The Diamond

The Diamond
Sabotase



Aku segera menuju padang rumput Alpine setelah mendapat telpon dari paman tua. Padang rumput Alpine merupakan tempat yang banyak di kunjungi orang. Biar pun begitu, aku akan mencari posisi yang sekiranya aman.


Ku lihat paman tua sudah berdiri di samping mobil bersama Thian. Aku kira Thian tidak akan pergi, melihat gayanya yang tidak pernah serius. Aku menyapa paman tua dan Thian.


Paman tua menyerahkan pistol Glock 20. Glock 20 mampu memuat 15 peluru 10 mm yang masing-masingnya mampu dilontarkan hingga kecepatan 1600 kaki per detik. Ku bidik sasaran yang berada di depan. Dalam hal membidik harus memiliki kemampuan khusus, kebanyakan orang melihat dengan menggunakan mata yang dominan. Tidak ada peluru yang meleset satu pun ketika aku menembaknya.


"Kemampuanmu sudah bagus, untuk apa kau terus berlatih?" tanya Paman Tua. Aku hanya tersenyum tanpa mau menjawab. Aku menyerahkan pistol itu pada Thian.


"Mungkin kau perlu berlatih." Thian terkekeh, mencoba menembak. Satu peluru meleset, aku yang melihat itu menatapnya tidak percaya.


"Jangan salahkan aku, kau memang lebih pantas menjadi ketua," kata Thian.


Dua jam setelah berlatih, kami berbincang sekilas mengenai perusahaan. Paman tua menerima telepon dari bibi sehingga membuatnya pergi lebih dulu. Kini aku bersama Thian berdiri di depan mobilku.


"Kau bisa memberitahuku tentang wanita itu?" tanya Thian. Wanita yang dimaksud Thian adalah ibu Sean. Aku memberitahunya bahwa aku merawat seorang anak kecil bersama Kenneth. Ekspresi yang Thian berikan membuatku gemas ingin memukulnya.


"Aku pikir wanita itu adalah ibu Sean, maka dari itu aku memintamu untuk merawatnya." Thian menganggukkan kepala. Aku langsung masuk ke mobil, melesat membelah jalan. Hari ini Kenneth menitipkan Sean padaku. Lebih baik aku membeli sesuatu di minimarket.


Aku merasa ada seseorang yang mengikutiku sejak pagi. Entahlah mungkin hanya firasat ku saja, tunggu dulu, ada sesuatu yang salah? Mengapa mobilku tidak bisa berhenti. Ponselku berdering, aku langsung mengenakan handsfree.


"Hallo?"


"Cepat, aku harus pergi. Kau dimana?"


"Ken? Maaf sepertinya rem mobilku blong, aku tidak bisa menghentikannya."


"Apa? Bagaimana bisa?! Kau menuju kemana? Aku akan mengejarmu."


"Sepertinya aku akan ke jalan luxem, di jalan raya terlalu banyak kendaraan lain."


"Jangan putuskan sambungannya, aku akan segera ke sana."


Apa yang sebenarnya terjadi? Sewaktu berangkat tidak ada yang salah dengan mobilku. Apa benar ada orang yang mengikutiku lalu dengan sengaja menyabotase? Terlalu banyak pertanyaan, sekarang aku bingung harus melakukan apa. Aku tidak ingin membahayakan kendaraan lain, dan tidak ingin mengambil resiko sendiri.


"Sasha dengar, bagaimanapun caranya lakukan supaya laju mobilmu lambat, aku takut tidak bisa mengejarmu."


"Oh tidak, di depan ada truk yang berhenti. Di depannya ada sebuah mobil lagi, aku harus mengambil resiko."


"Sasha dengar jangan lakukan it–" Kenneth menghentikan perkataannya ketika mobilku menabrak truk yang bermuatan gandum.


Keningku menghantam stir mobil, perlahan darah segar menetes. Aku berusaha untuk keluar dari mobil, tapi sepertinya kuncinya tidak bisa di buka. Bagaimana ini? Aku tidak bisa terus sadar, penglihatanku mulai memburam. Aku berusaha untuk menekan tombol di sampingku, namun kekuatanku sudah berkurang.


Ketika itu, yang aku lihat semuanya menjadi gelap. Samar-samar terdengar suara memanggil namaku.


Aku mempercepat laju mobil ketika mengetahui Sasha tidak bisa dikendalikan. Aku menyuruhnya untuk segera ke villa, malah pergi entah kemana. Selama dua hari ini aku akan kembali ke rumah, sudah beberapa minggu ini aku tidak pulang. Bahkan aku pulang karena ibu yang memintaku.


Dalam hati aku terus berdoa, berharap tidak terjadi apapun pada Sasha. Saat aku mendengar dentuman keras, ternyata Sasha mengambil resiko. Aku yang melihat mobil Sasha langsung menepikan mobil, keluar menghampiri Sasha.


"Sasha! Sasha! Kau bisa mendengarku?!" Aku mengetuk pintu kaca mobil. Aku berusah untuk membuka pintu, tapi sepertinya terkunci. Jika aku memecahkan kaca, Sasha pasti akan terluka parah.


Aku sangat bingung di situasi ini. Aku mencari sesuatu yang dapat mencongkel pintu. Sekuat tenaga aku membuka pintu yang pada akhirnya berhasil terbuka. Aku menyingkirkan rambut Sasha yang menutupi wajah.


Aku langsung membopongnya keluar, segera pergi ke rumah sakit. Semoga saja keadaan Sasha baik-baik saja, aku terus saja berdoa selama perjalanan.


Menurutku ada seseorang yang sengaja menyabotase mobil Sasha, tapi siapa orang itu? Bukankah selama ini Sasha tidak memiliki musuh? Atau ini ulah dari orang-orang yang membenciku? Terlalu banyak pertanyaan di benakku.


Sesekali mataku melirik ke arah Sasha yang berada di sampingku dengan mata terpejam. Aku segera membawanya ke dalam rumah sakit setelah sampai. Selama pemeriksaan, aku menunggunya di luar.


Melihat dokter yang keluar ruangan, aku langsung bertanya mengenai kondisi Sasha. Aku baru bisa bernafas lega ketika dokter mengatakan tidak ada luka yang serius.


Mata tajam yang biasa mengarah padaku kini tertutup rapat. Aku menggenggam tangan Sasha, menggumamkan kata maaf bertubi-tubi. Aku merasa ini adalah salahku. Aku yakin orang yang melakukan ini berada di sekitarku.


"Hayden, tolong pastikan siapa yang terlibat dalam kejadian ini." Aku memutuskan untuk mencari tahu siapa orang yang berani melukai Sasha.


"Baik-baik aku akan memberikan kabar padamu beberapa saat lagi."


Perlahan mata Sasha terbuka, aku langsung memeluknya. Sedangkan Sasha hanya diam, bahkan tidak menunjukkan pergerakan. Aku menatapnya yang tengah melamun.


"Sasha, apa ada sesuatu?" tanyaku. Sasha menoleh ke arahku, aku terkejut mendapat pelukan Sasha secara tiba-tiba. Mungkin dia baru menyadari kehadiranku. Aku mengusap punggungnya ketika dia menangis, tunggu, menangis?


"Sasha, apa kau menangis? Adakah sesuatu yang membuatmu sakit?" tanyaku sembari memegang kedua bahunya.


"Aku sangat takut jika tidak bisa membuka mata." Aku mengacak rambutnya pelan. Siapa yang tahu bahwa pernyataan Sasha terdengar konyol?


Ponselku berdering, tertera nama Hayden. Aku mengangkatnya dengan sedikit menjauh dari Sasha. Aku memutuskan panggilan setelah mengetahui siapa dalang dibalik semua ini.


"Sasha, aku ada urusan. Hayden akan ke sini dalam beberapa waktu." Aku mencium keningnya sebelum benar-benar pergi. Aku tidak akan mengampuni siapapun yang menyakitimu. Kau sangat berharga bagiku, Alexandra Felister.


"Ken?!" panggil Sasha yang membuatku berhenti membuka pintu. Aku membalikkan badan, menunggu perkataan Sasha selanjutnya.


"Hati-hati...," ucapnya lirih. Aku tersenyum dan mengangguk. Hanya sekadar dua kata, tapi bisa membuatku tersenyum.


Aku melihat Hayden yang berjalan di lobby, aku menyuruhnya untuk menjaga Sasha dari luar. Bahkan tidak boleh menyentuhnya seujung kuku. Posesif? Biarkan saja, aku tidak ingin siapapun mendekati Sasha kecuali aku, Kenneth Anderson.


'Jessy! Aku akan membalas perbuatanmu, beraninya mengganggu wanitaku.' Aku berucap dalam hati ketika berada di dalam mobil. Dari awal pemikiranku sudah tertuju padanya. Wanita rubah pembawa petaka. Siapapun tidak ada yang ingin menikah dengannya.