan orang sikap itu tidaklah bagus. Aku hanya tidak bisa begitu akrab dengan orang lain. Aku pun tidak mengharapkan kata Terima kasih dari pemuda itu.


Nyatanya pemuda itu juga seperti tidak ingin mengucapkan Terima kasih padaku. Aku tidak mempermasalahkan itu. Biarlah orang itu pada pendiriannya. Lagipula orang itu tampak terburu-buru jika dilihat dari cara berjalannya. Nathe mendekatiku dan mengajakku pulang setelah puas berada di kebun binatang.


"Kakak! Aku ingin makan sandwich bar,"kata Nathe yang aku angguki lagi. Kami mampir ke sebuah restauran. Aku hanya memesan minuman saja, membiarkan adikku yang memakan apapun.


Tidak pernah terpikirkan olehku harus memiliki jarak yang sangat jauh dengan Nathe. Setelah Nathe pergi, aku pasti akan selalu merindukannya. Dia yang paling ceria diantara anggota keluarga. Bahkan hanya Nathe yang mengerti diriku sampai saat ini.


Nathe tidak pernah mengeluh dengan sifatku yang sangat dingin dengan orang-orang. Justru dia sangat menyayangiku karena biarpun aku bersifat dingin, aku masih bisa mengerti Nathe.


Aku berdiri menatap kepergian Nathe. Aku tidak ingin pergi dari sana seolah-olah menunggu Nathe kembali. Aku memejamkan mataku sampai seseorang menarikku ke dalam pelukannya.


" Alexa, aku masih menyukaimu!" kata orang itu dengan tegas. Suara ini, aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku langsung menjauhkan tubuhku dan membelakanginya.


"Kita tidak memiliki hubungan apapun, lagipula kita tidak saling mengenal."


"Tidak! kau tetap milikku, tunggu aku kembali dan akan melamarmu." Cih! aku bahkan tidak sudi melihat wajahnya. Lagipula siapa yang mau menikah dengan orang yang sudah menyakitimu? hanya orang maniak cinta yang melakukan itu.


Aku langsung pergi begitu saja. Aku tidak mau berurusan dengannya lagi. Bahkan aku memilih mati daripada menikah dengannya. Jika saja saat itu aku tidak pernah bertemu dengannya, mungkin hidupku tidak akan serumit ini.


Saat itu tepat di malam tahun baru, aku menunggunya di sebuah restoran. Aku sangat senang saat mengetahui dirinya akan kembali ke negara ini. Sayangnya, takdir menyuruhku kembali memilih jalan. Dia malah berkencan dengan orang yang sangat aku benci.


Pria macam apa yang tidak bisa memegang prinsipnya sendiri. Sejak saat itu, aku langsung memutuskan hubungan dan kembali ke jalanku. Jalan dimana aku memilih masa depan nantinya.


Sesuatu yang tidak pernah terduga datang membawaku padanya, mengharuskan aku untuk terus mengikuti perkataannya. Aku bahkan tidak sadar, ternyata semakin lama ada sebuah percikan cinta timbul di dalam hati.


Tapi mengapa disaat itu sudah terjadi dia baru mengatakannya? aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Aku berada di jalan buntu saat itu, berjalan tak mau diam pun enggan.


*Wahai kau...


Bersamamu aku merasa nyaman


Bersamamu aku merasa senang


Bersamamu aku merasa tenang


Wahai kau...


Karenamu aku terluka


Karenamu aku tersiksa


Karenamu aku binasa*


Dia satu-satunya orang yang dapat membuatku hancur. Dan bagusnya, Aku merupakan satu-satunya orang yang dia hancurkan. Apa aku bisa menganggap bahwa aku pernah menjadi istimewa di hatinya?


Aku terkekeh membayangkan hal itu. Tak terasa, langit menggelap. Ini waktunya makan malam, aku melirik ke arah jam yang berputar. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari.


Sudah seharian ini aku berada di balkon. Ponselku berdering, sebuah panggilan dari seseorang membuatku beranjak dari sana. Untuk melihat penampilan di cermin saja rasanya enggan.


Aku tidak ingin dikejutkan dengan wajahku yang seperti burung hantu.


Aku langsung mengenakan jaket dan pergi ke tempat dimana aku bekerja. Musim dingin masih berlanjut, jalanan yang tertutup salju tidak membuatku sulit menyetir.


Hawa dingin menembus kulit wajahku saat keluar dari mobil. Beberapa orang menyapaku saat berada di lobby. Aku menyuruh asisten untuk segera membawa lembar kerja milikku.


Saat pandanganku keluar kaca, ku lihat sebuah mobil melaju dengan kencang. Di belakangnya ada beberapa mobil yang mengikuti.


"Pemburu... " gumamku yang sudah dipastikan benar. Pemburu disini maksudnya adalah pemburu kejahatan. Tidak menyangka dalam musim seperti ini bisa mencarinya.


Aku langsung pergi ke ruanganku setelah mengingat adanya suatu acara yang akan di selenggarakan.