
Setelah beberapa menit menunggu perdebatan, akhirnya selesai. Wanita itu pergi dengan tampang kesalnya menatap ke arahku. Aku mengangkat bahu acuh, aku tidak terlibat apapun di sini.
Aku mendekati Kenneth, meletakkan kedua tanganku di meja. Aku manatap Kenneth dengan tajam seraya berkata, "Tidak bisakah kau berhenti mengusikku?"
Kenneth berdiri, melawan tatapanku. Dia tersenyum miring, saat itu juga aku ingin merobek mulutnya. Dia menyuruhku untuk duduk di samping meja kerjanya. Di sana memang ada meja dan juga kursi, aku kira itu untuk asistennya.
"Maksudmu?"
"Ingat saat kau menggigitku, lalu aku berkata tidak akan melepasmu? Ini yang aku maksud. Mulai sekarang, kau melakukan pekerjaan di Anderson group. Aku sudah membawa seluruh berkas yang perlu kau tanda tangani."
"Apa kau kira aku ini peliharaanmu?! Aku tidak mau mengikuti perkataanmu!"
"Ingat! Gelangmu masih ada padaku."
Aku mengepalkan kedua tanganku, ingin sekali rasanya menghabisi orang di hadapanku ini. Aku langsung berjalan menuju meja di samping Kenneth. Aku paling tidak suka di ganggu saat bekerja.
"Aku harap setelah ini matamu juling."
"Heuh... Mengapa ada spesies sepertimu?" Aku membanting pena dan menatap Kenneth. Pria ini tidak akan pernah berhenti menggangguku. Aku langsung berdiri, tapi pandanganku menghitam. Aku langsung memejamkan mata sembari memegang kening.
Kenneth yang sepertinya khawatir langsung menghampiriku, menopang tubuhku yang hampir terjatuh. Setelah penglihatanku kembali normal, aku langsung menghempaskan lengan Kenneth.
"Apa urusannya denganmu?"
Aku lupa belum meminum obat, aku langsung berjalan meninggalkan ruangan Kenneth. Tapi, sebelum itu aku berkata, "Terima kasih mobilnya, aku akan mengembalikan ke villa."
Siang ini aku harus mengadakan rapat, semoga saja acara itu bisa lancar. Kenneth terus memanggilku, membuat beberapa orang yang berada di lobby langsung menatap ke arah kami.
"Hentikan! Jangan memanggilku lagi. Aku ada rapat siang ini. Jangan menggangguku!"
Sepertinya Kenneth tidak mengejarku lagi. Namun, tiba-tiba saja tubuhku menubruk dada bidang seseorang. Tidak! Dokumen ini akan rusak jika terus seperti ini. Aku mendorong orang itu dan menatapnya nyalang.
"Kau–" ucapanku terpotong saat Kenneth langsung menciumku. Dia menatapku, aku langsung pergi begitu saja. Hal memalukan ini tidak akan aku lupakan untuk memasukannya pada catatan hitam.
Memulai rapat setelah merasa kondisi membaik. Aku berbicara dengan penuh wibawa. Seluruh anggota yang berada di ruangan mendengarkan penjelasanku. Tidak ada satupun yang mengabaikan. Satu minggu lagi, aku akan pergi ke Amsterdam.
Proyek akan mulai dikerjakan, aku harus meninggalkan ibuku. Vava memberitahu jadwalku besok. Aku memijit pelipis, memikirkan kejadian yang dialami selama ini.
Ponselku berdering, ternyata panggilan dari bibi Zoe. Aku mengangkatnya, seketika mataku terbelalak mendengar perkataan bibi Zoe. Air mataku menetes, membasahi pipi. Ini bukanlah sesuatu yang aku harapkan.
Aku bergegas pergi ke rumah sakit. Ku buka pintu ruangan ibuku. Kaki ku lemas melihat seluruh tubuh ibu yang sudah ditutup kain. Ku peluk erat ibu seraya meneriaki namanya. Ini tidak mungkin, bagaimana bisa aku hidup tanpa ibu. Bibi Zoe mengusap bahuku.
"Ibu! Kau bercanda, tolong bangun. Lihat Sasha, Bu. Marahi Sasha. Apa yang terjadi?! Mengapa bisa seperti ini?! Katakan padaku." Aku menggertak dokter karena emosi. Bibi Zoe menahan tubuhku yang tidak bisa terkontrol.
"Maaf, Nona. Tapi siapapun yang terkena racun amatoksin tidak bisa lepas dari kematian. Tidak ada sesuatu yang bisa mengobatinya." Tubuhku terjatuh ke lantai. Rasanya duniaku hancur berkeping-keping. Apa yang harus aku katakan pada adikku? Aku tidak bisa melawan takdir.
Aku langsung pergi begitu acara pemakaman selesai. Aku berjalan tak tahu tujuan. Ponselku tertinggal di rumah. Aku berhenti di jembatan Pont neuf, memandangi sungai Seine. Ini yang kedua kalinya aku pergi ke sungai Seine. Pertama setelah 3 hari kematian ayahku, dan kedua setelah kematian ibuku. Ku rentangkan tangan, menghirup udara dan menikmati sepoi angin. Biarkan sungai ini menjadi saksi kesedihanku.
Detik berganti menit, menit berganti jam. Sudah 4 jam aku berada di sini. Berdiri tanpa makan maupun minum. Penglihatanku mulai memburam, samar-samar aku mendengar suara yang memanggil namaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.
Aku mengerjapkan mata saat cahaya memasuki mata. Dinding putih dengan khas aroma obat yang aku yakini ini adalah rumah sakit. Terdapat infus di tangan kiriku. Tapi, tidak ada siapapun di sini. Aku menghembuskan nafas menatap langit ruangan. Hidupku memang selalu sendiri.
Pintu ruangan terbuka, Kenneth datang bersama Sean yang ada di gendongannya. Aku menatapnya tanpa ekspresi. Rasanya tidak ada yang mampu membuatku kembali hidup.
"Bagaimana keadaanmu? Apa perlu aku memanggil dokter?" Aku menggeleng, memalingkan muka ke arah berlawanan dari Kenneth berdiri. Kenneth menggenggam tanganku.
"Maafkan aku yang tidak cepat menemukanmu." Aku tidak menanggapi. Tidak ada yang salah, itu keinginanku sendiri untuk pergi. Sean yang merasa diabaikan mulai menangis.
"Lihat, bagaimana sedihnya Sean saat melihatmu seperti ini? Tidakkah kau berfikir, ada seseorang yang merindukan senyummu?" Kini aku menatap Kenneth, beralih menatap Sean yang mulai menangis. Aku menyentuh tangan Sean dengan senyuman tipis. Sean terus mencondongkan tubuhnya, berusaha menggapaiku.
Aku berusaha duduk dan meminta Kenneth untuk menyerahkan Sean. Perlahan Kenneth meletakkan Sean di pangkuanku. Beginikah rasanya menjadi seorang ibu? Rasanya sangat menyenangkan. Tapi, apakah ibuku berfikiran sama sepertiku? Mungkin saja, sebelum ayah tiada.
Pintu terbuka, tampak pengurus Rose yang membawa sebuah kantong. Kenneth mengambil alih kantong itu, mengeluarkan sekotak sup bawang. Kenneth mempersilakan pengurus Rose setelah mengantar makanan.
"Biar aku sendiri." Aku mencegah Kenneth yang akan menyuapiku. Kenneth menyuruhku membuka mulut. Terpaksa aku membiarkan Kenneth menyuapiku. Lagipula ada Sean yang berada di pangkuanku.
Di usia Sean saat ini, pasti mulai banyak tingkah. Sean tidak mau diam saat berada di pangkuan. Kenneth langsung mengambil Sean dan menyerahkan sup bawang padaku.
"Makanlah, Sean akan membuatmu terganggu." Kenneth duduk di sofa, bercanda ria dengan Sean. Melihat Kenneth dan Sean yang tertawa membuatku ikut tersenyum.
"Permisi, biar saya periksa Nyonya lebih dulu," ujar dokter yang masuk. Untungnya aku sudah selesai makan. Tunggu, dokter memanggilku nyonya? Apakah dia berfikir bahwa aku adalah ..., tidak dokter itu hanya mengira.
"Kau baru bisa keluar besok, masih butuh tahap pemulihan. Apalagi darahmu yang masih rendah."
"Terima kasih." Setelah dokter itu pergi, aku menatap Kenneth yang tidak peduli sama sekali.
"Apa kau yang membawaku?" Ugh! Kenapa jadi itu yang aku tanyakan? Padahal aku ingin bertanya mengapa dokter itu memanggilku nyonya. Kenneth mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Kau bisa mengartikannya," jawab Kenneth terkekeh.
____________________________________
NOTE:
Soupe a l'oignon alias sup bawang adalah makanan Perancis yang terbuat dari bawang dan kaldu sapi. Biasanya disajikan dengan crouton dan keju di atasnya. Masakan ini ada sejak zaman Romawi yaitu abad ke-18. Namun, mulai dikenal secara internasional sejak sekitar 1960-an.
Gambar jembatan pont neuf