
Baru saja aku sampai di rumah, seseorang menelponku. Ternyata Kenneth, entah darimana dia bisa mengetahui nomor ponselku. Yang jelas aku tidak pernah menyimpannya. Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Dia memintaku untuk menemaninya membeli kebutuhan Sean karena tidak mengerti.
"Kau bisa menjemputku sore ini," ujarku langsung memutuskan sambungan telpon. Aku mencari keberadaan bibi Zoe untuk menanyakan keadaan ibu. Untungnya hari ini ibu sudah boleh pulang, jadi aku tidak begitu mencemaskannya.
Aku langsung pergi untuk mandi, badan terasa lengket setelah beraktivitas. Ponselku kembali berdering, ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dan semuanya dari Kenneth. Ada apa lagi dengan orang ini, selalu saja mengganggu.
"Apa kau tahu apa yang harus aku lakukan? Sean terus menangis," kata Kenneth. Terdengar suara Sean yang nyaring, aku membuang nafas lelah sembari berkata, "aku akan segera kesana."
Orang itu tidak bisa diandalkan sama sekali. Rasanya ingin mengulang sebelum pergi ke acara pesta malam itu. Aku berpamitan pada bibi Zoe akan keluar. Sebelum pergi dari rumah, aku menyempatkan diri untuk menjenguk ibu di kamar.
"Siapa itu?" tanya ibu saat aku membuka pintu. Aku kira ibu masih tidur, sebaiknya aku menghadapinya. Aku mendekat ke arahnya dan berkata, "ibu, aku akan pergi keluar. Aku ingin berpamitan."
Seperti feeling, ibu langsung marah padaku dan mengusirku. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, aku ingin berkata bahwa aku menyayanginya. Ternyata balasan yang ibu berikan sangat membuatku sakit hati. Dia tidak menyayangiku, aku berlutut sembari menangis. Ibu langsung mengambil pisau yang berada di nakas dan berkata, "aku akan bunuh diri jika kau muncul lagi dihadapanku!"
Aku memegang pisau itu yang akan membunuh ibu sendiri, mengabaikan luka ditelapak tangan yang kini mengeluarkan darah. Aku membuang pisau itu secara paksa.
"Baiklah aku tidak akan muncul lagi di hadapanmu. Tapi, aku mohon jangan lakukan hal ini..." ucapku lirih. Aku langsung keluar dari kamar dan menyuruh bibi Zoe untuk menghampiri ibu. Aku langsung pergi menuju villa Kenneth. Sebelum keluar dari mobil, aku memoleskan make-up pada wajah agar terlihat lebih segar. Aku meringis saat luka di tanganku semakin parah.
Aku memencet bel dan tak lama kemudian Kenneth membuka pintu diiringi tangisan Sean. Apakah makhluk kecil ini tidak berhenti menangis selama ini? Sungguh kasihan. Kenneth langsung menyerahkan Sean kepadaku. Aku bingung bagaimana harus menggendongnya. Telapak tanganku sulit untuk memegang. Aku mengambil alih Sean dengan lengan atas. Untungnya yang terluka adalah tangan kiri jadi tidak begitu merepotkan.
Kenneth menatapku aneh karena menggendong Sean dengan cara yang berbeda. "Mungkin Sean lapar, apa kau belum memberinya makan?" tanyaku pada Kenneth yang masih memandangiku.
"Apa dia bisa makan daging? Sepertinya ada di dalam kulkas," kata Kenneth membuatku menatapnya aneh sembari menjawab,"kau kira dia anjing bulldog."
"Bukankah ibunya sudah memberikan sekotak susu? Buatkan susu untuknya," ujarku saat melewati Kenneth. Aku menghentikan langkah dan berdecak kesal saat Kenneth mengatakan bahwa ia tidak bisa membuat susu. Aku langsung memandunya di dapur, eh? Bahkan aku tidak sadar sejak kapan Sean berhenti menangis?
Selesai membuat susu, aku mengarahkannya pada mulut Sean. Kenneth merasa ada bau sesuatu yang sedikit mengganggu. Dia menatap ke arah tanganku yang meneteskan darah. Aku yakin matanya terbelalak, Kenneth langsung mengambil kotak obat.
Saat sedang membersihkan luka, Kenneth dengan sengaja menyenggol tanganku. "Apa yang kau lakukan?!" seruku pada Kenneth yang menatapku dengan pandangan datar. Ingin rasanya aku mencabik wajahnya.
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan babysitter?" tanyaku sembari membereskan perlengkapan medis. Kenneth bermain dengan Sean yang sepertinya menyukai Kenneth. "Mungkin tidak ada," jawab Kenneth dengan santainya.
Kenneth yang memintaku kemari untuk pergi membeli kebutuhan Sean. Tapi, aku tidak yakin jika di luar akan aman. Mungkin tidak masalah bagiku, tapi bagaimana dengan Kenneth yang sering terekspos publik? Membayangkannya saja aku muak.
Tepat saat itu pintu terbuka, Hayden datang dengan papperbag di tangannya. Nafasnya tersenggal-senggal seperti melakukan sesuatu yang berat. Dia meletakkan sepuluh papperbag dengan kasar di atas meja.
"Kau harus membayarku dua kali lipat!" ujar Hayden pada Kenneth. Berarti hari ini mereka tidak akan keluar, kan? Aku bersedekap menatap Hayden. Mengamati dari atas sampai bawah. Hayden yang merasa diperhatikan langsung menoleh ke arahku.
"Eh? bukankah kau orang yang tadi pagi ke Anderson Group?" tanya Hayden menunjuk ke arahku. Aku menatapnya jengah, memilih untuk melihat isi dari papperbag. Hayden bingung harus melakukan apa, aku yang sibuk melihat papperbag dan Kenneth yang bersama Sean. Mata Hayden berbinar saat melihat Sean yang tertawa. Begitupun dengan Kenneth yang terkekeh. Hayden tahu bahwa Kenneth menyukai anak kecil, tidak heran jika ekspresi Kenneth lebih ceria saat bersama anak kecil.
"Hayden! apa kau yakin membelikan baju sebesar ini untuk Sean?" tanyaku sembari menujukkan baju yang mungkin dipakai untuk anak usia 5 tahun. Hayden menatapku bengong, dia tidak tahu berapa usia Sean. Kenneth menatap tajam ke arah Hayden yang kini memasang tampang memelasnya.
Aku melihat jam yang ada di dinding, sudah sore dan ingat bahwa aku melewati makan siang. Bahkan aku tidak membawa obat yang biasa aku minum. Aku memesan makanan daripada harus keluar dan memasak. Bel rumah berbunyi, aku segera pergi membuka pintu.
"Siapa yang memesan makanan? bukankah makan siang sudah lewat?" tanya Hayden. Aku meliriknya sekilas, melewati mereka begitu saja. Aku harus makan, memangnya apa salahnya jika makan bukan diwaktu makan?
Hayden yang merasa dirinya selalu diabaikan memilih untuk pulang. Sean dan Kenneth terlelap di sofa ruang tamu. Hari sudah petang, Aku harus mencari tahu masalah dirumah. Aku menulis sebuah note dan meletakkannya di atas meja.
Baru saja memasuki mobil, ponselku berdering. Thian menelponku dan memberitahu bahwa di New York ada sedikit masalah. Ia memintaku untuk ke rumahnya sekarang juga. Aku merasa sangat lelah hari ini, kepalaku sedikit sakit. Lebih baik aku kembali ke rumah lebih dulu meminum obat.
Rumah Thian berada di St. Germain, jadi tidak begitu jauh dari tempat tinggalku. Sedikit kisah, St. Germain merupakan bagian dari arrondissement ke-6 kota Paris. Ditahun 1950-an, restoran dan bar di St. Germain rutin diwarnai musik jazz. Sekarang, kawasan ini dipenuhi energi muda dengan jalanan yang dipenuhi pelajar, toko buku, toko-toko desain, gereja, galeri, restoran, toko suvenir, museum, dan masih banyak lagi.