The Diamond

The Diamond
Hati yang terluka



Hari ini adalah hari dimana Kenneth dan Jessy akan menikah. Aku tidak ingin pergi ke sana, tapi sebagai tamu terhormat, aku harus menghadirinya. Aku akui bahwa aku mencintai Kenneth sehingga aku benar-benar tidak bisa melihatnya menikahi orang lain.


Aku sempat yakin bahwa Kenneth tidak mencintai Jessy. Tapi mengapa tiba-tiba Kenneth berubah? Ada hal yang mungkin saja tidak aku ketahui.


Sudahlah, aku tidak ingin berkelana dengan pikiranku. Ekor mataku melihat boneka beruang dan sebuket bunga mawar yang aku rangkai sendiri.


"Alvin, aku pikir masih bisa melihatmu suatu saat...," gumamku.


Aku mengambil buket bunga itu dan menghitungnya. Ada sepuluh bunga mawar dan aku langsung membuka ponsel mencari maknanya karena bunga yang diberikan seperti ini sudah pasti ada maksud tertentu.


10 tangkai bermakna kamu cantik. Aku terbengong membaca kalimat itu. Aku rasa bukan ini yang ingin dikatakan si pengirim. Aku hampir lupa, masih ada satu tangkai lagi di dalam mobil. Mungkin saja itu bunga terakhir karena tidak ditemukan secarik kertas.


11 tangkai bermakna aku akan mencintaimu sepanjang hidupku. Seketika pikiranku tertuju pada Kenneth. Apa benar dia yang mengirim bunga-bunga ini?


Ddrrtt ddrrtt


Aku terkejut ketika ponselu berdering dan ternyata nomor tak dikenal yang menelponku.


"Hallo?"


"Kau dimana? Aku akan menunggumu di villa kak Ken."


"Kau siapa?"


"Oh ya ampun, kemarin kita baru saja bertemu. Aku pikir kau tidak setua itu untuk melupakan aku, he he."


"Caroline?! Baiklah aku akan datang nanti."


Aku menaruh kembali bunga dan boneka itu pada tempatnya. Hari ini aku benar-benar akan meninggalkan rumah. Sebelum aku benar-benar pergi, aku akan membuat surat untuk Nathe.


To: Nathe


Hai, Nathe. Bagaimana kabarmu setelah pulang dari New York? Aku harap kau akan sangat senang. Apalagi kau tidak akan melihatku lagi. Tapi aku benar-benar sedih ketika kau menyuruhku untuk tidak bertemu denganmu.


Setelah ayah dan ibu pergi, hanya kau satu-satunya keluarga yang aku nantikan ketika pulang ke rumah. Aku tidak bisa melihatmu begitu membenciku.


Andaikan kau tahu, Nathe. Orang yang bersamamu saat ini adalah orang yang mencelakai ibu, yang membunuhnya dengan segelas racun. Aku ingin mengatakan hal ini padamu, sebenarnya alasan aku mengirimmu keluar negeri supaya kau tidak melihat betapa beratnya hidupku dan juga ibu.


Ibu mengalami gangguan mental semenjak ayah pergi dan tidak pernah menganggap ku sebagai putrinya  Aku tidak ingin kau menghadapi kehidupan yang berat di usiamu yang masih belia.


Alasan aku tidak memberitahukan kematian ibu adalah tidak ingin kau terpukul. Bayangkan saja, sebelumnya kau terus menanyakan kabar ibu dan berkata tidak sabar ingin bertemu dengannya. Saat itu posisimu akan menghadapi ujian. Sebisa mungkin aku tidak ingin mengganggumu. Aku tidak ingin memberitahu, jika aku memberitahumu...kau pasti ingin segera pulang dan meninggalkan ujian terakhirmu.


Satu hal yang perlu kau tahu, aku tidak akan pernah membencimu ataupun menyakitimu. Aku benar-benar menyayangimu. Walaupun aku pergi, kau masih bisa menghubungiku. Ini salah satu cara yang aku lakukan sebagai bentuk rasa sayangku kepadamu. Selalu ada saat kau membutuhkanku.


^^^Sasha^^^


Aku melipat kertas itu dan meletakkannya di atas meja belajar Nathe. Dari yang aku dengar, mereka akan pulang hari ini. Oleh karena itu aku buru-buru pergi dari rumah sembari menarik koper yang berisi beberapa set pakaian.


"Bibi Zoe, aku pergi sekarang. Tolong jaga Nathe baik-baik."


"Tentu, Nona. Aku akan menjaganya dan menyayanginya dengan segenap hatiku."


***


Aku pikir Kenneth akan mengadakannya di rumahnya sendiri, ternyata malah di villa. Tempat dimana pertama kali Kenneth membawaku.


Jika dilihat-lihat, sepertinya sedikit tamu yang diundang, atau aku yang datang terlalu cepat? Tidak, aku datang sedikit terlambat, tidak mungkin masih ada tamu yang belum datang.


"Sasha?!"


Aku mencari sumber suara yang memanggilku. Terlihat Caroline yang melambaikan tangannya menyuruhku untuk menghampirinya.


"Kau ini sudah hampir terlambat," katanya.


"Ada hal yang perlu diurus sebentar."


Caroline mengangguk sekilas. Kemudian acara segera di mulai. Aku melihat Kenneth yang sudah berdiri di atas altar dengan penampilan yang begitu menawan. Tanpa sadar air mataku menetes ketika Kenneth menoleh ke arahku.


Dia tampaknya tersenyum tipis ke arahku, tapi aku langsung memalingkan wajah. Rasanya sangat sakit, sakit sekali. Jessy sudah berdiri di samping ayahnya dengan tangan yang bergandengan. Sekuat mungkin aku menahan sakit yang semakin menjadi di dalam hati.


Ting!


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Jantungku serasa berhenti berdetak. Paman kedua mengirimkan foto Nathe yang tengah di sandera. Dugaanku benar bahwa paman kedua hanya ingin memancingku untuk datang ke markas The Angel.


Aku berdiri dan segera pergi dari sana, tapi Caroline menahan pergelangan tanganku seraya berkata, "Kau mau kemana? Acaranya baru dimulai."


"Maafkan aku, kali ini benar-benar urusan yang sangat penting!"


Aku segera berlari meninggalkan acara. Aku harus pergi ke New York menyelamatkan Nathe. Jarak dari Perancis menuju New York sangatlah lama, yaitu sekitar 8 jam dan aku tidak bisa menahannya.


Aku memilih menaiki jet pribadi yang akan langsung berangkat ke New York. Selama perjalanan, aku terus berdoa untuk keselamatan Nathe. Dia tidak boleh terluka, biarkan aku yang menanggung masalah ini.


Setelah menempuh perjalanan panjang aku tiba di New York. Aku menaiki taksi menuju jalan utama ke markas The Angel karena setelah itu aku harus berlari. Tanpa menghiraukan kaki telanjang aku berlari sekuat tenang, high heels sudah ku buang entah dimana.


Napasku tersengal-sengal ketika berhenti di depan bangunan besar dan terlihat tua. Sebuah pintu gerbang yang besar dan menjulang tinggi terbuat dari besi. Aku mendorongnya hingga terbuka dan di pintu gerbang kedua, aku menunjukkan identitas disebuah tanganku yang terdapat tato dengan inisial AF, dan di pintu gerbang ketiga aku mengetes sidik jari, lalu gerbang terbuka otomatis.


Suasana yang sepi menjadi sambutan bagiku karena pastinya akan ada penyambutan yang besar di dalam sana.


Brak! Bugh!


Begitu aku mendobrak pintu, seseorang memukul tengku leherku hingga membuatku tak sadarkan diri. Begitu aku membuka mata, kedua tangan dan kakiku sudah dirantai. Bagaimana bisa aku seceroboh ini dalam bertindak. Seharusnya aku datang untuk menolong Nathe, malah aku yang terjebak di sini.


Prok prok prok


"Keponakanku, akhirnya aku berhasil menangkapmu. Penantianku sudah berakhir, hidupmu hanya ada di tanganku. Gara-gara pacar sial*nmu itu Liolyn harus mati. Sebagai gantinya, aku akan membalasmu dengan hal yang lebih menyakitkan."


...________________________...


Awalnya aku berniat untuk menyelesaikan sekaligus. tapi ternyata aku gak sanggup karena benar-benar waktunya sedikit. Insha Allah Minggu ini akan tamat. makanya jangan lupa berikan like dan komennya kawan😉