The Diamond

The Diamond
Kebencian



Sasha's POV 


Hari adalah waktu dimana aku harus menjemput Nathe di bandara. Hatiku begitu cemas memikirkan reaksi yang akan Nathe berikan. Aku menunggunya sembari duduk di sebuah bangku. Ramai orang-orang membuatku harus ekstra jeli menemukan Nathe.


Ddrrtt ddrrtt


"Hallo?"


"Siang ini perusahaan Oxon ingin bertemu denganmu secara langsung mengingat kau dengan sengaja menyobek perjanjian kontrak."


"Aku tahu, perusahaan aku serahkan padamu."


Aku melirik jam yang menunjukkan pukul 10.00 am. Kepalaku menoleh ke sekitar mencari keberadaan Nathe. Tiba-tiba saja seseorang menutup mataku dengan tangan. Aku langsung menyikut orang itu karena terkejut.


"Aw! Kakak! kenapa kau begitu kejam?"


Suara yang terasa familiar itu membuatku menoleh dan menutup mulut karena tidak mengira bahwa orang itu adalah Nathe. Tanpa berkata-kata lagi, Aku memeluk tubuhnya dengan erat. Nathe yang tidak pernah aku temui selama beberapa tahun terakhir, kini berdiri tegak di depanku.


"Kakak, aku sudah besar. Kau tidak mungkin mendekapku seperti anak kecil lagi."


"Aku tahu." Aku tersenyum tipis saat mendengar perkatannya. Raut wajah Nathe tampak murung saat melihat ke sekitarku. Aku tahu apa yang dia cari.


"Aku akan mengantarmu." Aku berucap sembari menarik tangannya. Nathe tampak tidak curiga dengan sikapku. Aku sudah memantapkan hati untuk memberitahunya karena cepat atau lambat Nathe akan mengetahuinya.


"Bagaimana kabar ibu?" tanya Nathe.


"...Dia baik-baik saja." Aku menjawab dengan suara lirih. Aku yakin ibu akan baik-baik saja di sana. 


"Apa aku mempunyai kakak ipar?" Seketika aku menoleh saat mendengar perkataan Nathe. Pernyataan yang bahkan membuat aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa.


"Apa yang kau bicarakan?" kataku.


"Oh ayolah, seharusnya kau sudah memiliki calon. Apa tidak ada pria yang menyukaimu?" Aku hanya mengangkat bahu dengan acuh. Tiba-tiba saja aku teringat dengan Kenneth, sekarang juga waktu dimana dia akan mengantar Sean.


Aku sengaja mengarahkan mobil pada jalan dimana dia bertemu dengan Kenneth. Walaupun aku tidak tahu persis dimana Kennteh menemukan Sean, aku akan menyusuri jalan dimana terdapat minimarket.


Mobilku melaju dengan lambat saat melihat kerumunan orang yang berada di depan minimarket. Aku sempat melihat mobil Kenneth yang baru saja berhenti.


"Apa ada pertunjukan gratis?" tanya Nathe.


"Kau tetap di sini!" Aku segera keluar dari mobil menghampiri kerumunan itu.


"Persimi, apa terjadi sesuatu?" tanyaku pada salah seorang di sana.


"Ada pemubuhan, seorang suami yang dengan teganya membunuh istrinya di depan umum." Mataku terbelalak saat melihat seorang wanita paruh baya yang sudah tidak bernapas dengan sebuah pisau yang menancap.


Sesuatu yang membuatku terpaku adalah kalung yang dikenakan ibu Sean. Aku mengambil kalung itu bersamaan dengan Kenneth yang baru bisa memasuki kerumunan. Aku yakin Kenneth pun sama terkejutnya denganku.


"Apa yang terjadi?" Kenneth bukan bertanya padaku, tapi orang di sebelahnya. Aku berdiri dan langsung pergi dari kerumunan itu. Berlama-lama melihat Kenneth membuatku teringat dengan kejadian terakhir kali mereka bertemu.


"Apa yang terjadi?" tanya Nathe.


"Bukan apa-apa." Aku langsung masuk ke dalam mobil dengan ekspresi yang mungkin saja membuat Nathe bertanya-tanya.


"Kau semakin tertutup denganku."


"Itu tidak ada hubungannya denganku, bukan masalah."


"Aku tahu, ayo pulang. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan ibu."


Selama perjalanan ke rumah, pikiranku melayang-layang memikirkan kejadian tadi. Aku tidak tahu bagaimana kondisi Sean setelah ini. Perasaanku bercampur aduk sehingga fokusku teralihkan.


"Kakak awas!"


ciitt!


Aku yang terkejut mendengar Nathe berseru lantas menginjak rem mendadak. Akibat pikiran yang tidak fokus membuatku hampir saja melayangkan nyawa seseorang.


"Kakak, apa yang kau pikirkan? aku akan menggantikanmu menyetir." Nathe yang sudah bersiap untuk keluar langsung berhenti saat aku menahan lengannya.


"Aku baik-baik saja...Maaf."


Aku melanjutkan perjalanan mnuju rumah. Sampai di sana, Bibi Zoe dan para pelayan yang lain tampak menyambut kami. Nathe merasa heran melihat pelayan yang begitu banyak, aku hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.


"Dimana ibu?" tanyanya. Lagi-lagi aku tidak menjawab, melainkan membawanya ke kamar ibuku. Kamar yang tidak pernah dimasuki siapapun kecuali aku setelah kepergian ibu.


"Ibu?" panggil Nathe. Aku menutup pintu dengan menatap Nathe sendu.


"Kakak, apa ibu tidak ada di rumah?" 


Tepat setelah Nathe menyelesaikan perkataanya, aku langsung bersimpuh dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maafkan aku. Ibu sudah pergi...," lirihku.


Nathe tampak mundur beberapa langkah, aku mendongakkan kepala untuk melihat reaksinya.


"Apa yang kau bicarakan? kemana ibu pergi?!" bentak Nathe yang membuatku terkejut. 


"Satu bulan yang lalu, ibu meminum racun sehingga tidak bisa di selamatkan."


"Apa kau gila?! bagaimana bisa kau tidak memberitahuku?! selama ini kau berbohong padaku, mengatakan bahwa ibu baik-baik saja. Apa kau pantas di sebut sebagai kakak?"


Aku menatap Nathe dengan mata terbelalak. Nathe tidak pernah berani mengatakan hal seperti ini padaku. Sebenarnya apa yang membuat Nathe menjadi begitu bertolak belakang? jika faktor usia, itu tidak mungkin karena Nathe selalu sama seperti dulu.


Tanpa berkata apa-apa lagi Nathe langsung pergi begitu saja. Air mataku semakin deras, hal ini yang sangat aku takutkan, melihat Nathe yang begitu membenciku. Aku pikir pertemuan dengan Nathe mampu membuatku semangat. Tapi...


Ddrrtt ddrrtt


"Sasha, kau dimana? tuan Sanders ingin bertemu denganmu di La Famiglia di Rebellato siang ini."


"Aku akan datang."


Aku kembali ke kamar untuk merapikan diri. Tidak boleh tampak sedih oleh orang luar. Aku segera mencari keberadaan bibi Zoe.


"Bibi, apa kau tahu kemana Nathe pergi?" tanyaku.


"Aku tidak tahu, yang jelas tuan Nathe pergi tanpa kendaraan."


Aku hanya mengangguk dan pergi begitu saja. Mungkin aku akan menemukan Nathe saat di jalan. Sebenarnya aku benar-benar khawatir melihat Nathe yang seperti itu. Baiklah, aku akan mengesampingkan masalah pribadi.



Sampai di tempat tujuan, aku mencari keberadaan tuan Sanders. Baru saja memasuki restoran, penglihatanku tertuju pada seorang pria yang tengah makan bersama keluarga. Aku sempat memandanginya untuk beberapa saat, tapi aku langsung menoleh saat orang itu menolehkan kepalanya.


"Selamat siang, Nona Felister."


"Selamat siang, langsung pada intinya."


"Ha ha ha, benar-benar wanita dingin. Baiklah, mengapa kau melanggar kontrak?"


"Kau yang meminta persetujuan dariku, berarti aku berhak untuk menolak ataupun membatalkannya!"


"Kau sudah menandatanginya, kau harus tetap melanjutkan kerja sama." Tuan Sanders menatap genit ke arahku. Kesalahan terbesarku adalah tidak bertemu langsung dengannya untuk melihat lebih rinci.


"Melanjutkan kerja sama dengan perusahaan sepertimu? bahkan kau sendiri bukan pemegang saham terbesar."


"Jaga bicaramu! jika kau berani macam-macam denganku, kau akan menerima akibatnya." Tuan Sanders menekan perkatannya memberi ancaman bagiku. Aku sempat melirik ke arah pria yang tak jauh dariku. Benda yang tajam seolah-olah menusuk jantungku.


Grep!


Aku tersadar saat Tuan Sanders sudah memegang lenganku dengan erat. Aku berusaha melepaskan cengkraman tangan itu. Semakin meronta, justru malah semakin kencang.


Brak!


Seorang pelayan tiba-tiba saja sedikit membanting nampannya dan menyerahkan gulungan kertas padaku.


___________________________________________________


Jangan lupa untuk Like, Komen, and Vote. Terima kasih bagi yang sudah berkenan😉