
Author's POV
"Kau puas? Ken langsung mematikan ponselnya. Sebentar lagi dia akan sampai di Villa." Hayden mendengus ke arahku.
Oke, posisi duduk ku bisa dibilang tidak aman, bergeser sedikit bisa saja terjatuh. Hayden berdiri di hadapanku dengan jarak 3 meter, itupun aku yang menyuruhnya.
Well, sebenarnya mana berani aku melompat dari lantai 2. Masih banyak hal yang perlu aku tangani, aku tidak ingin mati meninggalkan masalah yang sudah menumpuk.
Aku langsung turun ketika Hayden membalikkan badannya. Huh! Pada akhirnya aku hanya berakting supaya Kenneth pulang lebih awal dan membawaku ke Amsterdam. Tepat saat itu juga Kenneth berada di dalam kamar.
"Mengapa kau masih berada di sini?" tanya Kenneth.
Aku mencari keberadaan Hayden yang sepertinya sudah keluar kamar. Aku berjalan mendekatinya dengan langkah sedikit pincang.
"Tidak jadi."
"Aku sungguh kecewa, aku pikir kau dengan senang hati mati di Villa ku." Bugh! Aku menonjok perutnya hingga Kenneth meringis. Enak saja dia berkata seperti itu padaku. Jika bukan karena gelang ku ada padanya, aku tidak mungkin bertemu dengannya.
"Kau berani memukulku?!...," desis Kenneth.
"Aw!"
"Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?"
Cih! Dasar pria, aku yakin Kenneth tidak akan balik memukulku. Buktinya, aku pura-pura kesakitan saja dia langsung mencemaskan ku. Aku duduk di bibir ranjang. Menatap Kenneth dengan pandangan sedatar papan triplek.
"Aku akan pergi ke Amsterdam, kau tidak bisa menghentikan ku!"
"Terserah kau saja."
"Kau tidak bercanda?"
"Apa mukaku terlihat bodoh sepertimu?"
Seketika aku langsung menendang tulang kakinya. Tidak pernah terlihat sisi tulus pada diri Kenneth. Aku menyilangkan tangan di depan dada seraya memalingkan muka.
Kenneth terkekeh, menarik daguku sembari menatap dengan pandangan sendu. Terlihat jelas kecemasan dalam netra mata abu-abunya. Wajah Kenneth semakin mendekat, aku hanya diam saja tanpa mau mendorongnya entah karena apa.
Sebuah kecupan singkat mendarat pada keningku. Aku terpaku pada posisiku, pikiranku berkelana. Kenneth menjentikkan jarinya yang membuatku tersadar.
"Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Jaga dirimu baik-baik sama saja dengan menjaga orang lain."
Kenneth memelukku, meletakkan dagunya pada puncak kepala. Mataku bergerak kesana dan kemari, mencerna omongan Kenneth.
"Apa maksudnya?"
"Aku sangat menyayangimu, jika kau menjaga dirimu baik-baik maka aku akan baik-baik saja. Justru sebaliknya, jika kau menyakiti dirimu sama halnya seperti kau yang menyakiti diriku."
Aku mendorong pelan tubuh Kenneth ketika seseorang tiba-tiba masuk tanpa permisi. Aku menatap jengah wanita yang kini berdiri dengan wajah memendam emosi.
"Sasha! Kau benar-benar wanita murahan. Kau tidak melihat posisimu yang sebenarnya! Ken adalah tunangan ku!"
Jika kalian berpikir bahwa wanita itu adalah Jessy, maka kalian tepat. Sampai kapanpun Jessy tidak akan pernah berhenti mengusikku. Itu juga karena Kenneth.
"Siapa yang menyuruhmu kemari? Dimana para penjaga Villa?" Kenneth berbicara dengan suara yang datar. Ada perasaan sedikit senang dalam hatiku mengingat perlakuan Kenneth berbanding terbalik pada Jessy.
"Ke—ken. Paman berada di rumah sakit, kondisinya tiba-tiba drop." Jessy langsung mengubah mimik wajahnya seperti membalikkan telapak tangan. Ingin rasanya aku rusak wajahnya.
"Aku akan pergi ke rumah sakit. Jaga dirimu baik-baik," ucap Kenneth. Sebelum pergi, dia sempat mengecup sekilas keningku. Puas rasanya melihat wajah Jessy yang semerah tomat. Aku tersenyum miring menatap Jessy.
"Jangan sombong! Kau tidak akan bisa tersenyum setelah ini!"
Aku meraih ponselku dan mengangkat panggilan Thian. Semoga saja masalah paman kedua dengan Liolyn bisa ditemukan.
"Sasha, kapan kau ada waktu luang? Aku tidak mungkin berbicara melalui telpon."
"Besok aku pergi ke Amsterdam. Mungkin setelah pulang dari sana."
"Baiklah aku mengerti."
Terdengar suara tawa seorang bayi ketika aku memegang handle pintu. Jika aku masuk, apakah suara itu akan berhenti?
Aku membalikkan badan, bersiap-siap untuk pergi sebelum pintu terbuka dan seseorang memanggil namaku.
"Nona, ada yang bisa aku bantu?" tanya babysitter.
"Tidak ada, aku hanya ingin melihat Sean. Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Tuan Sean sedang bermain mobil-mobilan. Aku akan pergi ke dapur untuk mengambil biskuitnya."
Aku mengangguk dan melangkahkan kaki mendekati Sean yang kini menyadari kehadiranku. Sean menatapku dengan pandangan polosnya seraya mengangkat kedua lengannya, memberi isyrat padaku untuk menggendongnya.
Aku duduk di sampingnya, entah jika menggendong sakitnya terasa atau tidak, aku akan mencoba untuk memangkunya. Sean yang tidak bisa diam terus bergerak dalam pangkuanku.
"No—nona?!"
Aku menoleh menatap babysitter yang membawa sekotak biskuit baby. Aku tersenyum samar, mungkin dia terlalu terkejut melihatku yang bisa memangku Sean.
"Tidak apa-apa."
Babysitter itu mengangguk, menyerahkan sepotong biskuit pada Sean. Aku tersenyum melihat Sean yang tengah memakan biskuit. Tanpa sadar, ternyata Sean sudah mengambil hatiku.
Merasa ada yang memperhatikan, aku menoleh ke arah babysitter yang melihatku seraya tersenyum. Babysitter itu langsung gelagapan ketika aku menoleh.
"Ada apa?" tanyaku.
Babysitter itu menggeleng seraya menundukkan kepalanya. Aku terkekeh melihat wajah yang pucat pasi itu, tapi juga tidak tega.
"Siapa namamu?" tanyaku.
"Flona, Nona."
"Flo? Baiklah, apa kau takut denganku?" Flona hanya menundukkan kepala tanpa menjawab pertanyaanku. Hais, mukaku itu tidak begitu jahat, dibandingkan dengan Jessy yang memiliki wajah ganas.
"Kau terlihat masih muda. Jangan terlalu sungkan denganku."
"Baik, Nona."
"Ngomong-ngomong, kau bisa membawaku keluar? Setidaknya untuk mencari udara segar."
Flona mengangguk, aku menggendong Sean berjalan mengikutinya. Aku ingin membawa Sean berjalan-jalan, walaupun tidak keluar Villa setidaknya bisa berkeliling.
Baru saja membuka pintu, beberapa bodyguard berdiri di depan pintu yang sepertinya tengah berjaga. Padahal, sewaktu aku datang kemari belum banyak orang dan penjaga.
"Banyak sekali penjaga...," gumamku.
"Tuan Kenneth yang menyuruh mereka menjaga Nona."
Tuan besar Anderson itu memang bisa melakukan apa yang dia mau. Aku berkeliling Villa mencari tempat yang mungkin saja ada suasana yang baru.
Ditemani oleh Flona dan dua bodyguard yang berjalan mengikuti kami.
Sean yang mulai mengoceh menjadi pengiring berjalan-jalan. Kami bermain bersama Sean ketika berada di sebuah taman. Tentunya dua bodyguard yang menunggu kami dari jarak yang cukup jauh.
"Sean tidak seperti biasanya ketika bersamaku."
Aku menoleh ke arah Flona yang asik memandangi Sean. Sepertinya dimana-mana, anak pasti akan lebih akrab dengan ibunya.
"Kau menyukai Sean?" tanyaku.
"Tuan Sean begitu tampan dan lucu. Siapapun yang melihatnya pasti akan menyukainya. Aku sangat bersyukur karena Sean bisa bertemu dengan Nona."
"Apa Jessy tidak mengetahui keberadaan Sean?"
"Nona Jessy belum mengetahui keberadaan Sean. Entah bagaimana jika melihat Sean."